Diduga Dilecehkan Guru, Siswi SMP di Tenggarong Trauma Masuk Sekolah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
 Ilustrasi seorang perempuan mendapat pelecehan verbal. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi seorang perempuan mendapat pelecehan verbal. (Foto: Shutterstock)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diduga Dilecehkan Guru, Siswi SMP di Tenggarong Trauma Masuk Sekolah

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
 Ilustrasi seorang perempuan mendapat pelecehan verbal. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi seorang perempuan mendapat pelecehan verbal. (Foto: Shutterstock)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Diduga Dilecehkan Guru, Siswi SMP di Tenggarong Trauma Masuk Sekolah

Ilustrasi seorang perempuan mendapat pelecehan verbal. (Foto: Shutterstock)

Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin

TENGGARONG - Kasus dugaan pelecehan verbal terhadap seorang siswi SMP di Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tengah mendapat penanganan.

Ironisnya, di tengah proses tersebut, guru yang diduga melakukan pelecehan masih aktif mengajar di sekolah.

Akibat dugaan tindakan tersebut, siswi bersangkutan memilih tidak masuk sekolah sejak Juli 2026.

Orang tua korban menyebut anaknya merasa tidak aman untuk kembali ke lingkungan sekolah karena guru yang diduga mengirim pesan tak pantas melalui aplikasi WhatsApp masih menjalankan aktivitas mengajar.

Dugaan pelecehan itu diketahui setelah korban menceritakan kejadian yang dialaminya kepada orang tua. Pesan tersebut dikirim di luar jam sekolah dan dinilai mengandung kata-kata yang tidak pantas ditujukan kepada seorang pelajar.

“Anak saya dikirimi pesan di WA (WhatsApp) saat bukan waktu sekolah. Dia direndahkan dengan kata-kata yang tidak pantas disampaikan ke anak-anak,” cerita orang tua kepada awak media, Rabu (19/8/2026).

Orang tua korban menilai tindakan tersebut tidak semestinya dilakukan oleh seorang pendidik kepada siswanya. Terlebih, dugaan serupa disebut juga dialami teman korban.

Merasa keberatan dengan kejadian tersebut, keluarga kemudian melaporkannya ke Kepolisian Resor (Polres) Kukar.

Mereka juga meminta pendampingan dari UPT Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kukar.

Kepala UPT P2TP2A Kukar, Farida membenarkan telah menerima dan menangani laporan tersebut. Pendampingan terhadap korban, termasuk upaya pemulihan telah dilakukan.

“Iya sudah kami tangani itu mas, sudah kami tangani di UPT. Terkait dengan pemulihan-pemulihan, kita sudah lakukan pendampingan-pendampingan dan yang lainnya,” ujar Farida.

Farida mengatakan sejauh ini pihaknya baru menangani satu korban dalam dugaan pelecehan verbal tersebut. Tapi apabila nantinya terdapat informasi atau laporan tambahan dari korban lain, maka UPT P2TP2A Kukar akan menindaklanjutinya sesuai prosedur.

“Sudah dari sekitar bulan Juli kami tangani, kami juga akan dampingi sampai nanti kasus ini bisa diselesaikan dengan baik,” tutup Farida.

Sementara orang tua korban mengungkapkan proses penanganan kasus telah berjalan sekitar sebulan. Bukti berupa tangkapan layar percakapan yang diduga mengandung pelecehan verbal juga telah diserahkan kepada pihak terkait.

Namun, hingga kini guru yang dilaporkan tersebut disebut masih aktif mengajar. Kondisi itu membuat orang tua khawatir anaknya tidak akan merasa aman jika kembali bersekolah.

Untuk itu, keluarga berharap proses penanganan dapat segera dilakukan agar korban dapat kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.

Orang tua juga meminta kepolisian berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar untuk mempertimbangkan penonaktifan sementara guru tersebut selama proses penanganan kasus berlangsung.

Saat ini, UPT P2TP2A Kukar fokus memberikan pendampingan kepada korban, sementara proses hukum diserahkan kepada Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Kukar.

Orang tua korban berharap proses hukum berjalan hingga tuntas dan terdapat langkah yang dapat menjamin keamanan serta kenyamanan anaknya ketika kembali ke sekolah.

Media ini telah berupaya mengonfirmasi perkembangan laporan tersebut kepada Satreskrim Polres Kukar. Tapi hingga berita ini ditulis, pihak polres belum memberikan konfirmasi.