Banner ADV

Mengguris Bikin, Cara Talisayan Merawat Tradisi Lewat Laut

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Warga Kampung Talisayan antusias mengikuti lomba Mengguris Bikin dengan mencari kerang saat air laut surut dalam rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan. (Foto: Istimewa)
Warga Kampung Talisayan antusias mengikuti lomba Mengguris Bikin dengan mencari kerang saat air laut surut dalam rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Mengguris Bikin, Cara Talisayan Merawat Tradisi Lewat Laut

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Warga Kampung Talisayan antusias mengikuti lomba Mengguris Bikin dengan mencari kerang saat air laut surut dalam rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan. (Foto: Istimewa)
Warga Kampung Talisayan antusias mengikuti lomba Mengguris Bikin dengan mencari kerang saat air laut surut dalam rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Mengguris Bikin, Cara Talisayan Merawat Tradisi Lewat Laut

Warga Kampung Talisayan antusias mengikuti lomba Mengguris Bikin dengan mencari kerang saat air laut surut dalam rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan. (Foto: Istimewa)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Buniyamin

TANJUNG REDEB – Laut bukan hanya sumber penghidupan bagi masyarakat Kampung Talisayan.

Di tengah hamparan pesisir dan saat air mulai surut, laut juga menjadi ruang untuk menjaga tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Hal itu terlihat dalam lomba Mengguris Bikin atau mencari kerang yang digelar dalam rangkaian peringatan HUT ke-132 Kampung Talisayan, Kecamatan Talisayan, Rabu (12/8/2026).

Warga turun langsung ke perairan dangkal untuk mencari kerang yang tersembunyi di balik pasir dan bebatuan.

Bagi masyarakat setempat, kegiatan tersebut bukan sekadar perlombaan. 

Mengguris Bikin menjadi cara untuk mengenalkan kembali aktivitas tradisional masyarakat pesisir yang mulai jarang dilakukan, terutama oleh generasi muda.

Kepala Kampung Talisayan, Ali Wardana mengatakan rangkaian peringatan hari jadi kampung sengaja dikemas dengan kegiatan yang mengangkat kembali adat dan permainan tradisional masyarakat.

Selain Mengguris Bikin, sejumlah lomba seperti begasing, cinaboy dan permainan layang-layang turut digelar.

“Ini upaya kita menghidupkan kembali permainan dan tradisi yang mulai tergerus zaman. Kami ingin anak-anak muda mengenal kembali budaya yang diwariskan orang tua dan leluhur,” kata Ali.

Menurutnya, peringatan HUT Kampung Talisayan tahun ini juga dipadukan dengan pelestarian adat Buang Naas, rangkaian kegiatan menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia, jalan santai serta pengobatan gratis bagi masyarakat.

Seluruh kegiatan dirancang agar perayaan kampung tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang memperkuat kebersamaan warga.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, menilai kegiatan berbasis tradisi seperti Mengguris Bikin memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi bagian dari daya tarik wisata budaya Berau. 

Menurutnya, kekuatan pariwisata tidak selalu harus lahir dari destinasi baru, tetapi bisa dikembangkan dari aktivitas dan budaya yang sudah hidup di tengah masyarakat.

“Tradisi seperti ini punya cerita dan pengalaman yang tidak dimiliki daerah lain. Kalau dikemas dengan baik, bisa menjadi atraksi wisata sekaligus cara masyarakat mempertahankan identitas budayanya,” ujarnya.

Yudha menambahkan, Disbudpar Berau terus mendorong agar kegiatan masyarakat yang memiliki nilai budaya dan potensi wisata dapat dikembangkan secara berkelanjutan. 

“Tradisi yang dipertahankan masyarakat ini dapat menjadi bagian penting dalam memperkaya kalender event pariwisata daerah,” tambahnya.

Rangkaian HUT ke-132 Kampung Talisayan pun menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bisa dilakukan dengan cara yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. 

Dari aktivitas sederhana mencari kerang saat air laut surut, masyarakat Talisayan menunjukkan bahwa tradisi tetap bisa hidup, sekaligus menjadi potensi wisata apabila dirawat dan dikembangkan bersama. (Adv)