Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali terjadi di Kabupaten Berau.
Kali ini, api muncul di empat titik berbeda dalam waktu hampir bersamaan di kawasan Trans Bangun, Kampung Sei Bebanir Bangun, Kecamatan Sambaliung, Jumat (7/8/2026).
Berdasarkan laporan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Berau, kebakaran pertama kali dilaporkan sekitar pukul 13.45 WITA. Petugas kemudian bergerak melakukan penanganan mulai pukul 14.15 WITA hingga 21.15 WITA.
Kepala Pelaksana BPBD Berau, Masyhadi Muhdi menginstruksikan jajaran untuk segera melakukan pemadaman setelah menerima laporan kejadian.
Penanganan kemudian dikoordinasikan melalui bidang kedaruratan dan logistik dengan mengerahkan personel TRC-PB ke lokasi.
Empat titik kebakaran tersebut berada di kawasan yang masih satu wilayah. Titik pertama berada di lahan dekat permukiman Pasar Senja Trans Bangun dengan luas terbakar sekitar satu hektare.
Titik kedua berada di Jalan Bendungan Trans Bangun dengan luasan sekitar dua hektare dan didominasi semak belukar.
Sementara titik ketiga juga berupa kawasan semak belukar dengan luas terbakar sekitar satu hektare.
Adapun titik keempat berada di lahan atau kebun milik masyarakat dengan luasan sekitar satu hektare.
Dengan demikian, total lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar lima hektare.
“Penyebab kebakaran belum diketahui. Kondisi cuaca yang panas disertai angin kencang diduga menjadi faktor yang membuat api mudah berkembang dan menyulitkan proses pemadaman,” ucapnya,
Dalam penanganan di lapangan, BPBD Berau tidak bekerja sendiri. Personel Manggala Agni, Polsek Sambaliung, Koramil Sambaliung, Kepala Kampung Sei Bebanir Bangun beserta perangkat kampung, ketua RT, hingga masyarakat turut membantu proses pemadaman dan pendinginan.
BPBD Berau mengerahkan dua unit mobil pengendalian kebakaran hutan dan lahan, dua unit peralatan, serta satu kendaraan operasional Hilux.
Manggala Agni juga menurunkan satu unit kendaraan beserta peralatan Water Rex untuk mendukung upaya pemadaman.
Namun, proses penanganan menghadapi sejumlah kendala. Kondisi lahan yang berupa semak belukar dan gambut membuat api lebih sulit dikendalikan.
“Keterbatasan armada pemadam juga menjadi kendala kami di lapangan, akses menuju sejumlah titik yang sulit, serta minimnya penerangan saat malam hari turut menghambat petugas,” ujarnya.
BPBD juga menemukan terdapat lokasi yang berada cukup jauh ke dalam dan tidak dapat dijangkau kendaraan maupun petugas untuk dilakukan pemadaman secara langsung. Meski demikian, tim gabungan tetap melakukan pemadaman dan pendinginan pada area yang dapat dijangkau guna mencegah api kembali membesar dan meluas.
“Tidak ada laporan korban terdampak dalam kejadian tersebut. Kami bersama unsur terkait terus melakukan penanganan di lapangan dan mengantisipasi potensi munculnya titik api baru di sekitar kawasan Trans Bangun,” tambahnya.


