Banner ADV

Lawan Kekerasan pada Anak, Pemkab Berau Hadirkan TESA sebagai Ruang Aman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt DPPKBP3A Berau, Warji. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Plt DPPKBP3A Berau, Warji. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Lawan Kekerasan pada Anak, Pemkab Berau Hadirkan TESA sebagai Ruang Aman

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Plt DPPKBP3A Berau, Warji. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Plt DPPKBP3A Berau, Warji. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Lawan Kekerasan pada Anak, Pemkab Berau Hadirkan TESA sebagai Ruang Aman

Plt DPPKBP3A Berau, Warji. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Tak semua anak yang mengalami kekerasan berani datang dan menceritakan persoalannya secara langsung. Rasa takut, malu hingga khawatir tidak dipercaya kerap membuat kasus yang dialami justru dipendam.

Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau menghadirkan Telepon Sahabat Anak (TESA) sebagai jalur pengaduan yang lebih dekat dengan keseharian anak dan remaja.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Berau, Warji mengatakan TESA digagas bersama Forum Anak Kabupaten Berau untuk membuka ruang komunikasi yang lebih nyaman bagi anak.

Menurutnya, layanan tersebut menjadi alternatif bagi anak yang belum memiliki keberanian untuk menyampaikan persoalan kepada pemerintah, kepolisian maupun lembaga terkait secara langsung. “Ini bagian dari alternatif untuk pengaduan. Banyak anak dan remaja yang mengalami kekerasan, baik kekerasan fisik, pelecehan seksual maupun bullying di sekolah,” ujarnya.

Melalui TESA, anak maupun remaja nantinya dapat menyampaikan cerita dan pengaduan melalui telepon maupun WhatsApp. Laporan yang masuk akan diterima dan diidentifikasi oleh Forum Anak Kabupaten Berau sebagai bagian dari pengelola layanan.

Keterlibatan Forum Anak dinilai menjadi salah satu kekuatan TESA. Sebab, komunikasi antara anak dengan sesama remaja dinilai dapat menciptakan suasana yang lebih cair sehingga mereka tidak merasa sedang berhadapan dengan pihak yang kaku atau menghakimi.

Warji berharap kehadiran layanan tersebut mampu mengurangi rasa takut anak untuk berbicara. Tak hanya anak, orang tua juga didorong ikut memanfaatkan jalur pengaduan ketika mengetahui adanya tindakan kekerasan terhadap anak.

“Mudah-mudahan dengan adanya TESA ini anak tidak lagi merasa sendirian ketika menghadapi persoalan dan lebih banyak yang berani serta terbuka menyampaikan pengaduan,” katanya.

Di sisi lain, Warji menilai perlindungan anak tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Perkembangan teknologi digital memang membuka akses komunikasi yang lebih luas, tetapi pada saat yang sama juga menghadirkan potensi risiko baru bagi anak sehingga membutuhkan pengawasan bersama.

Pemahaman masyarakat mengenai hak-hak anak juga dinilai perlu terus diperkuat. Karena itu, perlindungan anak membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, keluarga, masyarakat, sekolah, Forum Anak dan berbagai pihak lainnya.

Kehadiran TESA pun diharapkan menjadi bagian dari penguatan sistem perlindungan anak di Berau sekaligus mendukung komitmen daerah dalam mewujudkan Kabupaten Layak Anak (KLA). 

“Anak tidak hanya membutuhkan perlindungan ketika menghadapi kekerasan, tetapi juga ruang yang aman untuk didengar, didampingi dan tumbuh tanpa rasa takut,” pungkasnya. (Adv)