Banner ADV

Dinas Pariwisata Promosikan Identitas Budaya Berau Lewat Tari Baliu Dalling dan Batik Maratua-Derawan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tari Baliu Dalling, budaya masyarakat Bajau, dan kawasan pesisir Derawan/Maratua. (Foto: Istimewa)
Tari Baliu Dalling, budaya masyarakat Bajau, dan kawasan pesisir Derawan/Maratua. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dinas Pariwisata Promosikan Identitas Budaya Berau Lewat Tari Baliu Dalling dan Batik Maratua-Derawan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Tari Baliu Dalling, budaya masyarakat Bajau, dan kawasan pesisir Derawan/Maratua. (Foto: Istimewa)
Tari Baliu Dalling, budaya masyarakat Bajau, dan kawasan pesisir Derawan/Maratua. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Dinas Pariwisata Promosikan Identitas Budaya Berau Lewat Tari Baliu Dalling dan Batik Maratua-Derawan

Tari Baliu Dalling, budaya masyarakat Bajau, dan kawasan pesisir Derawan/Maratua. (Foto: Istimewa)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau mendorong pengembangan pariwisata tidak hanya bertumpu pada kekayaan alam, tetapi juga diperkuat melalui identitas budaya yang menjadi karakter daerah.

Kepala Disbudpar Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan kekuatan budaya memiliki peran penting dalam membangun daya tarik pariwisata yang berkelanjutan. Menurutnya, keindahan alam akan semakin bernilai ketika dipadukan dengan cerita, tradisi dan karya budaya masyarakat setempat.

“Pariwisata tidak bisa hanya mengandalkan keindahan alam. Harus berjalan beriringan dengan penguatan kebudayaan, karena budaya inilah yang memberikan identitas dan karakter terhadap sebuah destinasi,” ujar Yudha.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kolaborasi Disbudpar Berau bersama Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN) dalam program “Dalling & Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya”. 

Program ini menjadi ruang untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya Berau ke dalam karya seni yang memiliki nilai edukasi sekaligus ekonomi.

Salah satu hasilnya adalah lahirnya tiga motif batik yang terinspirasi dari kekayaan kawasan Derawan dan Maratua, yakni Bokko’ Lumangi, Buung Embal Naban, dan Goyak. Ketiganya menjadi bentuk interpretasi terhadap lingkungan, kehidupan masyarakat serta kekayaan budaya yang berkembang di kawasan pesisir Berau.

Tak hanya batik, program tersebut juga menghadirkan kembali Tari Baliu Dalling melalui proses riset budaya, pengembangan koreografi hingga aransemen musik. Penggarapannya tetap mempertahankan akar nilai budaya masyarakat Bajau sehingga tidak sekadar menjadi pertunjukan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga warisan budaya.

Yudha menilai langkah tersebut penting agar sektor pariwisata Berau memiliki lebih banyak produk budaya yang dapat dikenalkan kepada wisatawan. Karya seperti batik dan seni tari juga dapat menjadi bagian dari identitas destinasi sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni dan masyarakat.

“Ketika budaya dikembangkan dengan baik, manfaatnya bukan hanya untuk pelestarian. Karya budaya juga bisa menjadi bagian dari promosi pariwisata dan membuka ruang ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Program tersebut resmi diluncurkan pada 30 Juli 2026 melalui acara Peluncuran Program Dalling dan Batik untuk Derawan, Maratua, dan Budaya di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, Jakarta.

Program ini mendapat dukungan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiaraya yang dikelola LPDP. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pelestarian budaya, identitas daerah serta pemberdayaan masyarakat melalui karya-karya budaya.

Bagi Disbudpar Berau, lahirnya motif batik dan revitalisasi Tari Baliu Dalling menjadi langkah awal untuk memperluas cara memperkenalkan Berau. Tidak hanya melalui panorama Derawan dan Maratua, tetapi juga melalui karya budaya yang membawa cerita dan identitas masyarakat Berau ke ruang yang lebih luas. (Adv)