Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Meski kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) kerap menghantui Kota Samarinda, kualitas udara di Kota Tepian hingga kini masih tergolong baik.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Samarinda, Suwarso, mengatakan berdasarkan hasil pengukuran Kementerian Lingkungan Hidup, kualitas udara di Samarinda disebut masih berada dalam kategori baik.
Berdasarkan pemantauan kualitas udara IQAir pada Jumat (21/8/2026) pukul 05.00 WITA, indeks kualitas udara atau Air Quality Index (AQI) Samarinda berada di angka 39 atau masuk kategori baik.
Polutan utama yang terpantau yakni partikulat halus PM2.5 dengan konsentrasi 7 mikrogram per meter kubik.
Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara Samarinda masih berada pada level yang relatif aman. Namun, prakiraan per jam menunjukkan indeks kualitas udara berpotensi mengalami peningkatan sepanjang pagi hingga siang.
AQI diperkirakan berada di angka 43 pada pukul 09.00 WITA, kemudian meningkat menjadi 45 pada pukul 10.00 WITA. Angka tersebut diprediksi mencapai 47 pada pukul 11.00 dan 12.00 WITA, serta 48 pada pukul 13.00 WITA.
Meski demikian, kondisi cuaca yang cenderung kering tetap menjadi perhatian pemerintah. Selain berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, musim kering juga membawa ancaman terhadap ketersediaan air bersih.
Suwarso mengatakan pihaknya masih perlu melakukan pendalaman dan analisis lebih lanjut terkait kondisi air. Namun, berdasarkan informasi sementara dari Perumdam Tirta Kencana Samarinda, ketersediaan air masih dalam kondisi aman.
"Kalau kualitas air kita masih perlu pendalaman analisisnya, pengukurannya. Kalau informasi terakhir dari Perumda masih aman," ungkap Suwarso.
Di sisi lain, ancaman intrusi air laut juga menjadi salah satu hal yang turut menjadi perhatian sebagai dampak yang perlu diantisipasi. Pemerintah kota menyiapkan sejumlah skenario apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi dan mulai memengaruhi ketersediaan air bersih di Samarinda.
Salah satu skenario yang disiapkan yakni melakukan penyaluran air bersih ke sejumlah titik yang membutuhkan. Selain itu, masyarakat juga diimbau mulai melakukan penghematan dan menyiapkan cadangan air sejak kondisi masih normal.
Menurut Suwarso, penghematan air menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi kemungkinan gangguan ketersediaan air bersih. Masyarakat juga diharapkan dapat memanfaatkan kondisi saat ini untuk mulai menampung air sebagai cadangan.
"Penghematan ai bersih yang paling penting. Jika suatu saat memang ada kesulitan, kita bisa manfaatkan tampungan yang ada," pungkasnya.


