Narkoba Masuk Lingkungan Sekolah, DPRD Samarinda Minta Pemetaan Titik Rawan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Narkoba Masuk Lingkungan Sekolah, DPRD Samarinda Minta Pemetaan Titik Rawan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Narkoba Masuk Lingkungan Sekolah, DPRD Samarinda Minta Pemetaan Titik Rawan

Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Ismail Latisi. (Foto: Tri/Pusaranmedia.com)

Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA — Terjaringnya 12 siswa SMP di Samarinda dalam kasus dugaan penyalahgunaan narkoba menjadi perhatian serius DPRD Kota Samarinda. Jumlah tersebut dinilai bukan angka kecil, terlebih peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sekolah saat pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).

Anggota Komisi IV DPRD Samarinda, Ismail Latisi menyayangkan kejadian tersebut dan menilai kasus ini harus menjadi bahan evaluasi bagi sekolah maupun pemerintah daerah, khususnya dalam pengawasan terhadap siswa.

“Ini menjadi otokritik, baik sekolah, Dinas Pendidikan, termasuk kemudian pemerintah. Karena ini terjadinya di lingkungan sekolah, itu yang membuat kita agak miris dan sedih,” ujar Latisi.

Menurutnya, kegiatan MPLS tidak seharusnya menjadi alasan berkurangnya pengawasan terhadap siswa. Ia menilai pembagian tugas guru selama kegiatan tersebut perlu diperhatikan agar siswa tetap berada dalam pengawasan.

Latisi bahkan mengkhawatirkan 12 siswa yang terjaring tersebut hanya menjadi bagian kecil dari persoalan penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.

“Jangan sampai ini merupakan fenomena gunung es, yang kebetulan kemudian terjaring 12 anak itu. Sementara bagaimana kemudian dengan yang lain-lain,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah melakukan pengawasan yang lebih kuat dengan melibatkan berbagai sektor. Menurutnya, persoalan narkoba di kalangan pelajar tidak dapat diselesaikan hanya oleh sekolah maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud). 

Menurutnya Disdikbud tetap dinilai perlu menjadi leading sector, namun harus diperkuat dengan keterlibatan Badan Narkotika Nasional (BNN), kepolisian, Dinas Kesehatan, hingga orang tua.

Selain sosialisasi yang lebih masif, Latisi juga mendorong adanya pemetaan wilayah maupun sekolah yang dianggap rawan peredaran narkoba.

Menurutnya, sekolah yang berada di wilayah rawan perlu mendapatkan perhatian dan penanganan ekstra, termasuk edukasi pencegahan yang dilakukan secara berkala.

"Sosialisasi yang lebih masif dilakukan, pendidikan dengan menggandeng BNN Kota Samarinda,” jelasnya.

Ia menilai temuan 12 pelajar tersebut harus menjadi peringatan bagi pemerintah agar tidak hanya fokus pada penanganan setelah siswa terjerat narkoba, tetapi juga memperkuat upaya pencegahan.

“Ini warning, betul-betul warning. Bayangkan dalam satu sekolah, 12 orang anak ditemukan. Dua belas ini bukan angka sedikit,” pungkasnya.