Reporter: Nur Hidayah | Editor: Buniyamin
TANJUNG REDEB – Tradisi adat masih menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, Kabupaten Berau.
Selain menjadi warisan leluhur, tradisi juga menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi sekaligus memanjatkan doa demi keselamatan masyarakat.
Hal itu tercermin dalam pelaksanaan Adat Bahari Tulak Bala Buang Naas yang digelar di Pendopo Kecamatan Talisayan.
Kegiatan tersebut mengusung tema “Merawat Silaturahmi, Melestarikan Adat Bahari untuk Talisayan Berkah dan Harmoni.”
Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana mengatakan tradisi Tulak Bala Buang Naas telah dilaksanakan secara turun-temurun dan hingga kini masih dipertahankan masyarakat.
Menurutnya, keberadaan tradisi tersebut menjadi bagian dari identitas Kampung Talisayan yang perlu terus dijaga.
“Masyarakat Talisayan sangat dekat dengan laut, kami berharap seluruh aktivitas masyarakat di pesisir selalu diberikan perlindungan dan keselamatan. Tradisi ini juga menjadi sarana silaturahmi sekaligus identitas daerah,” ujar Ali.
Kedekatan masyarakat Talisayan dengan laut membuat nilai-nilai adat bahari memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan masyarakat.
Untuk itu, Tulak Bala Buang Naas tidak hanya dipandang sebagai kegiatan seremonial, tapi menjadi momentum masyarakat untuk berkumpul dan memperkuat kebersamaan.
Salah satu prosesi dalam kegiatan tersebut yakni Buang Naas, berupa penyiraman air linjuang kepada perwakilan anak masyarakat kampung. Air yang digunakan sebelumnya telah disiapkan dan dibacakan doa oleh tetua adat.
Menurut Ali, prosesi tersebut merupakan bagian dari ikhtiar dan doa bersama agar masyarakat senantiasa diberikan keselamatan serta kampung dijauhkan dari berbagai marabahaya.
Pelaksanaan Tulak Bala Buang Naas tahun ini juga menjadi pembuka rangkaian peringatan HUT Kampung Talisayan sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Ali berharap tradisi tersebut dapat terus diwariskan kepada generasi muda. Menurutnya, keterlibatan anak-anak dan pemuda penting agar mereka tidak hanya mengetahui bentuk prosesi adat, tetapi juga memahami nilai kebersamaan dan pesan yang terkandung di dalamnya.
“Jangan sampai generasi berikutnya hanya melihat tradisi ini sebagai kegiatan tahunan. Mereka harus tahu sejarah dan maknanya, sehingga apa yang diwariskan orang tua kita tetap bisa dijaga,” pungkasnya. (Adv)



