Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Posyandu selama ini identik dengan penimbangan balita dan pemeriksaan kesehatan dasar. Namun, konsep tersebut diperluas melalui Program Warga Siaga Sehat (WASIAT) yang dikembangkan PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan.
Melalui program tersebut, Posyandu di Kelurahan Baru Ilir, Kota Balikpapan, dan Desa Girimukti, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), dikembangkan menjadi pusat pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan kesehatan, pangan, lingkungan hingga penguatan ekonomi warga.
Transformasi tersebut mengantarkan Program WASIAT meraih predikat Silver kategori Health Quality Improvement dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2026 yang digelar di Swiss-Belhotel Solo belum lama ini.
ISRA 2026 mengusung tema "Catalyzing Collective Change for Scalable Impact" dan memberikan 99 penghargaan kepada 89 perusahaan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Program WASIAT berangkat dari pemetaan sosial yang menunjukkan pelayanan Posyandu masih banyak berfokus pada penimbangan balita dan pemeriksaan kesehatan dasar.
Di sisi lain, kapasitas kader dalam memberikan edukasi promotif dan preventif masih perlu diperkuat. Pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan bergizi juga belum optimal, sementara menu Pemberian Makanan Tambahan (PMT) masih terbatas.
Melalui WASIAT Sejahtera 51 di Kelurahan Baru Ilir dan WASIAT Dewi Shinta di Desa Girimukti, Pertamina RU Balikpapan kemudian mengembangkan Posyandu menjadi pusat penguatan kesehatan keluarga berbasis komunitas.
Program tersebut mengintegrasikan peningkatan kapasitas kader, urban farming, hidroponik, budidaya ikan air tawar, pengelolaan sampah organik, Tanaman Obat Keluarga (TOGA), diversifikasi PMT, edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), hingga pengembangan UMKM perempuan.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Refinery Unit Balikpapan, Dodi Yapsenang, mengatakan masyarakat ditempatkan sebagai penggerak utama dalam pelaksanaan program.
"WASIAT tidak dibangun dengan menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima bantuan. Para kader dan kelompok perempuan terlibat dalam mengidentifikasi kebutuhan, menjalankan kegiatan, hingga mengevaluasi program," ujar Dodi dalam keterangan rilisnya, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, Pertamina hadir untuk mendampingi, memperkuat kapasitas masyarakat, serta menghubungkan kelompok warga dengan berbagai pemangku kepentingan.
Seluruh kegiatan dalam WASIAT juga dirancang dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Hasil pertanian dan perikanan dimanfaatkan sebagai sumber pangan keluarga, bahan produk UMKM, sekaligus bahan menu PMT.
Sementara itu, sampah organik diolah menjadi pupuk untuk urban farming dan kebun TOGA. Sebagian keuntungan dari kegiatan usaha kelompok kemudian digunakan kembali untuk mendukung kegiatan kesehatan.
Program tersebut telah mendukung renovasi dua Posyandu beserta penambahan sarana pendukungnya. Edukasi gizi yang sebelumnya belum berjalan rutin kini dilaksanakan minimal satu kali setiap bulan.
Menu PMT juga semakin beragam dengan memanfaatkan hasil produksi kelompok, seperti nugget dan dendeng ikan lele.
WASIAT Sejahtera 51 memberikan PMT setiap minggu kepada 32 anak yang terindikasi stunting. Sementara WASIAT Dewi Shinta menjangkau 14 anak di sekitar wilayah program.
Pembiayaan kegiatan tersebut mulai didukung dari kas kelompok yang berasal dari keuntungan UMKM dan hasil budidaya ikan.
Dampak program juga terlihat dari meningkatnya jangkauan penerima manfaat. Dari sebelumnya 94 orang, kini penerima manfaat WASIAT telah mencapai 985 orang.
Dari sisi ekonomi, WASIAT Sejahtera 51 menghasilkan sembilan produk olahan dengan omzet sekitar Rp4,4 juta per bulan. Sedangkan WASIAT Dewi Shinta mengembangkan lima produk dengan omzet sekitar Rp2,6 juta per bulan.
Pemanfaatan hasil produksi sendiri juga mampu menghemat sekitar 25-30 persen biaya bahan baku PMT dan produk UMKM.
Di Kelurahan Baru Ilir, masyarakat mengembangkan vertical garden pada area sekitar 394 meter persegi. Sementara di Desa Girimukti, kelompok mengelola 12 meja pembesaran dan dua meja pembibitan hidroponik untuk mendukung kebutuhan pangan keluarga sekaligus kegiatan usaha.
Tak hanya kesehatan dan ekonomi, WASIAT juga menyasar persoalan lingkungan.
WASIAT Sejahtera 51 mengelola sekitar 33,67 ton sampah organik per tahun melalui 37 unit Komposter Panca Wisma.
Pupuk yang dihasilkan kemudian dimanfaatkan kembali untuk urban farming dan kebun TOGA. Pengelolaan tersebut juga berkontribusi terhadap penurunan penggunaan pupuk kimia sekitar 1.924 kilogram per tahun.
Dodi mengatakan penghargaan Silver ISRA 2026 menjadi penyemangat untuk menjaga keberlanjutan program.
"Penghargaan ini merupakan apresiasi atas kerja bersama para kader, kelompok perempuan, masyarakat, pemerintah, Puskesmas, akademisi, dan seluruh pihak yang terlibat," katanya.
Namun, menurut dia, ukuran keberhasilan program bukan hanya penghargaan, melainkan ketika masyarakat mampu menjalankan kegiatan secara mandiri.
"Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah ketika kader semakin percaya diri, keluarga memperoleh pangan yang lebih bergizi, dan kegiatan kesehatan dapat terus berjalan dengan kekuatan masyarakat sendiri," tambah Dodi.
Melalui WASIAT, Posyandu tidak lagi hanya menjadi tempat pelayanan kesehatan dasar, tetapi berkembang menjadi ruang belajar, ruang produksi, sekaligus pusat pemberdayaan masyarakat.
Program tersebut juga mendukung pencapaian sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim.


