Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Potensi udang rebon di Kampung Buyung-Buyung, Kecamatan Tabalar, Kabupaten Berau mulai diarahkan untuk memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau melalui Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) mendorong pengembangan Rumah Terasi sebagai pusat pengolahan hingga pemasaran produk olahan berbahan baku hasil perikanan tersebut.
Kepala Diskoperindag Berau, Eva Yunita mengatakan keberadaan Rumah Terasi diharapkan tidak berhenti sebagai bangunan fisik.
Fasilitas tersebut diproyeksikan menjadi bagian dari rantai produksi yang mampu membantu masyarakat mengolah udang rebon menjadi produk bernilai jual, sekaligus memperkuat aktivitas usaha masyarakat setempat.
Menurutnya, fasilitas yang telah tersedia saat ini sebenarnya sudah dapat dimanfaatkan. Tapi, konsep Rumah Terasi dirancang sebagai kawasan produksi yang saling terintegrasi sehingga membutuhkan sejumlah ruang dengan fungsi berbeda.
“Bangunan yang ada saat ini sebenarnya sudah bisa beroperasi, tetapi karena sistem yang dibangun saling terintegrasi, masih diperlukan bangunan tambahan untuk menempatkan beberapa unit peralatan produksi,” ujar Eva.
Dalam konsep pengembangannya, Rumah Terasi nantinya tidak hanya digunakan untuk proses produksi. Sejumlah fasilitas akan disiapkan untuk menunjang keseluruhan tahapan usaha, mulai dari pengeringan bahan, pengolahan, pengemasan hingga ruang galeri yang dapat digunakan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk kepada konsumen.
Pengembangan fasilitas tersebut menjadi penting karena selama ini potensi udang rebon di Buyung-Buyung memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk unggulan kampung.
Dengan pengolahan yang lebih baik, komoditas yang sebelumnya memiliki nilai jual terbatas diharapkan dapat menghasilkan produk turunan dengan nilai ekonomi lebih tinggi.
Namun, pengembangan Rumah Terasi tidak dapat dilakukan sekaligus.
Eva mengungkapkan, usulan penambahan anggaran untuk pembangunan satu bangunan pendukung pada 2027 harus dicoret sebagai dampak efisiensi anggaran.
Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu mengatur kembali tahapan pembangunan tanpa menghentikan pemanfaatan fasilitas yang sudah tersedia.
Diskoperindag pun akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kampung Buyung-Buyung agar bangunan yang telah tersedia dapat segera dimanfaatkan masyarakat.
Pemanfaatan secara bertahap dinilai lebih baik daripada membiarkan fasilitas yang sudah dibangun tidak digunakan sembari menunggu kelanjutan pembangunan.
“Kalau sampai 2027 belum tersedia anggaran untuk melanjutkan pembangunan, kami akan berkomunikasi dengan kepala kampung agar bangunan yang ada sekarang bisa dimanfaatkan terlebih dahulu oleh masyarakat,” katanya.
Pengembangan Rumah Terasi sendiri merupakan program yang melibatkan sejumlah pihak. Pemerintah Kampung Buyung-Buyung berperan dalam menyiapkan lahan, sementara Universitas Mulawarman turut menyusun kajian kelayakan. Bank Indonesia juga dilibatkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok usaha sekaligus mendukung penyediaan peralatan.
Sementara itu, pemerintah daerah mengambil peran dalam pembangunan infrastrukturnya. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu membangun ekosistem usaha yang tidak hanya berorientasi pada produksi terasi, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk olahan lain serta memperluas akses pemasaran.
Diskoperindag menilai potensi tersebut perlu terus dikawal agar Rumah Terasi benar-benar memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat Buyung-Buyung.
Karena itu, optimalisasi fasilitas yang sudah tersedia menjadi langkah awal sembari menunggu kemampuan anggaran untuk melanjutkan pembangunan secara bertahap. (Adv)



