Kisah Andre Kawaru, Pedagang Kelinci Asal Samarinda yang Disebut Presiden Prabowo saat Sidang Tahunan MPR RI

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Andre Kawaru, warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda saat mengurus kelinci-kelincinya sebelum dibawa ke pasar malam, Jumat (21/8/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Andre Kawaru, warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda saat mengurus kelinci-kelincinya sebelum dibawa ke pasar malam, Jumat (21/8/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kisah Andre Kawaru, Pedagang Kelinci Asal Samarinda yang Disebut Presiden Prabowo saat Sidang Tahunan MPR RI

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Andre Kawaru, warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda saat mengurus kelinci-kelincinya sebelum dibawa ke pasar malam, Jumat (21/8/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Andre Kawaru, warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda saat mengurus kelinci-kelincinya sebelum dibawa ke pasar malam, Jumat (21/8/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kisah Andre Kawaru, Pedagang Kelinci Asal Samarinda yang Disebut Presiden Prabowo saat Sidang Tahunan MPR RI

Andre Kawaru, warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda saat mengurus kelinci-kelincinya sebelum dibawa ke pasar malam, Jumat (21/8/2026). (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Buniyamin 

SAMARINDA - Di balik kesempatan Andre Kawaru berdiri di Sidang Tahunan MPR RI bersama DPR RI pada 14 Agustus lalu, sekaligus sebagai salah satu warga yang terpilih menghadiri rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, ada cerita tentang perjuangan ekonomi yang dijalaninya setiap malam.

Warga Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Kota Samarinda ini sehari-hari menggantungkan penghasilan dari usaha di pasar malam. Salah satunya melalui wahana memberi makan kelinci yang kini menjadi usaha yang terus dikembangkannya.

Bagi Andre, menjadi pedagang pasar malam bukan sekadar pekerjaan. Dari usaha berpindah-pindah lokasi setiap malam, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus membayar tempat tinggal yang kini ditempatinya.

Andre sudah mengenal dunia pasar malam sejak sebelum pandemi Covid-19. Berbagai jenis usaha pernah dijalaninya, mulai dari wahana memberi makan ikan lele, menjual ikan cupang hingga permainan lempar gelang.

“Kalau di pasar malam kan orang bosan. Pokoknya beberapa macam ganti-ganti karena kita harus mengikuti,” kata Andre. Kini, ia memilih mengembangkan wahana memberi makan kelinci. Usaha tersebut baru dijalankannya sekitar satu tahun.

Untuk wahana tersebut, pengunjung cukup membayar Rp10 ribu. Dengan tiket itu, anak-anak dapat memberi makan, memegang hingga berfoto bersama kelinci.

Awalnya, Andre tidak berniat menjual kelinci yang dibawanya. Namun, banyak pengunjung yang tertarik membeli sehingga ia kemudian menjadikan penjualan kelinci sebagai tambahan usaha. “Awalnya nggak saya jual. Ternyata banyak yang mau, jadi sekalian jual,” ujarnya.

Dalam menjalankan usaha, Andre hampir tidak memiliki hari libur. Ia berpindah dari satu lokasi pasar malam ke lokasi lainnya setiap malam.

Pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Pada hari tertentu, ia bisa memperoleh sekitar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu dalam sehari. Tapi jumlah tersebut merupakan pendapatan kotor yang masih harus digunakan untuk membeli pakan dan kebutuhan usaha.

Belakangan, kondisi pasar malam yang tidak seramai sebelumnya turut membuat pendapatannya menurun.

Selain itu Andre juga menghadapi tantangan dalam mendapatkan stok kelinci. Biasanya, untuk memenuhi kebutuhan wahana, ia mengambil kelinci dari sejumlah peternak di sekitar Palaran. Namun, belakangan ia mengakui kerap kesulitan mendapatkan kelinci dari para peternak. 

“Setidaknya paling tidak itu 25 ekor. Karena saya wahana kasih makanan, kelinci kalau sudah kenyang itu tidur, jadi harus banyak,” jelasnya.

Sebab, semakin banyak kelinci yang tersedia, semakin besar pula potensi pendapatan yang didapat dari wahana tersebut. Namun, ia tidak selalu bisa mendapatkan stok dalam jumlah banyak karena harus bersaing dengan pembeli bermodal lebih besar.

Kini, ia masih ingin memperbesar usaha kelinci yang dijalankannya. Salah satu targetnya adalah bisa memiliki peternakan sendiri sehingga tidak terus bergantung pada stok dari peternak lain.

Meski pendapatan belum menentu dan pasar malam tidak selalu ramai, Andre tetap memilih bertahan. Setiap malam, ia kembali membawa kelinci-kelincinya berpindah lokasi dengan gerobak yang ditarik dengan motornya, berharap semakin banyak anak-anak yang datang memberi makan dan semakin banyak pula kelinci yang terjual.

Di tengah perjuangannya tersebut, Andre mendapat kesempatan yang tidak pernah dibayangkannya. Ia terpilih menjadi salah satu warga yang diundang ke Jakarta dan hadir dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka sebagai perwakilan penerima manfaat program rumah subsidi.

"Tentu senang, seperti dapat lotre," ungkapnya.