Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Buniyamin
BALIKPAPAN - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balikpapan mencatat sedikitnya empat kejadian kebakaran lahan dalam sepekan terakhir.
Seluruh kejadian tersebut terjadi di wilayah Balikpapan Timur, dengan luas area terbesar yang terbakar mencapai sekitar 1,5 Hektare.
Kepala BPBD Balikpapan, Usman Ali mengatakan, meski sejumlah titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, pihaknya tetap meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).
"Untuk Balikpapan itu intinya sesuai arahan dari BPBD Provinsi, kita kerjanya siaga. Artinya wilayah Balikpapan ini tetap ada kebakaran hutan dan lahan, tapi kita berusaha secepatnya untuk melakukan penanganan dan memadamkannya," kata Usman, Rabu (12/8/2026).
Menurutnya, dalam kurun waktu sekitar satu minggu terakhir telah terjadi empat kali kebakaran lahan. Kebakaran dengan luasan terbesar mencapai sekitar 1,5 hektare dan telah berhasil dipadamkan oleh petugas.
"Dalam satu minggu ini sudah ada empat kali kebakaran lahan. Yang paling luas sekitar 1,5 hektare, tapi sudah kita padamkan," ujarnya.
Usman menjelaskan, penanganan kebakaran di Balikpapan dilakukan melalui kolaborasi sejumlah instansi.
Untuk kawasan hutan yang berada di bawah kewenangan instansi kehutanan, penanganan dilakukan bersama petugas terkait. Sementara kebakaran di lahan masyarakat menjadi bagian dari penanganan BPBD.
Meski memiliki pembagian kewenangan, seluruh unsur tetap saling mendukung saat terjadi kebakaran.
"Intinya dua-duanya berkolaborasi dalam pelaksanaan tugas. Apabila dibutuhkan, kita saling backup," katanya.
BPBD Balikpapan juga telah melakukan koordinasi bersama sejumlah pihak, mulai dari Polresta Balikpapan, instansi lingkungan hidup, hingga pengelola kawasan hutan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran yang lebih luas.
Pengawasan di lapangan turut melibatkan aparat TNI dan Polri, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Masyarakat yang menemukan titik api juga dapat melaporkan kepada aparat di wilayah masing-masing untuk kemudian diteruskan kepada petugas pemadam.
"Ketika ada laporan dari masyarakat, biasanya melapor ke teman-teman TNI atau Polri, kemudian tindak lanjutnya ke kami untuk melakukan pemadaman," jelasnya.
Terkait penyebab kebakaran, Usman menyebut beberapa kejadian yang ditemukan berada di kawasan yang cukup jauh dari aktivitas masyarakat.
Karena itu, berdasarkan kondisi awal di lapangan, kebakaran diduga dipengaruhi faktor alam dan kondisi cuaca yang panas serta vegetasi yang mengering.
Menurutnya, kondisi panas dan angin kencang yang saling bergesekan sehingga dapat mempercepat munculnya dan penyebaran api, terutama di kawasan dengan ranting, dedaunan, dan semak yang kering.
"Kalau dilihat, ada yang diduga karena faktor alam, terutama yang terjadi di tengah kawasan hutan. Kondisi panas, angin, kemudian vegetasi yang kering tentu membuat api lebih mudah muncul dan cepat menyebar dari gesekan itu tadi," ujarnya.
Namun demikian, BPBD tetap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
Usman mengimbau warga untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, membakar sampah di kawasan kering, maupun membuka lahan dengan cara membakar.
"Kita mengimbau masyarakat untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, tidak melakukan pembakaran di daerah yang kering, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar," tegasnya.
Dalam proses pemadaman, BPBD menggunakan metode pemblokiran atau pembasahan area yang belum terbakar untuk mencegah api meluas.
Setelah penyebaran api berhasil dihentikan, petugas melakukan pendinginan di titik-titik yang masih memiliki sumber panas.
"Kalau area yang sudah terbakar, kita melakukan blocking. Daerah yang belum terbakar kita basahi agar api tidak menyebar. Setelah itu baru dilakukan pendinginan di area yang sumber panasnya masih besar," jelas Usman.
Untuk medan yang sulit dijangkau, BPBD mengerahkan kendaraan khusus berupa fire jeep berpenggerak empat roda.
Sementara kebutuhan air dipenuhi dengan mencari sumber air terdekat atau melakukan suplai menggunakan kendaraan tangki.
Dalam kondisi tertentu, petugas juga harus menarik selang hingga ratusan meter menuju titik kebakaran.
"Kalau medannya sulit, kita gunakan fire jeep karena menggunakan penggerak empat roda. Kadang kita juga harus membuat saluran selang sepanjang 200 sampai 300 meter untuk menjangkau titik api," katanya.
Selain menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah titik, BPBD bersama instansi terkait juga memperketat pengawasan di dua kawasan yang menjadi perhatian legislatif, yakni kawasan Waduk Manggar dan Hutan Lindung Sungai Wain.
Kedua kawasan tersebut dinilai memiliki kawasan hutan dan lahan yang perlu mendapat pengawasan khusus. Patroli dilakukan bersama pihak kehutanan serta unsur lainnya.
"Pengawasannya memang lebih ketat karena kawasan itu berada di wilayah perlindungan dan hutan lindung. Ada petugas yang melakukan pengawasan, ditambah masyarakat yang diberdayakan sebagai Masyarakat Peduli Api (MPA)," ungkap Usman.
Sementara Wakil Ketua I DPRD Balikpapan, Yono Suherman mengatakan, kesiapsiagaan menghadapi ancaman karhutla harus dilakukan secara berkelanjutan.
Menurutnya, dua kawasan yang menjadi perhatian utama di Balikpapan adalah Waduk Manggar dan Sungai Wain.
"Kalau di Balikpapan, yang kita jaga adalah Waduk Manggar dan Sungai Wain karena memiliki kawasan lahan yang luas. Itu menjadi konsentrasi kita untuk terus dijaga," kata Yono.
Ia menilai kesiapan tidak hanya berkaitan dengan keberadaan personel, tetapi juga kondisi peralatan pemadam yang harus selalu siap digunakan.
Karena itu, setiap instansi yang tergabung dalam unsur pemerintah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) diharapkan terus memastikan kesiapan sarana serta kemampuan penanganan kebakaran di wilayah masing-masing.
"Kita harus terus meningkatkan kesiapsiagaan dan menjaga kualitas peralatan pemadam agar selalu siap. Semua instansi diharapkan memiliki kesiapan untuk menjaga lingkungan masing-masing," pungkasnya.


