Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati tidak cukup hanya dilakukan melalui pengawasan kawasan.
Kesadaran untuk mencintai dan melindungi lingkungan perlu ditanamkan sejak dini, terutama kepada generasi muda yang akan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan kawasan konservasi.
Hal tersebut menjadi perhatian Balai Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM) melalui Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Wilayah I Long Bawan.
Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) menjadi salah satu sarana untuk mendekatkan generasi muda dengan nilai-nilai konservasi sekaligus memperkenalkan kekayaan alam yang berada di sekitar mereka.
Kepala SPTN Wilayah I Balai TNKM, Hery Gunawanmengatakan pendidikan lingkungan hidup tidak semata-mata bertujuan memberikan pengetahuan mengenai hutan dan kawasan konservasi.
Lebih jauh, kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran dan kepedulian generasi muda terhadap lingkungan.
“Kita memberikan pemahaman dasar mengenai pengenalan hutan dan kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang. Tidak hanya itu, kita juga memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga ekosistem hutan dan mengenalkan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kawasan tempat tinggal mereka sendiri,” ujar Hery.
Menurut Hery, pengenalan terhadap lingkungan perlu dilakukan dengan cara yang mampu menarik perhatian pelajar. Untuk itu, edukasi konservasi dikemas secara interaktif agar siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi ikut terlibat dalam proses pembelajaran.
Para pelajar diajak berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan, pelestarian alam, serta peran generasi muda dalam menjaga lingkungan.
Materi disampaikan melalui interaksi langsung, permainan edukatif, sesi tanya jawab hingga kuis mengenai flora dan fauna yang terdapat di kawasan TNKM.
“Materinya kita sampaikan secara komprehensif, tetapi tetap interaktif. Kita mengajak para pelajar berdiskusi mengenai isu-isu pelestarian alam serta peran pelajar sebagai garda terdepan penjaga lingkungan,” kata Hery.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membuat pendidikan konservasi lebih dekat dengan kehidupan pelajar. Mereka tidak hanya mengenal istilah konservasi, tetapi juga memahami hubungan antara keberadaan hutan, keanekaragaman hayati dan kehidupan manusia.
Hery mengatakan metode belajar sambil bermain menjadi salah satu cara untuk membangun suasana edukasi yang menyenangkan.
Dengan pendekatan tersebut, pelajar diberi ruang untuk mengembangkan rasa ingin tahu sekaligus menyampaikan pemikiran mereka mengenai persoalan lingkungan.
“Dengan metode belajar sambil bermain, kita berusaha menstimulasi ide-ide kritis para siswa. Edukasi konservasi itu tidak harus membosankan. Kita ingin mereka mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan,” ujarnya.
Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian pelajar adalah sesi kuis mengenai flora dan fauna TNKM.
Petugas memancing keingintahuan siswa dengan berbagai pertanyaan seputar satwa dan tumbuhan yang menjadi bagian dari kekayaan kawasan konservasi.
Siswa yang mampu menjawab pertanyaan dengan tepat diberikan cenderamata berupa boneka satwa ikonik TNKM.
Pemberian tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus media untuk membantu pelajar mengenali satwa liar yang terdapat di kawasan konservasi.
Menurut Hery, pendekatan seperti itu penting karena pengetahuan yang disampaikan dengan cara yang menyenangkan akan lebih mudah diingat.
Di saat yang sama, pengenalan satwa sejak dini diharapkan dapat menumbuhkan rasa memiliki dan kepedulian terhadap keberadaannya.
Selain mengenalkan keanekaragaman hayati, pendidikan lingkungan juga diarahkan pada pemahaman mengenai pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
Hutan tidak hanya dipandang sebagai kawasan yang dipenuhi pepohonan, tetapi sebagai ruang hidup berbagai jenis flora dan fauna yang memiliki keterkaitan satu sama lain.
Di wilayah perbatasan, pemahaman tersebut menjadi semakin penting karena masyarakat memiliki hubungan yang erat dengan lingkungan alam, sehingga generasi muda perlu memahami menjaga hutan juga berarti menjaga sumber kehidupan masyarakat.
Hery juga menilai kearifan lokal memiliki posisi penting dalam upaya perlindungan lingkungan. Pengetahuan dan kebiasaan masyarakat dalam berinteraksi dengan alam dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat konservasi.
“Nilai-nilai pelestarian lingkungan perlu disinergikan dengan pentingnya merawat kearifan lokal sebagai salah satu ujung tombak perlindungan hutan yang lestari,” pungkasnya.


