‘Jangan Menyakiti Masyarakat’, Jejak AKBP Ruslaeni, Anak Petani Tambak yang jadi Nakhoda Polres Nunukan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
6 menit baca
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

‘Jangan Menyakiti Masyarakat’, Jejak AKBP Ruslaeni, Anak Petani Tambak yang jadi Nakhoda Polres Nunukan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
6 menit baca
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)
Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

‘Jangan Menyakiti Masyarakat’, Jejak AKBP Ruslaeni, Anak Petani Tambak yang jadi Nakhoda Polres Nunukan

Kapolres Nunukan AKBP Ruslaeni (Foto: Diansyah/pusaranmedia.com)

Oleh Diansyah, Wartawan Pusaranmedia.com

SUARA ombak dan hamparan tambak udang menjadi bagian dari masa kecil AKBP Ruslaeni.

Jauh sebelum mengenakan seragam cokelat dan memimpin Kepolisian Resor Nunukan, ia hanyalah anak seorang petani tambak di Tarakan yang tumbuh dalam kesederhanaan.

Lahir di Tarakan dari pasangan almarhum H Nurdin dan Hj Nursiah, Ruslaeni merupakan anak keempat dari enam bersaudara.

Kedua orangtuanya hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, tetapi memiliki tekad besar agar seluruh anaknya dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Bagaimana kisah AKBP Ruslaeni, berikut ulasan selengkapnya.

Di ruang kerjanya di Mapolres Nunukan, sederet tanda kehormatan dan atribut kepolisian terpajang rapi. Seragam cokelat dengan dua melati emas di pundak menjadi simbol perjalanan panjang yang telah ditempuh AKBP Ruslaeni.

Namun jika waktu diputar puluhan tahun ke belakang, maka kisahnya tidak dimulai dari ruang-ruang perwira ataupun barisan taruna Akademi Kepolisian.

Perjalanan itu bermula dari sebuah rumah sederhana di Tarakan. Di sana, seorang anak petani tambak tumbuh dari keluarga Bugis yang menggantungkan hidup dari tambak udang dan ikan.

Tak ada latar belakang keluarga pejabat. Tidak pula berasal dari keluarga besar polisi. Ayah dan ibunya hanya lulusan sekolah dasar. Namun, dari tangan merekalah lahir sebuah keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan.

"Orang tua saya petani tambak. Alhamdulillah, meskipun hanya lulusan SD, mereka bisa menyekolahkan semua anak-anaknya," tutur Ruslaeni dengan penuh kebangaan menggambarkan sosok hebat kedua orang tuanya.

Masa kecilnya dihabiskan seperti kebanyakan anak pesisir Tarakan. Ia bersekolah di SD Negeri 031, kemudian melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 4 Tarakan dan SMA Hang Tuah Tarakan.

Tidak ada yang istimewa. Hingga suatu hari, ketika masih kecil, ibunya mengajaknya melihat sebuah kapal yang bersandar di Tarakan. Namanya Dewa Ruci. 

Di atas kapal layar legendaris milik TNI Angkatan Laut itu, berdiri para taruna dengan seragam putih yang tampak gagah dan penuh wibawa. Pemandangan singkat itu ternyata membekas begitu lama.

"Saya waktu kecil diajak ibu melihat Kapal Dewa Ruci. Dari situ muncul keinginan menjadi taruna. Waktu itu saya belum tahu mau Akpol atau Akmil. Yang penting saya ingin menjadi taruna," ucap pria berkacamata itu.

Impian itu terus ia simpan hingga dewasa. Selepas SMA pada 2003, Ruslaeni bersiap mengejar cita-citanya. Awalnya ia ingin mengikuti seleksi Akademi Militer.

Namun, jadwal seleksi bertepatan dengan pelaksanaan Ujian Nasional pertama yang menggunakan sistem standar kelulusan nasional. Ia memilih mengutamakan sekolah.

Kesempatan berikutnya datang melalui seleksi Akademi Kepolisian. Dengan modal semangat dan keberanian, ia mengikuti seluruh tahapan. Namun hasilnya mengecewakan. Ia gagal masuk dalam sekolah perwira Bhayangkara.

"Kami masih awam. Saya juga bukan berasal dari keluarga polisi. Kakak saya memang anggota Polri, tetapi waktu itu masih Briptu. Kami belum memahami bagaimana proses seleksi Akpol," ucapnya.

Kegagalan itu membuat orang tuanya sedikit khawatir. Mereka menyarankan agar anaknya mengikuti seleksi Bintara Polri saja. Saat itu, seleksi Bintara sudah tersedia di Tarakan melalui Sub Panda sehingga peluangnya dinilai lebih besar dibanding harus bersaing dalam seleksi Akpol di Balikpapan.

Namun Ruslaeni belum siap menyerah. Ia meminta satu kesempatan lagi.

"Saya bilang kepada orang tua, beri saya satu kesempatan lagi. Kalau saya gagal, saya akan mengikuti apa pun keputusan orang tua," tuturnya menyakinkan kedua orangtuanya saat itu.

Kalimat sederhana itu menjadi titik balik hidupnya. Pada seleksi tahun 2004, ia kembali berangkat ke Balikpapan. Persaingan tidak ringan. Sekitar 150 peserta mengikuti seleksi, yang diterima hanya empat orang.

Ruslaeni menjadi satu-satunya peserta asal wilayah Kalimantan Utara yang berhasil lolos. Saat itu Kalimantan Utara belum menjadi provinsi. Seluruh kuota masih bergabung dengan Kalimantan Timur.

"Banyak anak-anak Kaltara dulu minder ikut seleksi. Informasi juga belum sebanyak sekarang," ucapnya.

Tahun 2007, ia resmi dilantik sebagai perwira Polri. Mimpi masa kecilnya akhirnya terwujud. Penugasan pertama langsung membawanya jauh dari kampung halaman. Yakni Papua.

Ia ditempatkan di Polres Jayapura, kemudian berlanjut tugas di Polres Biak Numfor hingga tahun 2014.

Papua memberinya pelajaran yang tidak mungkin diperoleh di ruang kelas. Ia belajar memahami masyarakat dengan karakter budaya yang kuat. Belajar bahwa menjadi polisi bukan sekadar menjalankan aturan, melainkan juga menghormati adat dan kebiasaan masyarakat.

"Orang Papua sebenarnya baik-baik yang menjadi persoalan kalau sudah dipengaruhi minuman keras," ucapnya.

Menurutnya, stigma tentang Papua sering kali tidak sepenuhnya benar. Di wilayah perkotaan, kehidupan masyarakat berjalan normal. Masyarakat tetap bekerja, bersekolah, dan menjalani aktivitas seperti daerah lain di Indonesia.

Aktivitas kelompok bersenjata lebih banyak berada di wilayah pedalaman. Sementara di kota, dinamika yang muncul lebih banyak berupa aksi-aksi politik maupun demonstrasi pada momentum tertentu.

Selama bertugas di Papua, Ruslaeni mengaku memperoleh pengalaman yang membentuk cara pandangnya sebagai seorang polisi. Ia belajar bahwa pendekatan kemanusiaan sering kali jauh lebih efektif dibanding sekadar mengedepankan kewenangan.

Usai menjalani pendidikan pengembangan pada 2014 dan lulus pada 2015, Ruslaeni kembali ke Kalimantan.

Kala itu Polda Kalimantan Utara belum terbentuk. Ia ditempatkan di Polda Kalimantan Timur. Kariernya terus menanjak. Pada 2016 ia dipercaya menjadi Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Malinau.

Setahun kemudian dipercaya mengemban jabatan yang sama di Polresta Balikpapan. Saat Polda Kalimantan Utara resmi berdiri pada 2018, Mabes Polri mengeluarkan kebijakan memanggil putra-putra daerah yang sedang bertugas di Kalimantan Timur untuk memperkuat organisasi baru tersebut.

Ruslaeni termasuk di dalamnya. Ia kembali ke tanah kelahirannya. Di Polda Kalimantan Utara, ia dipercaya menangani Tindak Pidana Korupsi pada Direktorat Reserse Kriminal Khusus.

Selama hampir lima tahun, ia berkutat dengan berbagai penanganan perkara korupsi hingga akhirnya mendapat kesempatan mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri pada 2023.

Usai lulus Sespim, Ruslaeni dimutasi ke Polda Kepulauan Riau. Wilayah ini memiliki karakter yang sangat berbeda. Jika Papua menghadirkan tantangan geografis dan sosial, Kepulauan Riau menghadirkan tantangan perdagangan internasional.

Ia dipercaya menjadi Staf Pribadi Pimpinan Kapolda Kepulauan Riau. Setelah itu dipercaya menjadi Kasubdit Industri dan Perdagangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Di jabatan inilah namanya cukup dikenal. Banyak penanganan perkara terkait perdagangan, distribusi barang, ekspor-impor, hingga perlindungan konsumen yang menjadi tanggung jawabnya.

Kepulauan Riau merupakan salah satu gerbang perdagangan Indonesia karena berbatasan langsung dengan Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Laut Cina Selatan.

Hampir sebelas bulan bertugas di bidang tersebut, ia kembali mendapat amanah baru sebagai pejabat di Direktorat Reserse Narkoba Polda Kepulauan Riau.

Belum genap setengah tahun, telegram dari Mabes Polri kembali datang. Kali ini perintahnya sederhana. Pulang.

Ia dipercaya menjadi Kapolres Nunukan. Sebuah kabupaten yang menjadi beranda utara Indonesia sekaligus wilayah strategis perbatasan dengan Malaysia.

Di balik semua pencapaian itu, Ruslaeni mengaku selalu membawa satu pesan yang diberikan ayahnya ketika ia resmi menjadi anggota Polri. Pesan itu lahir dari pengalaman yang tidak pernah dilupakan keluarganya. Suatu ketika, sang ayah pernah mengangkut kayu untuk membangun rumah.

Alih-alih mendapat perlakuan yang baik, ia justru merasa dipersulit oleh oknum aparat yang mencari-cari kesalahan agar memperoleh sesuatu. Pengalaman itulah yang melahirkan sebuah nasihat sederhana.

"Jangan sekali-kali menyakiti masyarakat"

Kalimat itu terus diingat Ruslaeni hingga sekarang. Bukan sekadar slogan. Melainkan prinsip hidup yang selalu ia bawa dalam setiap penugasan. Baginya, seorang polisi memang memiliki kewenangan. Namun kewenangan itu harus digunakan untuk melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat. Bukan sebaliknya.

"Sampai hari ini itu yang selalu saya pegang. Jangan menyakiti hati masyarakat," kenangnya.

Di tengah tantangan wilayah perbatasan yang kompleks, mulai dari penyelundupan, perdagangan lintas negara, narkotika, hingga perlindungan warga, prinsip itulah yang menjadi fondasi kepemimpinannya di Polres Nunukan.

Karena bagi AKBP Ruslaeni, jabatan hanyalah amanah, yang akan selalu diingat masyarakat bukanlah pangkat yang dikenakan, melainkan bagaimana seorang polisi memperlakukan rakyatnya. Dan semua itu bermula dari pesan sederhana seorang ayah petani tambak kepada anaknya yang kini menjadi seorang Kapolres Nunukan.