Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Surutnya permukaan Danau Semayang di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar), menghadirkan pesona berbeda. Daratan yang muncul di tengah danau kemudian ditumbuhi rerumputan hingga membentuk hamparan hijau yang kini menjadi daya tarik wisata musiman.
Fenomena alam tersebut menarik perhatian masyarakat. Pada musim kemarau tahun ini, jumlah kunjungan ke kawasan wisata tersebut diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.
Saat debit air Danau Semayang menyusut, daratan di tengah perairan perlahan muncul. Dalam waktu tertentu, permukaan tanah tersebut mulai ditumbuhi rerumputan sehingga menciptakan panorama hijau yang kontras dengan kondisi danau saat normal.
Pemandangan tersebut kemudian ramai diperbincangkan di media sosial. Tak sedikit masyarakat yang penasaran dan datang langsung untuk menikmati suasana sekaligus mengabadikan momen di tengah hamparan hijau.
Oleh pengelola Desa Wisata Pela, lanskap tersebut bahkan disebut memiliki kemiripan dengan hamparan rumput dalam serial anak-anak Teletubbies.
Keramaian wisatawan juga dirasakan masyarakat sekitar. Mary Aryani, warga Liang Ulu, Kecamatan Kota Bangun, mengaku kembali berkunjung setelah melihat kawasan tersebut semakin ramai.
Menurutnya, keindahan pemandangan menjadi salah satu alasan masyarakat tertarik datang, terlebih ketika hamparan rumput mulai menghijau.
“Karena ramai, pemandangannya bagus, untuk foto-foto juga bagus di sini,” kata Mary. Senin (17/8/2026)
Ia menyebut perjalanan dari kawasan Liang Ulu menuju lokasi wisata membutuhkan biaya sekitar Rp25 ribu per orang.
Pengelola Desa Wisata Pela, Alimin Ajarbaizan, mengatakan meningkatnya kunjungan tidak hanya berasal dari masyarakat sekitar maupun wilayah Kukar dan Kalimantan Timur (Kaltim).
Selama periode libur Agustus, wisatawan dari luar daerah hingga mancanegara juga tercatat mengunjungi Desa Pela.
“Karena mereka melihat di medsos kita. Nah, di situ mereka mengambil paket-paket, ada yang menginap, ada yang PP (pulang-pergi) dan macam-macam,” ujar Alimin.
Wisatawan mancanegara yang berkunjung antara lain berasal dari Italia, Belanda dan Rusia. Sementara wisatawan domestik datang dari sejumlah daerah, seperti Jakarta dan Bandung.
Menurut Alimin, wisatawan lokal masih didominasi pengunjung dari Kota Bangun dan wilayah Kukar. Kunjungan mulai mengalami peningkatan dalam dua pekan terakhir, terutama saat memasuki masa libur.
Untuk musim kemarau tahun ini, total kunjungan ke kawasan Desa Wisata Pela diperkirakan mencapai sekitar 4.000 orang.
Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan kondisi normal. Dalam satu bulan, kunjungan wisatawan biasanya berada di kisaran 1.000 orang.
Fenomena hamparan hijau di tengah Danau Semayang menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan tersebut. Wisatawan datang untuk menikmati panorama alam yang hanya muncul ketika permukaan air danau menyusut.
Pengelola sendiri tidak menetapkan target khusus jumlah wisatawan. Pengembangan wisata tetap mengedepankan konsep ekowisata, dengan menawarkan sejumlah paket yang dapat dipilih wisatawan sesuai kebutuhan.
Paket tersebut di antaranya mencakup transportasi, homestay, konsumsi hingga berbagai aktivitas wisata selama berada di Desa Pela.
Konsep tersebut sekaligus membuka peluang bagi masyarakat setempat untuk memperoleh manfaat ekonomi dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Bagi Desa Pela, kemunculan daratan dan hamparan rumput di tengah Danau Semayang bukan sekadar perubahan bentang alam akibat musim kemarau. Fenomena tersebut telah berkembang menjadi atraksi wisata yang memiliki daya tarik tersendiri.


