Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin
SAMARINDA - Persiapan pembukaan Teras Samarinda tahap II terus dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda. Sekitar 275 personel dikerahkan dalam kegiatan kerja bakti untuk membersihkan kawasan pedestrian hingga muara Sungai Pasar Pagi, Jumat (14/8/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Samarinda, Suwarso mengatakan, kerja bakti tersebut merupakan tindak lanjut dari hasil tinjauan lapangan yang sebelumnya dipimpin Asisten II Sekretariat Daerah Kota Samarinda pada 10 Agustus lalu.
Kegiatan ini melibatkan berbagai perangkat daerah seperti Dinas Perhubungan, PUPR, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan termasuk unsur kecamatan dan kelurahan.
Selain itu, komunitas lingkungan dari Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) turut ambil bagian dalam kegiatan tersebut.
“Kurang lebih jumlah yang ada di lapangan sekitar 275 personel untuk membersihkan segmen 2-4 ini,” ujar Suwarso.
Pembersihan tidak hanya menyasar area pedestrian, tetapi juga sejumlah drainase, rumput, gulma hingga kawasan muara sungai di depan Pasar Pagi.
Sejumlah peralatan turut dikerahkan, di antaranya tiga unit mobil pemadam kebakaran beserta personel, speedboat dan mobil tangki dari BPBD, tiga unit tim penanganan banjir dari PUPR, serta kapal dan speedboat untuk membantu pembersihan di area sungai.
Kegiatan ini, kata dia, menjadi bagian dari persiapan sebelum kawasan Teras Samarinda tahap II dibuka dan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Selain membersihkan kawasan, DLH juga mulai menyiapkan langkah untuk mengantisipasi masuknya sampah dan material kayu dari aliran Sungai Mahakam Untuk tahap awal, DLH akan memasang jaring sebagai penahan sementara.
Ke depan, jaring tersebut direncanakan menggunakan wiremesh yang dapat dibuka dan ditutup. Fungsinya untuk menahan material berukuran besar agar tidak menghambat aliran sungai di kawasan Pasar Pagi menuju Sungai Mahakam.
“Kita mau coba pasang jaring dulu untuk sementara. Setidaknya mengantisipasi kayu-kayu besar yang nanti pasti akan mengganggu aliran sungai samping Pasar Pagi,” jelasnya.
Sementara untuk penanganan gulma, sedimentasi lumpur, rumput, hingga kayu berukuran besar di sungai, DLH masih berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS).
DLH telah meminta BWS memberikan strategi penanganan sekaligus menghitung kebutuhan anggaran dan peralatan yang diperlukan. Opsi penanganan, kata Suwarso, masih dikaji, termasuk kemungkinan penggunaan ponton dan peralatan lainnya.
“Untuk BWS kemarin kita masih minta bantuan, cara membersihkan atau strategi membersihkan gulma yang panjang ini dan cukup banyak," pungkasnya.


