Banner ADV

Kemarau Panjang Mulai Tekan Produksi Padi Berau, Petani Kini Andalkan Pompa Air

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Panjang Mulai Tekan Produksi Padi Berau, Petani Kini Andalkan Pompa Air

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)
Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Banner ADV

Kemarau Panjang Mulai Tekan Produksi Padi Berau, Petani Kini Andalkan Pompa Air

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini. (Foto: Nur Hidayah/ pusaranmedia.com)

Reporter : Nur Hidayah | Editor : Bambang Irawan

TANJUNG REDEB – Musim kemarau panjang mulai meninggalkan jejak pada sektor pertanian Kabupaten Berau. Kekurangan air membuat sebagian petani harus berjuang mempertahankan tanaman, sementara sebagian lainnya memilih menunda masa tanam hingga kondisi cuaca kembali mendukung.

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau mencatat produksi padi hingga Agustus 2026 baru mencapai sekitar 40 persen dari target tahunan yang ditetapkan lebih dari 8.800 ton. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kemarau diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.

Kepala DTPHP Berau, Lita Handini, mengungkapkan dampak paling terasa terjadi di sejumlah sentra pertanian. Kekeringan tidak hanya mengurangi produktivitas tanaman, tetapi juga membuat tanaman lebih rentan terhadap serangan hama dan penyakit.

Wilayah Buyung-Buyung dan Semurut, misalnya, masih mampu menghasilkan panen meski jumlahnya menurun. Kondisi lebih berat terjadi di Merancang karena sebagian besar tanaman mengalami kegagalan produksi. Sementara Tasuk dan Labanan masih relatif mampu bertahan, walaupun hasil panennya turut mengalami penurunan.

Untuk menyelamatkan tanaman yang masih memiliki peluang panen, DTPHP Berau mulai memperkuat dukungan berupa pompa air. Peralatan tersebut digunakan petani untuk mengambil sumber air yang masih tersedia dan mengalirkannya ke lahan yang terdampak kekeringan.

“Petani yang masih bisa panen bulan ini sebagian terbantu dengan pompa. Tetapi belum semua lahan memiliki fasilitas tersebut,” ujar Lita.

Persoalan berikutnya adalah sumber air yang semakin sulit dijangkau. Seiring panjangnya musim kering, beberapa titik sumber air berada semakin jauh dari lahan pertanian sehingga petani membutuhkan upaya lebih besar untuk memenuhi kebutuhan tanaman.

Tekanan kemarau juga mulai merembet ke komoditas jagung dan cabai. Petani jagung cenderung menahan penanaman sambil menunggu hujan, sedangkan tanaman cabai yang masih menghasilkan terus dipertahankan melalui penyiraman secara rutin.

Padi, jagung dan cabai sendiri menjadi tiga komoditas yang mendapat perhatian pemerintah daerah. Jika hujan baru kembali turun sekitar Oktober, DTPHP memperkirakan pola tanam dapat ikut bergeser hingga penghujung tahun.

DTPHP Berau kini terus memantau kondisi lahan dan perkembangan cuaca. Bagi pemerintah daerah, persoalan yang dihadapi bukan sekadar menjaga tanaman tetap hidup, tetapi juga memastikan gangguan akibat kemarau tidak berkembang menjadi penurunan produksi yang lebih besar hingga akhir 2026. (Adv)