DPRD Samarinda Soroti Peran Orang Tua terhadap Perilaku Anak, Tak Hanya Hadir Secara Fisik Tapi Juga Emosional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Samarinda Soroti Peran Orang Tua terhadap Perilaku Anak, Tak Hanya Hadir Secara Fisik Tapi Juga Emosional

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

DPRD Samarinda Soroti Peran Orang Tua terhadap Perilaku Anak, Tak Hanya Hadir Secara Fisik Tapi Juga Emosional

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Pengawasan terhadap anak dinilai tidak cukup hanya mengandalkan sekolah. Peran orang tua di rumah juga menjadi bagian penting dalam membentuk perilaku dan karakter anak, terutama di tengah mudahnya akses terhadap berbagai konten melalui perangkat digital.

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi, mengatakan pendidikan anak membutuhkan kerja sama antara sekolah dan keluarga. Menurutnya, komunikasi antara orang tua dengan guru perlu diperkuat agar pola pendidikan yang diterapkan di sekolah dapat berlanjut di lingkungan rumah.

“Kalau kita bicara pendidikan itu kan tidak melulu tanggung jawab sekolahan. Perlu kerja sama dua pihak, orang tua di rumah kemudian sekolah, guru di sekolah,” ujarnya.

Ismail menyoroti fenomena parentless, fatherless, maupun motherless. Kondisi tersebut tidak selalu berarti anak benar-benar kehilangan orang tua, melainkan ketika orang tua hadir secara fisik tetapi tidak memberikan pendampingan secara emosional.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat membuat anak mencari perhatian maupun pelampiasan di luar rumah. Persoalan muncul ketika anak kemudian berinteraksi dengan lingkungan yang negatif.

“Secara fisiknya dia punya ayah, punya ibu. Tapi secara emosional kemudian mereka merasa seolah-olah tidak punya orang tua,” katanya.

Ia mengungkapkan, persoalan pengawasan anak juga pernah disampaikan salah satu kepala sekolah SD negeri kepada Komisi IV DPRD Samarinda. Dari komunikasi tersebut, disebutkan adanya siswa sekolah dasar yang telah mengakses konten pornografi melalui perangkat digital.

Ia menilai persoalan tersebut menjadi perhatian serius karena anak pada usia sekolah dasar seharusnya masih mendapatkan pendampingan dalam menggunakan gawai.

Sekolah yang selama ini telah memberikan peringatan mengenai penggunaan telepon seluler. Namun, pengawasan tersebut akan sulit berjalan apabila di rumah anak justru diberikan kebebasan penuh dalam menggunakan perangkat.

Karena itu, Ismail mendorong sekolah tidak hanya berfokus memberikan edukasi kepada siswa, tetapi juga melibatkan orang tua melalui kegiatan parenting.

Menurut Ismail, pola pendampingan tersebut penting untuk mencegah anak terpapar berbagai hal negatif, termasuk konten yang tidak sesuai usia. Sebab, apa yang dilihat dan dibaca anak dapat memengaruhi pola pikir serta perilakunya.

Ia menilai lemahnya pendampingan keluarga juga dapat menjadi salah satu faktor yang membuat anak rentan terpengaruh lingkungan negatif, termasuk dalam kasus asusila maupun penyalahgunaan narkoba.

Karena itu, ia kembali menekankan pentingnya kehadiran orang tua bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dalam kehidupan anak.

“Sekolah bisa memfasilitasi kegiatan parenting supaya nyambung kemudian antara yang diinginkan oleh sekolah dengan orang tua di rumah,” pungkasnya.