Tiba di Berau, Menhut Turun Langsung Cek Karhutla yang Mengancam Habitat Orangutan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Menteri Kehutanan tinjau langsung lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. (Foto: Humas Prokopim)
Menteri Kehutanan tinjau langsung lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. (Foto: Humas Prokopim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Tiba di Berau, Menhut Turun Langsung Cek Karhutla yang Mengancam Habitat Orangutan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
3 menit baca
Menteri Kehutanan tinjau langsung lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. (Foto: Humas Prokopim)
Menteri Kehutanan tinjau langsung lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. (Foto: Humas Prokopim)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Tiba di Berau, Menhut Turun Langsung Cek Karhutla yang Mengancam Habitat Orangutan

Menteri Kehutanan tinjau langsung lokasi bekas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau. (Foto: Humas Prokopim)

Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan

TANJUNG REDEB - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau kini tak hanya menyangkut persoalan api dan asap. Di balik kawasan yang terbakar, terdapat habitat satwa liar yang ikut terancam. Kondisi inilah yang menjadi perhatian Menteri Kehutanan (Menhut) RI Raja Juli Antoni saat melakukan kunjungan kerja ke Bumi Batiwakkal, Rabu (26/8/2026).

Kunjungan Raja Juli ke Berau yakni memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal sekaligus memperkuat upaya perlindungan habitat satwa, khususnya orangutan. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian adalah Pusat Rehabilitasi Satwa (PRS) Long Sam di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay.

Raja Juli menegaskan, pemerintah tidak ingin penanganan kebakaran hanya berhenti pada upaya memadamkan api. Keselamatan satwa dan keberlangsungan ekosistem juga harus menjadi bagian dari penanganan bencana tersebut.

“Kami ingin memastikan orangutan di Berau, terutama di Kalimantan Timur, bisa selamat dari karhutla,” kata Raja Juli.

Berau sendiri menjadi salah satu kawasan penting dalam upaya konservasi orangutan di Kalimantan Timur. Karena itu, dalam kunjungannya, pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan lembaga konservasi dan para pegiat lingkungan. 

Salah satunya melalui penyerahan SK Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) mengenai pembentukan Kelompok Kerja Penyelamatan Orangutan di Landscape Keraitan.

Dukungan pemerintah juga diberikan kepada Conservation Action Network (CAN) Borneo melalui surat dukungan untuk memperkuat upaya penyelamatan orangutan. Langkah tersebut diharapkan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas, termasuk dalam penyediaan kawasan preservasi dan upaya menjaga habitat satwa agar tetap terlindungi.

Namun, agenda konservasi tersebut berjalan beriringan dengan situasi darurat karhutla yang masih menjadi perhatian utama. Pemerintah saat ini mengandalkan berbagai langkah, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang terdampak kebakaran.

Raja Juli menyebut OMC di Berau telah berjalan selama dua hari dan akan dilanjutkan selama lima hari ke depan, dengan tetap melihat perkembangan kondisi atmosfer. Menurutnya, keberadaan awan yang memiliki potensi hujan menjadi faktor penting dalam pelaksanaan operasi tersebut.

“Selama ada awan yang berpotensi hujan, kita akan melakukan OMC. Jadi kita akan maksimalkan di Berau,” tegasnya.

Ia menambahkan, rehabilitasi kawasan yang terbakar belum menjadi fokus utama karena pemerintah masih berada pada tahap pengendalian dan pemadaman. Pemulihan hutan akan dilakukan setelah kondisi kebakaran benar-benar terkendali.

Bupati Berau Sri Juniarsih Mas menyambut baik kunjungan Menteri Kehutanan tersebut. Menurutnya, kehadiran pemerintah pusat menjadi penguat koordinasi dalam menghadapi karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah Berau.

“Tujuan beliau adalah memastikan keadaan kebakaran hutan yang sedang terjadi,” ujar Sri Juniarsih.

Sri mengatakan, Pemkab Berau sejak awal telah berkoordinasi dengan BNPB, BPBD, BMKG dan sejumlah unsur terkait untuk memperkuat penanganan karhutla. Salah satu hasil koordinasi tersebut adalah dukungan OMC yang kini telah dilaksanakan di Berau.

“Dua hari kemudian pesawat landing di sini,” ungkapnya.

Pemkab Berau berharap OMC yang masih berlangsung dapat memicu hujan sehingga membantu mempercepat penanganan kebakaran. Setelah kondisi darurat teratasi, pemerintah daerah juga akan mendorong pemulihan kawasan terdampak dengan melibatkan perusahaan dan pihak ketiga.

“Kita akan bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan dan pihak ketiga untuk mengembalikan hutan yang hilang,” tegas Sri.

Menurutnya, perlindungan hutan tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Masyarakat juga memiliki peran penting, terutama dalam mencegah munculnya titik api baru. Sri mengingatkan agar pembukaan lahan tidak dilakukan dengan cara membakar.

Ia menegaskan, pembakaran hutan secara sengaja akan berhadapan dengan proses hukum. “Kalau ada yang sengaja membuka hutan dengan membakar, itu akan ditindak oleh kepolisian,” pungkasnya.

Kunjungan Menhut ke Berau pun menjadi momentum untuk mempertemukan dua kepentingan yang sama-sama mendesak: memadamkan ancaman karhutla saat ini dan memastikan hutan yang tersisa tetap menjadi rumah bagi satwa liar. 

Bagi Berau, upaya menyelamatkan orangutan pada akhirnya tidak hanya berarti menjaga satu jenis satwa, tetapi juga mempertahankan ekosistem hutan yang menjadi penyangga kehidupan.