Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Upaya mengantisipasi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau mulai dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kegiatan tersebut ditandai dengan kesiapan pesawat modifikasi cuaca di Bandara Kalimarau, Senin (24/8/2026).
Operasi ini merupakan tindak lanjut permintaan Pemerintah Kabupaten Berau kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Pemerintah pusat kemudian memberikan dukungan melalui pelaksanaan OMC sebagai salah satu langkah untuk membantu mengendalikan dampak kondisi kering dan potensi karhutla.
Analis Kebencanaan Ahli Madya pada Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB, Tono Sumarsono, mengatakan operasi tersebut akan dilakukan dengan melibatkan sejumlah pihak, mulai dari BNPB, Direktorat Modifikasi Cuaca, BMKG, pemerintah daerah hingga pengelola bandara dan unsur terkait lainnya.
“Ini merupakan respons atas permintaan Bupati kepada Kepala BNPB dan Kepala BMKG. Salah satu dukungan yang kami berikan adalah melalui operasi modifikasi cuaca,” ujar Tono.
Untuk mendukung operasi tersebut, BNPB bekerja sama dengan penyedia jasa penerbangan. Pesawat yang digunakan yakni Cessna Grand Caravan 208B, yang mampu membawa sekitar satu ton bahan semai dalam satu kali operasi.
Total 10 ton garam penyemaian yang didatangkan dari Jakarta melalui Balikpapan, akan ditaburkan di langit Berau.
Tono menjelaskan, OMC tidak dilakukan berdasarkan jumlah penerbangan yang telah ditetapkan secara kaku. Pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi syarat untuk dilakukan penyemaian.
“Tidak ada target maksimal penerbangan per hari. Kalau dalam satu hari ada empat sampai lima sortir yang memungkinkan untuk dilakukan penyemaian, akan kami maksimalkan. Karena targetnya adalah membantu menurunkan hujan,” jelasnya.
Tim OMC akan memantau perkembangan awan dari posko operasi sepanjang hari. Ketika ditemukan awan yang berpotensi untuk disemai, proses persiapan penerbangan dilakukan dengan cepat. Bahkan, setelah mendapatkan rekomendasi penerbangan, pesawat ditargetkan dapat melakukan loading dalam waktu sekitar 30 menit sebelum diberangkatkan.
Operasi modifikasi cuaca untuk sementara dijadwalkan berlangsung selama lima hari. Selama periode tersebut, tim akan terus mengevaluasi kondisi cuaca dan potensi awan untuk menentukan waktu serta lokasi penyemaian yang paling memungkinkan.
“Untuk sementara lima hari dulu, karena pelaksanaannya mengikuti rekomendasi potensi awan yang ada,” kata Tono.
Ia menambahkan, sebelum penerbangan dilakukan, tim akan menggelar briefing lintas sektor setiap pagi. Kegiatan tersebut melibatkan BPBD, pemerintah daerah, pihak bandara, unsur TNI Angkatan Udara, penyedia layanan penerbangan serta Stasiun Meteorologi setempat.
Melalui operasi ini, pemerintah berharap peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan dapat ditingkatkan sehingga kondisi lahan yang kering dapat dikurangi dan risiko meluasnya karhutla di Berau bisa ditekan.


