Reporter: Diansyah | Editor: Buniyamin
NUNUKAN – Pemerintah mempercepat pelaksanaan program Cetak Sawah Rakyat (CSR) di Kabupaten Nunukan. Ini sebagai bagian dari upaya memperluas lahan pertanian sekaligus memperkuat produksi pangan.
Langkah tersebut dibahas dalam rapat koordinasi yang digelar Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) Kementerian Pertanian bersama sejumlah unsur terkait di Nunukan.
Forum tersebut menjadi ruang evaluasi sekaligus menyatukan langkah dalam mempercepat penetapan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) untuk pembangunan konstruksi cetak sawah.
Rakor melibatkan Ditjen LIP Kementan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Nunukan, Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Banjarbaru, Tim Pelaksana Swakelola Kodim Nunukan, Co-Working Space (CWS) Penyuluh Nunukan, pengawas konstruksi cetak sawah, Katimker Penyuluh Pertanian, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), hingga tim teknis.
Pejabat Fungsional Ditjen LIP Kementan, Herry Yoan Edison mengatakan koordinasi diperlukan untuk memastikan seluruh tahapan program berjalan dalam satu arah, terutama dalam mengejar target pelaksanaan dan mempercepat proses penetapan CPCL.
“Rakor ini untuk mengevaluasi progres dan memastikan program Cetak Sawah Rakyat berjalan sesuai target, sekaligus mempercepat proses CPCL bersama DKPL Nunukan, serta penyuluh setempat,” ujar Herry.
Menurut dia, evaluasi tidak hanya berkaitan dengan luas lahan yang telah dikerjakan. Pemerintah juga menaruh perhatian pada perkembangan fisik pekerjaan dan pembaruan data realisasi di lapangan.
Ketersediaan infrastruktur pertanian menjadi salah satu aspek yang turut diperiksa. Demikian pula pengelolaan tata air, konstruksi lahan, serta kondisi atau karakteristik khusus yang dimiliki setiap lokasi calon sawah.
Hal tersebut dinilai penting karena pencetakan sawah baru tidak berhenti pada pembukaan lahan. Infrastruktur dan kondisi lahan harus dipastikan mendukung agar areal yang telah dibangun benar-benar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kegiatan pertanian.
Herry menegaskan, keberhasilan program juga sangat bergantung pada kemampuan seluruh pihak untuk membangun koordinasi sejak tahap perencanaan hingga pengelolaan lahan setelah konstruksi selesai.
“Sinergi ini diperlukan untuk mengoptimalkan produktivitas lahan baru dengan tetap menjaga kualitas pekerjaan fisik dan mempercepat luas tanam, sehingga dapat memperkuat ketahanan pangan nasional,” tegasnya.
Karena itu, pelaksanaan program melibatkan berbagai unsur, mulai dari Brigade Pangan, kelompok tani, Pemerintah Kabupaten Nunukan melalui DKPP, penyuluh pertanian, hingga unsur pengawasan dan tim teknis.
Kolaborasi tersebut dibutuhkan untuk memastikan lahan yang dicetak tidak sekadar memenuhi target pembangunan secara fisik, tetapi juga mampu memberikan dampak terhadap peningkatan produktivitas pertanian.
Di sisi lain, Kepala DKPP Nunukan Masniadi, menilai rapat koordinasi menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antarinstansi yang terlibat dalam program tersebut.
Menurut Masniadi, berbagai persoalan yang muncul dalam pelaksanaan di lapangan perlu segera diidentifikasi dan dicarikan solusi secara bersama. Dengan koordinasi yang lebih kuat, setiap tahapan program diharapkan dapat berjalan sesuai perencanaan.
“Dengan rakor ini, kami berharap seluruh pihak semakin sinergis dan berbagai kendala di lapangan dapat segera diatasi. Dengan demikian, pembangunan Cetak Sawah Rakyat dapat berjalan sesuai perencanaan dan selesai tepat waktu,” kata Masniadi.
Bagi Nunukan, program cetak sawah memiliki arti strategis karena perluasan lahan pertanian dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan kapasitas produksi pangan daerah. Namun, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada kualitas pembangunan, kesiapan petani, dukungan infrastruktur, serta optimalisasi lahan setelah pekerjaan konstruksi selesai.
Pemerintah berharap percepatan tidak hanya terjadi pada tahap pengusulan CPCL. Setelah lokasi dan calon petani ditetapkan, pembangunan konstruksi hingga pemanfaatan lahan juga harus dilakukan secara terintegrasi agar lahan baru segera masuk ke tahap produksi.
Dengan pendekatan tersebut, program Cetak Sawah Rakyat di Nunukan diharapkan tidak berhenti sebagai proyek pembukaan lahan, tetapi menjadi bagian dari strategi memperluas basis produksi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan.
“Dengan begitu dapat mendukung peningkatan produksi pertanian dan ketahanan pangan nasional,” pungkasnya.


