Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Kemarau yang melanda Samarinda mulai berdampak terhadap lahan pertanian. Sekitar 654,5 hektare lahan pertanian tercatat terdampak kekeringan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Ketapang Tani) Kota Samarinda, Muhammad Darham, mengatakan potensi gagal panen akibat kekeringan relatif kecil. Sebab, sebagian besar petani saat ini berada pada masa panen sehingga kebutuhan air di lahan mulai dikurangi.
Menurutnya, kondisi yang lebih dikhawatirkan justru bergesernya musim tanam apabila kemarau berlangsung lebih panjang. Setelah panen, petani idealnya segera melakukan pengolahan tanah sebelum kembali menanam.
“Paling tidak satu minggu setelah panen, mengolah tanah dan sebagainya, kemudian setengah bulan baru kita menanam. Waktu menanam itu air harus ada di situ,” jelas Darham.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan, petani saat ini masih memanfaatkan sumber air yang tersedia, termasuk sumur yang masih memiliki cadangan air. Upaya tersebut dilakukan sebagai langkah mitigasi agar aktivitas pertanian tetap berjalan.
Namun, kondisi berbeda terjadi di kawasan Pulau Atas, Kecamatan Sambutan. Darham menyebut lahan pertanian di kawasan tersebut mulai terpengaruh masuknya air asin akibat kondisi pasang surut.
Padahal, kawasan Pulau Atas ditargetkan dapat menghasilkan hingga empat kali panen. Dengan adanya kemarau dan intrusi air asin, target tersebut diperkirakan sulit tercapai.
“Mudah-mudahan bisa sampai target dua atau tiga kali panen,” katanya.
Darham merinci, dari 654,5 hektare lahan yang terdampak kekeringan, komoditas yang mengalami dampak meliputi padi, jagung, sayuran, tanaman hortikultura, singkong, ubi, dan kacang.
Jika kemarau terus berlanjut, pemerintah menilai kebutuhan utama petani adalah dukungan peralatan untuk mendapatkan sumber air. Di antaranya pompa, selang, benih, sumur bor, hingga pompa berkapasitas tinggi untuk mengalirkan air ke lahan yang berada di dataran lebih tinggi.
“Ditambah lagi sumur bor, mudah-mudahan dapat sumur bor baru lagi,” ungkapnya.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, pihaknya memperkirakan anggaran sekitar Rp183 juta diperlukan untuk membantu penyediaan peralatan dan benih bagi petani terdampak.


