Banner ADV

DPRD Bontang Dorong Edukasi HIV/AIDS Diperluas ke Sekolah dan Kelompok Berisiko

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DPRD Bontang Dorong Edukasi HIV/AIDS Diperluas ke Sekolah dan Kelompok Berisiko

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)
Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

DPRD Bontang Dorong Edukasi HIV/AIDS Diperluas ke Sekolah dan Kelompok Berisiko

Anggota DPRD Kota Bontang, Saeful Rizal (Dok:Lutfi Aziz/Pusaranmedia.com)

Reporter : Lutfi Aziz | Editor : Buniyamin

BONTANG - Anggota DPRD Bontang, Saeful Rizal mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) memperluas edukasi dan pencegahan HIV/AIDS menyusul ditemukannya 260 kasus di 2026 ini.

Menurut Saeful, penanganan HIV tidak cukup hanya dilakukan melalui layanan pengobatan terhadap masyarakat yang telah teridentifikasi terinfeksi.

Upaya pencegahan harus diperkuat dengan memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pola hidup sehat, perilaku berisiko, serta cara penularan HIV.

“Lonjakan data kasus HIV tidak boleh dipandang sebelah mata. Intervensi pencegahan sejak dini diperlukan agar angka penularan tidak terus merangkak naik hingga akhir tahun,” ungkapnya, Sabtu (8/8/2026).

Ia menilai kelompok usia produktif perlu menjadi salah satu sasaran utama dalam program edukasi. Sebab, pemahaman mengenai HIV dan faktor risiko penularannya harus diberikan secara tepat agar masyarakat mampu mengambil langkah pencegahan sejak dini.

Saeful juga meminta Dinkes tidak hanya menyasar fasilitas kesehatan dalam menjalankan sosialisasi. Edukasi dinilai perlu diperluas ke lingkungan pendidikan maupun tempat-tempat yang memiliki tingkat risiko penularan lebih tinggi.

“Dinkes perlu memperluas jangkauan edukasi ke tempat-tempat berisiko dan lembaga pendidikan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan promotif dan preventif harus menjadi bagian penting dalam strategi penanggulangan HIV/AIDS di Kota Bontang.

Sosialisasi yang dilakukan secara rutin dan terpadu dinilai dapat membantu masyarakat memahami bahaya perilaku berisiko sekaligus mengurangi stigma terhadap orang dengan HIV.

Saeful menegaskan, penanganan HIV merupakan tanggung jawab bersama dan tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada pemerintah maupun tenaga kesehatan.

Ia mendorong adanya sinergi lintas sektor antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, keluarga, serta masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan.

“Dengan sinergi yang kuat antara kebijakan pemerintah, pengawasan kolektif, dan kepedulian warga, angka penularan HIV di Kota Taman dapat ditekan secara signifikan,” pungkasnya. (Adv)