Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB - Barang bekas kerap berakhir di tempat sampah karena dianggap sudah tidak memiliki nilai. Namun di Kelurahan Karang Ambun, benda-benda yang tak lagi terpakai justru dicoba diubah menjadi produk yang berguna sekaligus berpotensi menghasilkan tambahan pendapatan bagi keluarga.
Gagasan itu dibawa melalui pelatihan kerajinan tangan dari barang bekas yang diikuti warga Kelurahan Karang Ambun.
Kegiatan tersebut tidak hanya mengajarkan teknik membuat kerajinan, tetapi juga mendorong masyarakat melihat sampah dari sudut pandang berbeda, bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan bahan yang masih bisa diolah menjadi sesuatu bernilai.
Beragam produk dapat dihasilkan dari tangan warga, mulai dari tas, taplak meja, toples, tempat tisu, tatakan hingga wadah penyimpanan. Produk-produk tersebut menunjukkan bahwa kreativitas sederhana dapat memberikan fungsi baru pada barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
Lurah Karang Ambun, Muliana, mengatakan pemberdayaan masyarakat tidak seharusnya berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Menurutnya, keterampilan yang diperoleh warga perlu terus dipraktikkan dan dikembangkan agar memberikan manfaat dalam jangka panjang.
“Saya ingin masyarakat tidak hanya melihat barang bekas sebagai sampah, tetapi juga sebagai peluang. Ketika ada keterampilan, kemauan dan kreativitas, sesuatu yang sederhana bisa menjadi bernilai dan memberikan manfaat bagi keluarga,” ujarnya.
Menurut Muliana, persoalan lingkungan juga perlu dimulai dari kebiasaan di tingkat rumah tangga. Masyarakat tidak hanya didorong untuk menjaga kebersihan, tetapi juga mengurangi barang yang terbuang, menggunakan kembali material yang masih dapat dimanfaatkan, serta mengolahnya menjadi produk baru.
Di sisi lain, keterampilan tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi. Produk kerajinan warga masih dapat dikembangkan dari sisi desain, kualitas, kemasan hingga pemasaran. Media sosial, bazar dan pameran dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
“Yang kita bangun bukan hanya kerajinan, tetapi juga kemandirian masyarakat. Pemerintah hadir membuka jalan dan mendampingi,” katanya.
Ia berharap warga yang mengikuti pelatihan tidak hanya membawa pulang hasil karya, tetapi juga membawa pengetahuan yang dapat diterapkan kembali di rumah. Keterampilan itu pun diharapkan menular kepada keluarga maupun lingkungan sekitar sehingga semakin banyak masyarakat yang mampu memanfaatkan barang bekas. (Adv)



