Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan masih menghadapi persoalan tingginya tingkat kekeruhan air baku akibat meningkatnya sedimen lumpur pasca banjir yang melanda Pulau Nunukan beberapa waktu lalu.
Kondisi tersebut membuat proses pengolahan air harus dilakukan lebih intensif agar kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat tetap dapat dikendalikan.
Kepala Bagian Teknik Perumda Air Minum Tirta Taka Nunukan, Rusdiansyah mengatakan tingkat kekeruhan air baku atau Nephelometric Turbidity Unit (NTU) sempat diperkirakan mencapai angka 1.000.
Namun, kata dia, angka tersebut perlu dicermati karena kondisi air yang sangat pekat dapat mempengaruhi pembacaan alat ukur.
“Kalau tingkat kekeruhan air baku sampai di angka 1.000-an NTU, alatnya bisa saja mengalami error karena kondisi air memang sangat keruh,” ujar Rusdiansyah.
Ia menjelaskan, persoalan utama saat ini berasal dari sedimen lumpur yang terus mengalami peningkatan. Sedimen tersebut harus dikeluarkan secara berkala dari sistem pengolahan agar tidak semakin mengganggu proses produksi air bersih.
Dalam kondisi normal, kegiatan pengolahan air lebih berorientasi pada produksi dan penyaluran kepada pelanggan. Tapi, tingginya sedimentasi membuat petugas saat ini harus lebih banyak melakukan pembuangan lumpur.
“Sedimen lumpur terus naik. Setiap dua jam sekali harus dibuang. Jadi sekarang teman-teman lebih banyak membuang sedimen daripada menyalurkan,” jelasnya.
Rusdiansyah menyebutkan, kondisi tersebut turut berdampak terhadap kualitas air baku yang masuk ke proses pengolahan.
Air yang memiliki tingkat kekeruhan tinggi membutuhkan penanganan lebih agar dapat memenuhi standar kualitas sebelum didistribusikan kepada pelanggan.
Meski demikian, Perumda Tirta Taka terus melakukan upaya maksimal untuk mempercepat proses pemulihan. Berdasarkan pemantauan terakhir, tingkat kekeruhan air baku menunjukkan tren penurunan.
“Semoga hari ini NTU sudah berada di angka 370-an,” katanya.
Selain persoalan kekeruhan, volume air yang harus melalui proses pengolahan juga mengalami penyesuaian. Dari kapasitas yang sebelumnya berada di kisaran 4.500, saat ini produksi berada di sekitar 3.000.
Penurunan tersebut dilakukan sebagai bagian dari penyesuaian terhadap kondisi air baku yang masih keruh.
Rusdiansyah menyampaikan permohonan agar masyarakat dapat bersabar selama proses penanganan berlangsung.
Ia memastikan petugas terus bekerja untuk mengembalikan kondisi pelayanan secara bertahap.
“Kami meminta masyarakat sedikit bersabar dengan kondisi ini. Kami akan terus memaksimalkan agar pelayanan kembali normal dan tidak ada lagi kondisi kekeruhan pada air baku,” tuturnya.
Perumda Tirta Taka menargetkan kondisi pelayanan dapat kembali normal dan stabil dalam satu hingga dua hari ke depan, seiring dengan menurunnya tingkat kekeruhan dan membaiknya kualitas air baku.
“Target satu sampai dua hari ini pelayanan sudah normal dan stabil serta kualitas air sudah kembali baik,” pungkasnya.


