Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Puluhan mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) Tenggarong menggelar aksi demonstrasi di Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Tenggarong, Selasa (18/8/2026).
Aksi tersebut digelar sebagai bentuk protes terhadap pemadaman listrik bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta, Zulkarnain, mengatakan pemadaman listrik yang berulang dinilai sangat merugikan masyarakat, khususnya pelaku usaha dan masyarakat yang aktivitasnya bergantung pada pasokan listrik.
Menurutnya, pemadaman listrik bergilir menjadi ironi di tengah momentum peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Ini masih momentum hari kemerdekaan. Seharusnya hak tersebut tidak dirasakan oleh masyarakat. Kami bisa menarik kesimpulan bahwa daerah Kukar hari ini belum benar-benar merasakan kemerdekaan,” kata Zulkarnain.
Ia menyebut masyarakat Kukar belum merdeka dari ketidakadilan, termasuk persoalan pelayanan listrik dan pemadaman bergilir yang dinilai mengganggu aktivitas sehari-hari.
Zulkarnain juga menyoroti posisi Kukar sebagai salah satu daerah penghasil batu bara yang menjadi bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan ketika daerah penghasil batu bara justru masih kerap mengalami pemadaman listrik.
“Sampai hari ini Indonesia masih ketergantungan dengan PLTU yang bahan bakarnya dari batu bara. Kukar merupakan daerah penghasil batu bara. Agak terlihat aneh ketika daerah yang notabene menjadi daerah penopang, tapi kerap kali merasakan pemadaman listrik bergilir,” ujarnya.
Karena itu, mahasiswa meminta pemerintah dan pihak terkait memastikan kebutuhan listrik masyarakat Kukar terpenuhi sebelum komoditas batu bara dikirim keluar daerah.
“Kami mau sampaikan kepada pemerintah dan pihak terkait, sebelum kapal tongkang bermuatan batu bara meninggalkan Kukar, pihak terkait harus memastikan terlebih dahulu bahwa Kukar teraliri listrik dengan baik,” tegasnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi kekecewaan bagi masyarakat karena status Kukar sebagai daerah penghasil sumber daya alam belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kesejahteraan dan pelayanan dasar yang diterima masyarakat.
Selain persoalan pemadaman, BEM Unikarta juga mempertanyakan transparansi informasi dari PLN terkait penyebab pemadaman listrik.
Jika pemadaman terjadi karena gangguan internal maupun eksternal, menurut Zulkarnain, PLN harus menyampaikan informasi secara terbuka kepada masyarakat, termasuk lokasi dan penyebab kerusakan serta langkah penanganannya.
“Kalau hari ini PLN berdalih ada kerusakan internal dan eksternal, tentu informasi itu harus dibuka secara transparan kepada publik, titik-titik kerusakannya dan apa penyebab kerusakan,” katanya.
Ia juga mempertanyakan pola pemadaman yang dilakukan secara bergilir. Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapatkan penjelasan yang lebih transparan dari PLN agar masyarakat mengetahui alasan di balik kebijakan tersebut.
Sebelum menggelar aksi, BEM Unikarta telah membuka layanan pengaduan bagi masyarakat. Dari layanan tersebut, mahasiswa menerima berbagai keluhan terkait dampak pemadaman listrik, termasuk dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Ada banyak masyarakat yang menyampaikan keresahannya. Salah satunya pelaku UMKM merasa dirugikan selama periode pemadaman. Hal itu yang mendasari kenapa kami mengambil langkah untuk melakukan aksi demonstrasi,” jelasnya.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa membawa sejumlah tuntutan kepada pihak PLN. Pertama, meminta keterbukaan dan klarifikasi terkait pemadaman listrik yang dilakukan di wilayah Kukar.
Kedua, mahasiswa meminta evaluasi terhadap keterlambatan pemberian informasi mengenai pemadaman listrik bergilir. Ketiga, menuntut adanya kompensasi terhadap kerugian yang dialami masyarakat selama periode pemadaman. Keempat, meminta komitmen PLN agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Usai menyampaikan aspirasi, mahasiswa kemudian melakukan dialog dengan pihak PLN untuk membahas sejumlah tuntutan yang mereka bawa.
Dalam dialog tersebut, pihak PLN menyampaikan komitmen untuk berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat ke depannya.
Meski demikian, Zulkarnain menegaskan mahasiswa akan terus menjalankan fungsi kontrol sosial dengan memantau realisasi komitmen yang disampaikan PLN.
“Kami pastikan sebagai mahasiswa yang mempunyai tugas sebagai kontrol sosial akan terus melakukan pengawasan dan pemantauan atas komitmen yang disampaikan oleh PLN,” ujarnya.
Ia berharap komitmen tersebut tidak sekadar menjadi jawaban untuk meredam aksi massa, tetapi benar-benar diwujudkan melalui perbaikan pelayanan listrik di lapangan.
“Kami berharap itu bukan sekadar retorika penenang massa aksi, tapi benar-benar direalisasikan di lapangan,” pungkasnya.


