Reporter: Aswin| Editor: Bambang Irawan
TENGGARONG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk menangani jalan longsor di Kecamatan Muara Muntai.
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, penanganan jalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah lantaran akses itu merupakan jalur penting bagi mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Aulia menyebut, setelah meninjau langsung kondisi jalan yang longsor, pihaknya segera menggelar rapat koordinasi bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Tadi malam kita melihat kondisi jalan di Muara Muntai yang longsor dan ini merupakan akibat dari proses bencana. Kami tadi malam langsung melakukan rapat koordinasi dengan pihak-pihak terkait,” kata Aulia. Rabu (26/8/2026)
Menurutnya, Pemkab Kukar telah melengkapi administrasi untuk menetapkan lokasi tersebut sebagai bagian dari kejadian bencana. Penetapan tersebut menjadi dasar pemerintah untuk melakukan penanganan menggunakan dana BTT yang telah dialokasikan dalam APBD.
Dalam penanganannya, terdapat empat langkah yang disiapkan pemerintah. Pertama, memastikan akses sementara tetap dapat dilalui kendaraan. Kedua, memasang rambu-rambu peringatan agar pengguna jalan lebih berhati-hati. Ketiga, menyediakan penerangan di sekitar lokasi. Keempat, melakukan penanganan secara menyeluruh atau permanen.
“Untuk penanganan secara utuh ini sekarang sudah berkoordinasi dari PU, dari Bina Marga, dengan bagian keuangan. Ketika ini sudah ditetapkan sebagai bagian dari bencana, maka kita bisa menggunakan dana BTT yang sudah teralokasi,” jelasnya.
Aulia menegaskan, penggunaan dana BTT dilakukan untuk memastikan jalur transportasi di Muara Muntai tidak sampai terputus total. Sebelumnya, dana BTT juga telah digunakan Pemkab Kukar untuk menangani sekolah yang mengalami kebakaran di Kecamatan Loa Janan.
“Kami ingin memastikan di sana tidak terjadi putus jalur transportasi. Karena kita paham bahwa ketika putus jalur transportasi, banyak daerah, utamanya di Kecamatan Muara Muntai, yang terganggu proses pengiriman logistik dan alur perpindahan orangnya yang ada di sana,” ujarnya.
Ia menambahkan, terputusnya akses juga dapat menyulitkan penanganan kondisi darurat, termasuk ketika masyarakat membutuhkan layanan ambulans.
“Termasuk kalau di sana ada yang sakit, ambulans dan sebagainya, itu susah untuk lewat. Oleh karena itu, karena kami dilaporkan di sana dan yang kami ketahui itu merupakan satu-satunya jalur yang bisa digunakan untuk lewat, makanya kita melakukan penanganan segera,” ungkap Aulia.
Untuk penanganan jangka panjang, Pemkab Kukar berencana mengalihkan jalur ke lahan yang berada di bagian belakang lokasi longsor.
Aulia mengatakan, pemilik lahan telah menyatakan kesediaannya untuk mewakafkan tanah tersebut sebagai akses jalan baru.
“Kita sudah berbicara dengan orang yang punya tanah yang di belakang itu dan beliau siap mewakafkan tanahnya untuk jalan. Kita akan belok ke belakang,” katanya.
Ia menjelaskan, bagian jalan yang telah ambruk tidak memungkinkan untuk dipulihkan dengan cara biasa karena kondisi tanah telah mengalami longsor cukup parah.
“Yang ambruk itu nggak bisa diapain lagi, sudah longsor. Karena dia bentuknya sudut segitiga. Ambruknya itu memotong begini, jadi kita nggak bisa bikin apa-apa lagi,” jelasnya.
Pemerintah daerah kini berpacu dengan waktu untuk menyelesaikan badan jalan alternatif tersebut sebelum memasuki periode hujan dengan intensitas tinggi.
Pasalnya, kondisi tanah di lokasi merupakan tanah rawa yang relatif keras saat musim kemarau, tetapi berpotensi kembali mengalami kendala ketika curah hujan meningkat.
“Karena sebenarnya tanah di sana itu tanah rawa. Sekarang ini, hanya musim kemarau, itu menjadi keras,” tuturnya.
Aulia menargetkan pembangunan badan jalan alternatif setidaknya dapat diselesaikan sebelum Oktober, mengingat berdasarkan perkiraan cuaca, curah hujan diprediksi mulai meningkat.
“Kita mengejar sebelum Oktober ini bagaimana badan jalannya minimal sudah bisa kita selesaikan,” tegasnya.
Sementara itu, akses sementara di lokasi longsor telah dapat digunakan. Penanganan awal dilakukan dengan bantuan perusahaan PT JMS yang menurunkan alat berat dan menghamparkan material batu.
“Sudah, tadi malam kita memastikan itu bisa dilewati. Kita dibantu oleh perusahaan PT JMS yang menurunkan alat berat dan menghampar batu di sana,” kata Aulia.
Meski demikian, akses tersebut masih lebih mudah dilalui kendaraan roda dua. Kendaraan roda empat menjadi perhatian karena bagian badan jalan yang tersisa cukup terbatas.
“Kalau roda dua kan masih bisa lewat jalan yang sedikit tersisa, yang bekas kemarin. Nah, jadi masalah ini yang roda empat,” ujarnya.
Mengenai besaran anggaran, Aulia mengatakan Dinas Pekerjaan Umum (PU) masih melakukan penghitungan kebutuhan biaya untuk menyelesaikan penanganan jalan tersebut.
“Hari ini saya baru dilaporkan dari PU, mereka menghitung berapa kebutuhan untuk penyelesaian. Kalau posnya kita gunakan dana BTT,” ungkapnya.
Pemkab Kukar juga masih mempertimbangkan metode pembangunan yang paling efektif, apakah dengan melakukan pengurukan atau membangun jembatan.
Menurut Aulia, panjang akses yang akan dibangun melalui jalur alternatif tersebut diperkirakan mencapai sekitar 100 meter.
“Alternatifnya adalah apakah ini kita uruk atau kita bangun jembatan, karena panjangnya lebih kurang 100 meter. Sepanjang jalan yang akan dilewati itu sekitar 100 meter,” jelasnya.
Ia mengapresiasi kesediaan masyarakat yang telah memberikan lahannya untuk mendukung pembangunan akses alternatif tersebut.
“Alhamdulillah ada dua orang yang punya tanah tersebut dan mereka mau mewakafkan tanahnya untuk ditindaklanjuti,” pungkas Aulia.


