Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Kawasan Teras Samarinda tahap II mulai dipersiapkan untuk memasuki masa pengelolaan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda setelah pekerjaan dan masa pemeliharaan dari kontraktor selesai.
Sejumlah catatan masih harus dibenahi, mulai dari tanaman yang mati, sistem penyiraman hingga tumpukan sampah di kawasan sungai.
Plt Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan dari hasil peninjauan masih ditemukan sejumlah tanaman atau rumput yang mati.
Menurutnya, jenis rumput gajah mini yang ditanam di kawasan Teras Samarinda tahap II membutuhkan penanganan khusus agar dapat tumbuh dengan baik, terutama karena kondisi tanah di bawahnya masih terdapat bebatuan.
"Kondisi ini terlebih dahulu akan ditangani oleh kontraktor melalui masa pemeliharaan, kita minta penggantian," kata Suwarso.
Selain tanaman, DLH juga masih menunggu kepastian dari kontraktor terkait jaringan air untuk memudahkan penyiraman rumput dan tanaman peneduh di kawasan tersebut.
Jika jaringan tersebut belum tersedia, DLH berencana menyiapkan sistem penyiraman sendiri. Namun, Suwarso menyebut pihaknya tidak serta-merta akan menggunakan sistem sprinkler karena dikhawatirkan menyulitkan pemeliharaan dan mengharuskan pembongkaran pekerjaan yang berada di bawah pedestrian.
“Kalau pipa kan bisa dari belakang, bisa kita tarik selang untuk memudahkan,” terang Suwarso.
Untuk sumber air, sebagaimana usulan dari Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, agar penyiraman tidak menggunakan air Perumdam Tirta Kencana, melainkan memanfaatkan air Sungai Mahakam.
Tak hanya persoalan tanaman, DLH juga mendapat tugas menangani sampah di sepanjang kawasan sungai. Suwarso menyebut kondisi sampah cukup berat karena sebagian telah menumpuk dan bercampur dengan material lain seperti kayu, rumput hingga akar.
Karena skalanya cukup besar, DLH akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV untuk mencari solusi penanganannya.
Sementara untuk penanganan awal di sekitar sungai yang berada di depan Pasar Pagi, DLH berencana melakukan kerja bakti bersama pihak-pihak terkait. Selain itu, pihaknya juga mempertimbangkan pemasangan kawat atau wiremesh di sekitar pintu air agar material seperti kayu dan dedaunan tidak kembali masuk dan menumpuk di kawasan sungai.
“Mudahan sebelum rapat hari Rabu sudah ada informasi bagaimana upaya penanganannya. Ini agak berat, tapi kita coba diskusikan,” pungkasnya.


