Karhutla Kaltim Tembus 196 Titik, 71 Kejadian Terjadi dalam 10 Hari

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Karhutla Kaltim Tembus 196 Titik, 71 Kejadian Terjadi dalam 10 Hari

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Karhutla Kaltim Tembus 196 Titik, 71 Kejadian Terjadi dalam 10 Hari

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan. (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin

BALIKPAPAN - Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) menunjukkan peningkatan signifikan memasuki Agustus 2026. 

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim mencatat sebanyak 196 kejadian Karhutla sejak Januari hingga 10 Agustus 2026.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan mengatakan dari total kejadian tersebut, sebanyak 71 titik terjadi hanya dalam periode 1 hingga 10 Agustus 2026.

Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi perhatian karena terjadi ketika kondisi cuaca mulai memasuki periode yang lebih kering di sejumlah wilayah Kaltim.

"Yang kami himpun ini adalah data terjadinya kebakaran. Ada 196 titik dari mulai Januari sampai dengan 10 Agustus. Tetapi 71 itu ada di bulan, dari tanggal 1 sampai 10. Jadi memang peningkatannya luar biasa," kata Buyung Dodi usai Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Karhutla di Lapangan M Jasin Satbrimob Polda Kaltim, Balikpapan, Selasa (11/8/2026).

BPBD Kaltim, lanjut dia, terus melakukan pemantauan dan berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota serta seluruh unsur lintas sektor untuk mengantisipasi peningkatan Karhutla.

Meski terjadi peningkatan, hingga saat ini belum ada kabupaten/kota di Kaltim yang menetapkan status tanggap darurat Karhutla.

"Untuk kabupaten/kota, sampai saat ini belum menyatakan status tanggap darurat. Masih semuanya daerahnya siaga darurat," ujarnya.

Buyung Dodi menyebut empat wilayah yang saat ini menjadi perhatian utama karena masuk kategori rawan Karhutla, yakni Kabupaten Paser, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Timur (Kutim) dan Kutai Barat (Kubar).

Sementara Kabupaten Berau juga mulai menunjukkan peningkatan kejadian. Tapi, kondisi curah hujan di wilayah tersebut masih relatif membantu menekan risiko kebakaran.

"Terparah masih empat, Paser, PPU, Kutim, dan Kubar. Walaupun Berau juga ada peningkatan, tetapi karena data curah hujannya masih ada sedikit demi sedikit, kategorinya masih belum. Kemungkinan beberapa waktu bisa pindah ke kategori rawan," jelasnya.

Ia menegaskan, kondisi di empat wilayah tersebut perlu menjadi perhatian karena tingkat kerawanan sudah meningkat.

Dari sisi luasan, BPBD Kaltim belum menyampaikan angka total lahan yang terbakar. Namun, berdasarkan catatan sementara, sebagian besar kejadian memiliki luasan relatif kecil.

"Rata-rata tidak lebih dari lima Hektare per kejadian. Ada yang dua hektare dan sebagainya," katanya.

Menurutnya, sebagian besar kejadian Karhutla yang ditangani BPBD disebabkan oleh faktor manusia, sehingga warga diminta untuk berhati-hati dalam penggunaan benda berbahan bakar, termasuk tidak membuka lahan dengan cara dibakar.

"Karena kebanyakan dari kelalaian manusia semuanya," ujarnya.

Ancaman Karhutla juga berpotensi meningkat seiring kondisi kekeringan yang diperkirakan semakin meluas.

Buyung Dodi mengatakan, berdasarkan data yang diterima BPBD, pada Agustus sebagian wilayah Kaltim diperkirakan mengalami curah hujan di bawah normal. Kondisi tersebut diprediksi semakin meluas pada September.

"Pada bulan Agustus ini sudah setengah dari wilayah Kaltim itu akan kekeringan dengan tingkat hujan sangat di bawah normal," katanya.

Beberapa wilayah di bagian utara Kaltim, seperti Mahakam Ulu (Mahulu) dan Berau, masih memiliki kondisi curah hujan yang relatif lebih baik. Namun, situasi tersebut diperkirakan berubah pada September.

"Di bulan September itu titik puncaknya. Hampir seluruh Kaltim, kecuali sedikit di daerah utara, curah hujannya sangat rendah, di antara 0 sampai 20 milimeter saja," jelasnya.

Kondisi tersebut membuat potensi kekeringan sekaligus ancaman Karhutla semakin tinggi. Bahkan, potensi kebakaran akibat kondisi kering tidak hanya menjadi persoalan di Kaltim, tetapi juga berpotensi terjadi secara merata di wilayah Kalimantan.

Di tengah meningkatnya ancaman Karhutla, BPBD Kaltim mengakui masih terdapat keterbatasan peralatan di sejumlah daerah, terutama untuk menjangkau wilayah yang memiliki cakupan geografis luas.

Buyung Dodi mengatakan, BPBD kabupaten/kota umumnya berada di ibu kota kabupaten. Sementara lokasi kejadian kebakaran dapat berada jauh dari pusat pemerintahan.

Untuk membantu penanganan di lapangan, BPBD juga mengandalkan sinergi dengan Masyarakat Peduli Api (MPA) yang dibentuk melalui Dinas Kehutanan maupun Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

"Memang kita akui bahwa BPBD itu berada di ibu kota kabupaten dan rata-rata kebakaran yang terjadi bisa jauh. Tapi ada Masyarakat Peduli Api yang dibentuk oleh Dinas Kehutanan atau KPH," ujarnya.

Menurutnya, keterbatasan jarak dan peralatan menjadi tantangan tersendiri dalam penanganan Karhutla. Karena itu, koordinasi antarinstansi terus diperkuat.

Untuk penambahan peralatan dan dukungan personel, BPBD Kaltim tidak dapat melakukan pengadaan secara mendadak. 

Namun, usulan bantuan peralatan telah disiapkan dari kabupaten/kota untuk diteruskan melalui pemerintah provinsi.

"Kami sudah mengusulkan bantuan dari seluruh kabupaten/kota melalui provinsi. Diteruskan, dibantu oleh Pak Pangdam untuk bantuan ke BNPB, peralatan yang dibutuhkan untuk melengkapi," katanya.

Meski terjadi peningkatan Karhutla, BPBD Kaltim belum menggunakan metode water bombing untuk memadamkan kebakaran.

Buyung Dodi menjelaskan, penanganan Karhutla berbeda dengan kebakaran permukiman. 

Dengan kondisi luasan kebakaran yang masih relatif kecil, penanganan masih dilakukan menggunakan metode yang selama ini diterapkan di lapangan.

Salah satunya dengan membuat batas atau alur untuk mencegah api merambat ke area lain.

"Kalau sampai water bombing segala macam, belum sampai situ. Karena luasannya juga masih kecil," jelasnya.

Menurutnya, water bombing baru diperlukan apabila kebakaran sudah memiliki luasan dan tingkat kesulitan penanganan yang jauh lebih besar.

"Masih pakai cara yang sudah ada sebelumnya," katanya.

Selain penanganan di lapangan, BPBD Kaltim juga memperkuat upaya pencegahan melalui edukasi kepada masyarakat.

BPBD telah menyiapkan video animasi mengenai pencegahan Karhutla yang disebarluaskan melalui berbagai kanal informasi.

Materi tersebut ditayangkan melalui website BPBD serta sejumlah media videotron yang berada di lingkungan kantor Pemerintah Provinsi Kaltim.

BPBD juga menggandeng media untuk memperluas penyebaran imbauan kepada masyarakat.

"Kami sudah membuat video animasi. Beberapa kali kami putar di website BPBD dan juga sudah menyampaikan di seluruh kanal media elektronik kita, media videotron di seluruh kantor Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur," ujarnya.

Ia menambahkan, cakupan sosialisasi akan terus diperluas agar pesan pencegahan Karhutla dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

BPBD Kaltim mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah yang mulai mengalami kekeringan. 

Sebab, berdasarkan evaluasi kejadian yang ada, faktor kelalaian manusia masih menjadi salah satu penyebab dominan terjadinya kebakaran.

Dengan kondisi cuaca yang diperkirakan semakin kering hingga September, Buyung Dodi berharap masyarakat ikut berperan dalam mencegah munculnya titik api dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.