Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Berau tak hanya meninggalkan persoalan asap dan rusaknya tutupan hutan.
Kini dampaknya mulai dirasakan satwa liar yang kehilangan ruang hidup dan sumber makanan.
Salah satu tanda mulai terganggunya habitat satwa terlihat ketika seekor burung rangkong atau enggang ditemukan berada di kawasan pusat Kota Tanjung Redeb. Kehadiran satwa khas Kalimantan itu menjadi perhatian karena kemunculannya di area perkotaan diduga berkaitan dengan kondisi habitat yang semakin tertekan.
Kepala Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Berau pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur, Yulian Sadono, mengatakan pihaknya langsung melakukan penyelamatan setelah menerima laporan mengenai keberadaan rangkong tersebut.
“Kami langsung bergerak cepat melakukan penyelamatan Rangkong itu karena merupakan salah satu hewan endemik khas di Berau. Saat ini sudah ada di CAN (CITES – Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora),” ungkap Yulian.
Menurutnya, kejadian serupa perlu diantisipasi seiring meningkatnya tekanan terhadap habitat satwa akibat karhutla. BKSDA selama ini juga berkoordinasi dengan Pemadam Kebakaran (Damkar) Berau apabila terdapat satwa liar, khususnya satwa dilindungi, yang masuk ke kawasan permukiman maupun perkotaan.
“Untuk saat ini laporan yang masuk ke kami baru seekor burung Rangkong saja. Tapi kalau memang ada kejadian serupa, bisa langsung hubungi pihak Damkar atau langsung ke BKSDA, karena itu memang ranah kami,” jelasnya.
Yulian menegaskan, hilangnya habitat bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berdampak pada keberadaan satwa endemik yang menjadi bagian penting dari kekayaan alam Berau. Rangkong, orangutan, dan berbagai satwa khas Kalimantan lainnya bahkan menjadi salah satu daya tarik kawasan wisata alam Berau.
Ancaman tersebut juga menjadi perhatian dalam upaya rehabilitasi orangutan di Sekolah Hutan Conservation Action Network (CAN) Borneo, Kampung Merasa, Kecamatan Kelay.
Tiga orangutan bernama Hanes, Jack, dan Lukas yang tengah menjalani proses rehabilitasi turut mendapat perhatian dari Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad.
Raffi datang langsung untuk melihat kondisi ketiga orangutan sekaligus mengetahui perkembangan pemulihan satwa yang berada dalam pengawasan lembaga konservasi.
Didampingi Irfan Hakim dan Gading Marten, ia juga melihat lingkungan sekolah hutan dan mendapat penjelasan mengenai proses rehabilitasi orangutan.
Kunjungan tersebut menjadi penting di tengah ancaman kerusakan habitat akibat karhutla. Kebakaran dapat mengurangi tutupan hutan sekaligus mengganggu ketersediaan pakan dan ruang jelajah satwa. Kondisi itu membuat upaya penyelamatan tidak cukup hanya dengan mengevakuasi satwa yang keluar dari habitatnya, tetapi juga membutuhkan perlindungan terhadap kawasan yang menjadi rumah mereka.
Raffi mengaku prihatin melihat ancaman kerusakan habitat yang dihadapi satwa liar. Namun, ia juga mengapresiasi keberadaan pihak-pihak yang masih konsisten merawat dan memulihkan satwa endemik Kalimantan.
“Melihat langsung kondisi mereka tentu membuat kita prihatin. Satwa seperti orangutan ini tidak bisa menjaga dirinya sendiri ketika habitatnya rusak, jadi kita yang harus ikut mengambil peran untuk melindunginya,” kata Raffi.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa dampak karhutla di Berau tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Ketika hutan kehilangan fungsi sebagai rumah, satwa liar bisa terdorong keluar dari habitatnya dan masuk ke wilayah manusia.
Karena itu, perlindungan habitat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla. Menyelamatkan satwa yang terjebak atau keluar dari kawasan hutan merupakan langkah darurat, tetapi menjaga agar mereka tetap memiliki rumah untuk kembali menjadi pekerjaan yang jauh lebih besar.


