Berbagai Dampak Kemarau Mulai Dirasakan Kota Samarinda, Karhutla hingga Ancaman Gagal Panen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Penanganan kebakaran lahan di Kota Samarinda. (Foto: Dok.BPBD Samarinda)
Penanganan kebakaran lahan di Kota Samarinda. (Foto: Dok.BPBD Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Berbagai Dampak Kemarau Mulai Dirasakan Kota Samarinda, Karhutla hingga Ancaman Gagal Panen

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Penanganan kebakaran lahan di Kota Samarinda. (Foto: Dok.BPBD Samarinda)
Penanganan kebakaran lahan di Kota Samarinda. (Foto: Dok.BPBD Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Berbagai Dampak Kemarau Mulai Dirasakan Kota Samarinda, Karhutla hingga Ancaman Gagal Panen

Penanganan kebakaran lahan di Kota Samarinda. (Foto: Dok.BPBD Samarinda)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Cuaca panas dan minimnya curah hujan mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak kekeringan di Samarinda. Kondisi ini tidak hanya berpotensi memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), tetapi juga dapat mengganggu ketersediaan air, pertanian, perikanan, hingga kualitas lingkungan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda kini mulai memetakan sejumlah potensi risiko sebagai langkah antisipasi dampak kemarau juga fenomena El Nino Godzilla. 

Kepala BPBD Kota Samarinda mengatakan, fenomena yang belakangan ramai disebut sebagai El Nino Godzilla tersebut berpotensi menyebabkan kondisi kering yang lebih tinggi.

Menurutnya, pengalaman dari kejadian pada tahun-tahun sebelumnya menjadi salah satu dasar pemerintah melakukan mitigasi. Salah satu risiko yang diantisipasi adalah terjadinya gagal tanam dan gagal panen akibat keterbatasan sumber air.

Berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 50 hektare lahan di wilayah Serayu, Tanah Merah berpotensi mengalami gagal panen. Kondisi tersebut dapat terjadi apabila dalam satu pekan ke depan tidak turun hujan atau tidak ada upaya penyiraman melalui sistem rekayasa lainnya.

Selain sektor pertanian, pemerintah juga mulai mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami keterbatasan air bersih. Terutama kawasan yang belum terjangkau jaringan pipa air.

Pemetaan tersebut dilakukan agar distribusi air bersih dapat dipersiapkan sejak awal apabila kekeringan berlanjut. Salah satu skema yang disiapkan yakni penyaluran menggunakan mobil tangki dengan sistem distribusi berkelompok.

“Bisa dengan mobil tangki, tapi dengan sistem berkelompok. Kita terkoordinir di RT misalnya atau di masjid, kemudian masyarakat bisa mengambil air,” jelas Suwarso, Rabu (19/8/2026).

Risiko kekeringan juga turut dipantau pada sektor perikanan air tawar. Berkurangnya ketersediaan air di kolam dikhawatirkan dapat memengaruhi pertumbuhan ikan.

Tak hanya itu, pemerintah juga mengumpulkan data terkait kualitas air dan kualitas udara sebagai bagian dari pemetaan risiko. Data tersebut nantinya menjadi dasar untuk menentukan langkah penanganan apabila kondisi kemarau terus berlanjut.

“Di awal-awal ini kita tindakan mitigasi, identifikasi persoalan-persoalan atau potensi-potensi risiko jika kemarau ini berlanjut sampai September bahkan mungkin Oktober,” katanya.

Berdasarkan informasi dari BMKG, suhu terpanas diperkirakan terjadi pada Agustus, namun kondisi ini masih berpotensi berlangsung hingga September. Karena itu, Pemerintah Kota Samarinda mulai menyiapkan langkah antisipasi dan akan melaporkan hasil identifikasi tersebut kepada Wakil Wali Kota Samarinda untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Sementara untuk penanganan karhutla, koordinasi lintas unsur telah dilakukan. Relawan, BPBD, pemadam kebakaran hingga pihak swasta disebut telah terlibat dalam penanganan kebakaran sehingga dapat bergerak tanpa harus menunggu perintah ketika kejadian berlangsung.

Peristiwa karhutla di Samarinda terjadi hampir setiap hari. Hingga 19 Agustus 2026 BPBD mencatat terdapat sebanyak 63 kejadian dengan luasan 85,81 hektare. 

“Untuk penanganan karhutla sendiri, kebakarannya kan kita sudah terpadu, antara relawan, BPBD, Damkar, bahkan pihak swasta sudah ikut berpartisipasi,” pungkasnya.