Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - SMA Nasional KPS Balikpapan resmi menyandang status Sekolah Unggul Garuda Transformasi (SUGT) pada akhir Mei 2026. Dari 30 sekolah yang lolos seleksi secara nasional, SMA Nasional KPS menjadi satu-satunya sekolah di Pulau Kalimantan yang berhasil meraih status prestisius tersebut.
Kepala SMA Nasional KPS Balikpapan, Noor Yanti Aziza menjelaskan, predikat SUGT bukan diberikan secara instan, melainkan melalui proses seleksi ketat berbasis rekam jejak sekolah, capaian prestasi, hingga rekomendasi dari Dinas Pendidikan.
"SUGT adalah sekolah yang sudah ada, kemudian diseleksi berdasarkan track record sekolah dan rekomendasi dari dinas. Di 2026 ini, hanya ada 30 sekolah di Indonesia yang lolos dan Kalimantan hanya satu, yaitu SMA Nasional KPS," ucap Anti sapaannya, Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, status tersebut semakin menguatkan visi sekolah yang sejak awal berdiri telah diarahkan untuk menjadi sekolah unggul, rujukan nasional, dan berjejaring internasional.
Meski tergolong baru karena berdiri pada 2022 dan baru dua kali meluluskan siswa, SMA Nasional KPS telah mengantarkan sejumlah alumni menembus perguruan tinggi dunia melalui berbagai jalur beasiswa.
"Angkatan pertama kami sudah ada empat siswa yang kuliah di luar negeri. Satu di antaranya memperoleh Beasiswa Garuda dan diterima di 13 kampus dunia sebelum akhirnya memilih kuliah di Nanyang Technological University (NTU) Singapura. Tiga lainnya mendapat beasiswa ke Hong Kong, Tiongkok, dan Australia," katanya.
Keberhasilan ini disokong oleh rancangan sembilan program unggulan yang terbagi dalam peta jalan atau roadmap berjangka panjang.
Pada fase pertama mulai 2022-2026, sekolah fokus membangun fondasi yang kuat secara holistik melalui penguatan karakter religius nasionalis, integrasi Kurikulum Merdeka dengan benchmark internasional Pearson dari Inggris, serta pemetaan potensi siswa untuk ajang olimpiade dan ekstrakurikuler.
Di samping itu, siswa dibekali pengembangan karakter berupa soft skills dan keterampilan hidup, kolaborasi internasional melalui pertukaran pelajar, hingga fasilitasi sertifikasi internasional untuk penguasaan Bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, dan Jerman.
Seluruh program tersebut dilengkapi dengan penguatan sekolah berbasis riset atau Living Lab, persiapan terpadu menuju PTN dan sekolah kedinasan, hingga pendampingan khusus menuju Perguruan Tinggi Luar Negeri beserta program international internship.
"Kami memang menyiapkan anak-anak agar siap bersaing di tingkat internasional. Penguasaan bahasa asing dan program persiapan terarah menjadi salah satu kunci penting untuk membuka peluang beasiswa," jelasnya.
Anti menambahkan, setelah berhasil membangun fondasi pada fase pertama, kini SMA Nasional KPS bersiap melangkah ke fase kedua pada 2026-2030.
Pada periode ini, sekolah menargetkan penguatan dan akselerasi sembilan program unggulan dengan menitikberatkan porsi utama pada pengembangan bidang riset.
Melalui skema Living Lab, sekolah menjadikan lingkungan dan isu lokal sebagai laboratorium hidup untuk melahirkan inovasi berskala global.
SMA Nasional KPS bahkan merangkul peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkritisi proposal yang sudah disusun siswa di bawah pengawasan guru pembimbing.
Pembinaan ini melahirkan berbagai inovasi, seperti Juara I dan III Lomba Krenova Kota Balikpapan lewat produk penyaring mikroplastik sabut kelapa dan sampo herbal karamunting, medali perak OPSI, hingga kelolosan siswa mewakili Indonesia di tingkat internasional.
"Penelitian yang dikerjakan siswa bukan sekadar memenuhi tugas sekolah, tetapi benar-benar disiapkan agar bisa bersaing di tingkat nasional bahkan internasional," tegasnya.
Selain riset, sekolah juga memfasilitasi siswa dan orang tua untuk diberi ruang dengan dispensasi agar dapat mengikuti lomba dengan maksimal pada minat non-akademik seperti golf, menembak, basket, taekwondo, renang, hingga triathlon juga terus diasah secara berkelanjutan.
Nilai tambah lain yang memperkuat posisi sekolah ini adalah jejaring internasional yang luas. Sebagai Ketua Global Teacher's Club yang melibatkan pendidik dari lebih 76 negara di enam benua, Anti memanfaatkan jejaring tersebut untuk menghadirkan kolaborasi nyata, seperti International Ramadan Collaboration yang mempertemukan peserta dari tujuh negara.
"Bahkan ada sesi pelafalan Surah Al-Fatihah bersama peserta dari Palestina. Itu menjadi pengalaman yang sangat berkesan bagi siswa kami. Kami ingin menunjukkan bahwa internasionalisasi di sekolah bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar berjalan. Anak-anak kami tidak hanya belajar akademik, tetapi juga etika internasional dan budaya luar," tambahnya.
Selaras dengan status SUGT, para siswa nantinya berhak mendapat pengayaan pembelajaran gratis dari pemerintah serta akses seleksi Beasiswa Garuda menuju kampus top dunia untuk kemudian masuk dalam manajemen talenta nasional.
Namun di balik sederet prestasi tersebut, Anti menegaskan bahwa perlombaan bukanlah tujuan utama.
"Prestasi itu sebenarnya hanya validasi dari apa yang kami lakukan. Kami tidak bekerja untuk lomba. Lomba itu hanya menjadi ukuran apakah program yang kami jalankan sudah benar atau belum. Ketika dilombakan ternyata menang, berarti programnya sudah berada di jalur yang tepat," tuturnya.
Ia menilai tantangan terbesar setelah berbagai pencapaian diraih justru terletak pada konsistensi dan pembentukan karakter.
"Yang paling sulit justru mempertahankan karakter. Prestasi bisa diraih, tetapi menjaga karakter anak-anak dan menjaga ritme sekolah agar tetap sehat itu jauh lebih sulit. Kami juga harus menjaga ritme kerja guru agar tidak mengalami burnout," katanya.
Proses pembentukan karakter itu pun terpancar nyata dalam keseharian sekolah. Di tengah-tengah sesi wawancara, Anti terlihat tetap sibuk memantau dinamika pemilihan ketua OSIS melalui diskusi bersama guru Tata Usaha (TU).
Meski diwarnai dinamika politik siswa, pihak sekolah memilih tidak mengintervensi dan membiarkan proses demokrasi berjalan sesuai petunjuk teknis agar siswa belajar kepemimpinan secara alami.
Karakter dan reputasi pembelajaran inilah yang membuat pendaftar melonjak tajam. Kuota Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 sebanyak 120 siswa yang terdiri dari 56 siswa laki-laki dan 64 siswa perempuan dari 24 sekolah asal di Balikpapan, bahkan sudah terpenuhi jauh sebelum pengumuman status SUGT diterbitkan.
"Tahun ini kuota kami 120 siswa. Pengumuman Sekolah Garuda baru bulan Juni, tetapi sejak November tahun lalu kuota kami sudah penuh," ungkapnya.
Melihat tingginya minat tersebut, sekolah yang dulunya menerima siswa tanpa seleksi kini bersiap menerapkan kriteria seleksi yang lebih ketat pada tahun-tahun mendatang.
Anti berharap keberhasilan SMA Nasional KPS dapat memberikan dampak luas bagi dunia pendidikan.
"Mudah-mudahan visi sekolah kami sebagai sekolah unggul, rujukan, dan internasional tidak hanya memberi manfaat bagi siswa SMA Nasional KPS, tetapi juga bagi Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, bahkan Indonesia. Kami ingin ikut berkontribusi mencetak generasi unggul yang siap bersaing di tingkat global," pungkasnya.


