12 Pelajar SMP Terpapar Narkoba, 8 Anak Direhabilitasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
BNN Kota Samarinda membenarkan adanya dugaan pelajar SMP yang terpapar narkoba, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok.BNN Samarinda)
BNN Kota Samarinda membenarkan adanya dugaan pelajar SMP yang terpapar narkoba, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok.BNN Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

12 Pelajar SMP Terpapar Narkoba, 8 Anak Direhabilitasi

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
BNN Kota Samarinda membenarkan adanya dugaan pelajar SMP yang terpapar narkoba, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok.BNN Samarinda)
BNN Kota Samarinda membenarkan adanya dugaan pelajar SMP yang terpapar narkoba, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok.BNN Samarinda)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

12 Pelajar SMP Terpapar Narkoba, 8 Anak Direhabilitasi

BNN Kota Samarinda membenarkan adanya dugaan pelajar SMP yang terpapar narkoba, Jumat (21/8/2026). (Foto: Dok.BNN Samarinda)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA — Isu dugaan 12 pelajar SMP di Kota Samarinda yang terpapar narkoba akhirnya menemukan titik terang.

Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Samarinda mengungkapkan, 12 pelajar tersebut telah menjalani pemeriksaan. 

Setelah diperiksa, penanganan terhadap pelajar yang terindikasi menggunakan narkoba terus dilanjutkan. 

Kasubbag Umum BNN Samarinda, Firdaus Christyoadi mengatakan asesmen telah dilakukan terhadap seluruh 12 pelajar yang sebelumnya terindikasi narkoba.

Dari 12 pelajar yang menjalani asesmen, delapan di antaranya telah mendapatkan program rehabilitasi.

“Sudah kita lakukan asesmen ke semuanya, 12 sudah diasesmen. Delapan yang direhab,” kata Firdaus, Jumat (21/8/2026). 

Sementara pelajar lainnya masih dalam proses penanganan lantaran memiliki kondisi yang dinilai cukup berat. BNN masih mengupayakan agar pelajar tersebut dapat memperoleh bantuan melalui program rehabilitasi.

“Satu lagi diupayakan karena ada kondisi berat. Tapi kita upayakan untuk membantu mereka dengan program rehabilitasi,” ujarnya.

Penanganan tersebut menjadi salah satu pembahasan BNN Kota Samarinda bersama DPRD Samarinda melalui Komisi IV, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2PA).

Dalam pertemuan itu, BNN kembali mendorong penerapan Integrasi Kurikulum Anti Narkotika (IKAN) di Kota Samarinda.

Firdaus mengatakan program tersebut sebenarnya telah diupayakan BNN selama sekitar dua tahun. Namun, hingga kini belum berhasil direalisasikan.

“Ini kita coba lagi bersama DPRD sebagai wakil kita supaya bisa lebih kuat lagi ke depan,” jelasnya.

Firdaus mengatakan Komisi IV DPRD Samarinda telah memberikan dukungan agar program tersebut dapat segera diterapkan.

Bahkan, penerapan IKAN disebut menjadi salah satu prioritas yang akan didorong agar segera terealisasi.

Tak hanya itu, Komisi IV juga mengupayakan adanya studi tiru ke Bangka Belitung untuk melihat secara langsung penerapan program IKAN di daerah tersebut.

Selain penguatan kurikulum, BNN juga mendorong sistem deteksi dini di lingkungan sekolah.

Saat ini, kata dia, sejumlah sekolah memang telah menerapkan pemeriksaan narkotika bagi siswa baru. Calon siswa diwajibkan melampirkan surat keterangan pemeriksaan narkotika sebagai salah satu persyaratan masuk.

Namun, menurutnya, pemeriksaan yang hanya dilakukan saat penerimaan siswa baru belum cukup untuk memastikan kondisi siswa selama mengikuti pendidikan.

“Kalau di awal saja kan mereka sudah bisa persiapan. Nah, bagaimana kalau misalnya kita uji petik di jam-jam pelajaran, kita periksa,” ujarnya.

Menurut Firdaus, pemeriksaan secara berkala atau melalui uji petik dapat menjadi salah satu upaya memperkuat deteksi dini penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekolah.

Langkah tersebut diharapkan dapat memastikan kondisi siswa sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba berkembang di lingkungan pendidikan.

BNN Kota Samarinda pun berharap penguatan pencegahan melalui kurikulum, deteksi dini, serta rehabilitasi dapat berjalan beriringan untuk menekan risiko penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.