Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan
SANGATTA – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6,1 yang mengguncang wilayah Teluk Tomini, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, Minggu (16/8/2026) dini hari, turut dirasakan hingga sejumlah wilayah Kalimantan Timur, termasuk Sangatta, Kutai Timur.
Gempa terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 23.25.19 WIB atau Minggu (16/8/2026) pukul 00.25.19 WITA.
Guncangan tersebut membuat sebagian warga Sangatta terkejut, sementara sebagian lainnya tidak merasakan getaran.
Kondisi itu terlihat dari sejumlah unggahan warga di status WhatsApp (WA) beberapa saat setelah gempa terjadi.
Sebagian warga saling bertanya apakah gempa benar-benar terasa di Sangatta.
“Apa ada yang merasakan gempa malam ini kah?” tulis salah seorang warga melalui status WhatsApp.
Unggahan lain justru menunjukkan warga yang baru menyadari adanya gempa setelah melihat status orang lain.
“Ya Allah, semalam betulan ada gempa,” tulis warga lainnya, disertai emotikon tertawa.
Ada pula warga yang mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah melihat informasi dari warga lain.
“Benarkah semalam ada gempa, nyenyaknya tidurku,” tulis warga lainnya.
Sementara seorang warga mengaku merasakan guncangan hingga membuatnya sulit tidur.
“Akibat begoyak rumah jadi ndik dapat tetidur,” tulis warga tersebut menggunakan bahasa Kutai, yang berarti akibat rumah bergoyang dirinya tidak dapat tidur.
Unggahan-unggahan tersebut muncul sekitar pukul 01.00 WITA dan menunjukkan respons warga Sangatta yang berbeda terhadap guncangan gempa.
Sebagian merasakan getaran, sedangkan lainnya tidak menyadari adanya gempa hingga melihat unggahan warga lain.
Berdasarkan analisis pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa berada di laut pada koordinat 0,26 derajat Lintang Utara dan 120,25 derajat Bujur Timur.
Lokasi tersebut berada sekitar 71 kilometer barat daya Parigi Moutong dengan kedalaman 60 kilometer.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menjelaskan gempa tersebut termasuk kategori gempa bumi menengah yang dipicu aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik atau oblique thrust fault. BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Guncangan paling kuat dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah. Intensitas V MMI tercatat di Tinombo, Parigi Moutong, dan Dampelas, Donggala.
Sementara intensitas IV MMI dirasakan di Kota Parigi, Donggala, Tolitoli dan Palu. Getaran dengan intensitas III MMI juga dirasakan di Sigi Biromaru.
Selain wilayah Sulawesi Tengah, guncangan tercatat dirasakan hingga sejumlah wilayah Kalimantan, di antaranya Biduk-biduk, Tanjung Selor, Berau, Bontang dan Sangatta, Kutai Timur.
Hingga Minggu (16/8/2026) dini hari, BMKG belum mendeteksi aktivitas gempa bumi susulan (aftershock) berdasarkan hasil monitoring sementara.
Belum ada pula laporan mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan akibat gempa tersebut di wilayah yang terdampak, termasuk Sangatta.
BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak berasal dari sumber resmi.
Warga juga diminta menghindari bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan.
Informasi mengenai perkembangan gempa dapat dipantau melalui kanal resmi BMKG, termasuk akun media sosial @infoBMKG, situs resmi BMKG, aplikasi InfoBMKG dan laman InaTEWS.


