Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin
TANJUNG REDEB – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Berau kembali menunjukkan tanda-tanda serius.
Dalam sembilan hari pertama Agustus 2026, ratusan titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah, dengan total mencapai 923 titik.
Data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau menunjukkan, kemunculan hotspot tidak berlangsung merata. Aktivitasnya bergerak fluktuatif, tetapi justru menunjukkan peningkatan menjelang akhir periode pemantauan.
Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau Berau, Ade Heryadi menyebut kondisi tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama karena sejumlah wilayah mulai memperlihatkan konsentrasi hotspot yang tinggi.
“Akumulasi hotspot di wilayah Berau selama periode monitoring 1-9 Agustus 2026 tercatat sebanyak 923 titik. Aktivitasnya memang fluktuatif, tetapi ada kecenderungan meningkat pada akhir periode,” ujarnya.
Segah menjadi salah satu wilayah yang paling mencolok. Jumlah hotspot di kecamatan tersebut terus bergerak naik dalam beberapa hari.
Tercatat 22 titik pada 3 Agustus, kemudian 10 titik pada 4 Agustus, naik menjadi 31 titik pada 5 Agustus dan 34 titik pada 6 Agustus.
Kondisi semakin mengkhawatirkan pada 7 dan 8 Agustus. Hotspot di Segah masing-masing mencapai 54 titik dan 65 titik. Angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan aktivitas panas yang perlu segera diantisipasi, terutama di wilayah dengan vegetasi yang mulai mengering.
Kecamatan Kelay juga masuk dalam wilayah yang perlu mendapat perhatian. Pada 5 Agustus, Kelay bersama Segah sama-sama mencatat 31 titik hotspot.
Sementara aktivitas hotspot di wilayah Pulau Derawan juga terpantau cukup tinggi, yakni 28 titik pada 1 Agustus, melonjak menjadi 55 titik pada 2 Agustus, dan kembali berada di angka 40 titik pada 9 Agustus.
Menurut Ade, tingginya kemunculan hotspot tidak terlepas dari kondisi atmosfer yang relatif kering. Curah hujan yang minim disertai suhu udara yang tinggi membuat lahan lebih mudah mengalami pengeringan dan meningkatkan potensi munculnya titik panas.
Bahkan, suhu maksimum harian di Berau selama periode pemantauan mencapai 36,2 derajat Celsius pada 4 Agustus.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat potensi kebakaran perlu diwaspadai, khususnya pada kawasan yang memiliki bahan bakar alami berupa semak dan vegetasi kering.
Kewaspadaan juga diperkirakan masih dibutuhkan hingga beberapa pekan ke depan. BMKG memprakirakan sifat hujan di Berau berada pada kategori normal hingga bawah normal sampai September 2026.
Artinya, kata dia, kondisi kering masih berpotensi berlangsung dan dapat meningkatkan risiko Karhutla apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Ade mengingatkan masyarakat maupun pihak terkait untuk meningkatkan pemantauan di kawasan yang menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.
Menurutnya, keberadaan hotspot perlu segera ditindaklanjuti dengan pengecekan lapangan untuk memastikan apakah berkaitan dengan kebakaran atau aktivitas lain.
“Apabila menemukan indikasi Karhutla, segera laporkan kepada pihak berwenang. Penanganan sejak dini sangat penting agar api tidak berkembang dan meluas,” tegasnya.
Selain ancaman kebakaran, kondisi kemarau juga berdampak terhadap ketersediaan air. Karena itu, masyarakat diminta lebih bijak menggunakan air, sementara pemerintah dan pihak terkait didorong mengoptimalkan sarana penampungan seperti embung, waduk, bendungan, maupun tempat penampungan air lainnya.
BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Kalimarau juga akan terus memantau perkembangan cuaca dan sebaran hotspot di Berau.
Informasi tersebut diharapkan dapat menjadi dasar bagi pemerintah, petugas di lapangan, serta masyarakat untuk memperkuat langkah pencegahan sebelum titik panas berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.


