Reporter: Adi Kade | Editor: Buniyamin
PENAJAM- Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi 2026.
Penetapan status siaga darurat bencana dilakukan untuk mengantisipasi potensi terjadinya bencana kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kebakaran permukiman di musim kemarau.
“Hari ini kita rapat koordinasi dengan Forkopimda mengenai pelaksanaan surat keputusan status siaga darurat bencana hidrometeorologi di kantor Bupati PPU,” kata Sekretaris Daerah (Sekda) PPU, Tohar, Rabu (12/8/2026).
Tohar mengungkapkan, pemerintah daerah menetapkan status siaga darurat bencana dengan pertimbangan beberapa indikator, salah satunya terjadinya beberapa kasus karhutla dan kebakaran permukiman.
Selain itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi kemarau relatif panjang serta meningkatnya intensitas kebakaran hutan, lahan dan permukiman.
Kondisi tersebut perlu ditingkatkan kesiapsiagaan dalam hal personel dan peralatan. “Dengan ditetapkan status siaga darurat bencana ini maka seluruh potensi dapat digerakkan baik personel dan peralatan yang dimiliki pemerintah daerah, TNI-Polri dan perusahaan swasta,” terangnya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) PPU, Nurlaila menyatakan, penetapan status siaga darurat bencana hidrometeorologi dilakukan berdasarkan regulasi dan indikator kebencanaan yang berlaku.
Penetapan status siaga darurat juga memberikan kemudahan akses dalam pengerahan sumber daya manusia, peralatan, dan logistik dari berbagai instansi pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha dan masyarakat.
“Status siaga darurat bencana ini ditetapkan sesuai dengan indikator yang ada. Kami telah mengidentifikasi adanya ancaman, potensi kejadian, risiko bencana di musim kemarau,” terangnya.
Nurlaila mengungkapkan, kondisi hidrometeorologi kering saat ini berpotensi terjadi kekeringan dan karhutla. Ini menjadi perhatian utama pemerintah daerah.
“BPBD bersama instansi terkait terus melakukan langkah pencegahan, sosialisasi, edukasi, kesiapsiagaan dan simulasi penanganan bencana,” pungkasnya.


