Reporter: Aswin | Editor: Buniyamin
TENGGARONG - Kemarau panjang kembali mengubah wajah Danau Semayang di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kutai Kartanegara (Kukar).
Danau yang biasanya dipenuhi air kini mulai mengering dan menyisakan hamparan daratan yang cukup luas.
Kondisi tersebut dimanfaatkan sejumlah warga untuk kembali menanam padi di lahan yang sebelumnya berada di kawasan danau.
Bagi masyarakat setempat, aktivitas ini bukan hal baru. Tradisi menanam padi di Danau Semayang telah dilakukan secara turun-temurun dan biasanya muncul ketika kemarau berlangsung cukup panjang.
Salah seorang warga Rusmi, mengaku telah mulai menanam padi sekitar satu minggu terakhir.
Ia mengatakan, kegiatan tersebut merupakan kebiasaan yang telah dilakukan masyarakat sejak dahulu, termasuk oleh orang tuanya. “Sudah nanam sekitar satu mingguan,” ujar Rusmi.
Menurut Rusmi, masyarakat biasanya mulai memanfaatkan kawasan danau untuk bercocok tanam ketika kemarau panjang terjadi. Kondisi seperti ini, kata dia, umumnya hanya terjadi sekitar lima tahun sekali.
“Biasanya lima tahun sekali, kalau kemarau panjang orang mulai nanam padi,” katanya.
Ia menyebut kondisi serupa terakhir kali terjadi sekitar 2015. Artinya, sudah sekitar 11 tahun masyarakat tidak kembali memanfaatkan kawasan Danau Semayang untuk menanam padi dalam kondisi kemarau panjang seperti sekarang.
Cerita mengenai tradisi tersebut juga disampaikan warga lainnya, Imran. Menurutnya, aktivitas menanam padi di kawasan yang oleh masyarakat lokal juga disebut Kenohan itu telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.
Imran mengingat, masyarakat mulai menanam padi di kawasan Kenohan sejak sekitar 1982. Kala itu, kemarau berlangsung hingga delapan bulan sehingga air danau surut dan menyisakan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian.
“Mulai tahun 1982 orang mulai nanam padi di Kenohan, pas kemarau panjang selama delapan bulan,” ungkapnya.
Tradisi tersebut kembali terjadi pada 1997. Saat itu, warga bahkan sempat melakukan panen raya hingga dua kali di kawasan Danau Semayang.
Menurut Imran, kegiatan panen raya tersebut juga sempat dihadiri Bupati Kutai Kartanegara saat itu, Saukani.
“Waktu tahun 1997 pernah juga sampai panen raya dua kali di Kenohan. Sampai sempat ada acara panen raya oleh Bupati Saukani dulu di Kenohan,” tuturnya.
Pengalaman lain terjadi sekitar 2007. Imran mengenang, hasil panen masyarakat saat itu cukup besar. Bahkan, hasil panen masih dihitung menggunakan satuan tradisional berupa kaleng susu.
“Kalau tidak salah tahun 2007, ada yang sekali panen sampai seribu kaleng susu padi yang dipanen. Dulu orang hitung kaleng, bukan ton,” jelasnya.
Bagi masyarakat Desa Semayang, mengeringnya Danau Semayang bukan sekadar fenomena alam akibat kemarau panjang. Kondisi tersebut juga membuka kembali kesempatan bagi warga untuk memanfaatkan lahan yang biasanya terendam air sebagai lahan pertanian.
Meski demikian, aktivitas bercocok tanam di kawasan danau sangat bergantung pada kondisi cuaca dan tingkat surutnya air. Hanya ketika kemarau berlangsung cukup panjang dan permukaan air turun secara signifikan, lahan tersebut dapat dimanfaatkan untuk menanam padi.
Kemunculan kembali aktivitas pertanian ini sekaligus menghidupkan tradisi lama masyarakat Semayang yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Dari generasi ke generasi, dasar Danau Semayang yang mengering pernah menjadi lahan produktif dan bahkan menghasilkan panen dalam jumlah besar.


