Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan
BALIKPAPAN - Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) tak ingin pembangunan Nusantara hanya berhenti sebagai pusat pemerintahan.
Kawasan ini juga diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru, termasuk dengan membuka peluang investasi dan penguatan ekosistem energi bersama stakeholder, seperti Pertamina dan lainnya.
Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi OIKN, Sudiro Roi Santoso mengatakan, pengembangan IKN diarahkan tidak hanya untuk mendukung pemindahan ibu kota politik, tetapi juga menciptakan pusat aktivitas ekonomi baru di Indonesia.
"Selain kepindahan ibu kota politik di sini, ini adalah menjadi suatu kawasan pusat pertumbuhan ekonomi baru di wilayah Indonesia," kata Roi sapaannya, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, keberadaan pusat ekonomi baru di IKN diharapkan dapat mendorong pemerataan pertumbuhan antara wilayah barat, tengah, dan timur Indonesia.
OIKN juga tengah mendorong masuknya berbagai sektor usaha, mulai dari perhotelan, hunian, pendidikan hingga transportasi udara.
Salah satu peluang yang tengah dijajaki adalah pengembangan Bandara Nusantara menjadi bandara komersial. Saat ini, bandara tersebut masih berstatus sebagai bandara VVIP.
Rio mengatakan, rencana pengembangan bandara tersebut juga membuka peluang masuknya investasi Lion Group untuk membangun fasilitas Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) yang sebelumnya dikembangkan di Batam.
Namun, pengembangan tersebut membutuhkan dukungan ekosistem energi, khususnya ketersediaan avtur untuk mendukung operasional penerbangan.
"Salah satu yang dibutuhkan dari Pertamina adalah bagaimana pengelolaan avtur ada di sini. Kalau itu memang bisa dilakukan di sini, logistik dari pesawat itu akan jauh lebih menguntungkan," ujarnya.
Menurut Roi, Lion Group bahkan melihat potensi besar apabila fasilitas MRO dan dukungan avtur dapat dikembangkan di IKN. Hal itu dinilai dapat menarik aktivitas penerbangan dari jaringan Lion Group di kawasan Asia Tenggara ke Nusantara.
"Kalau memang itu bisa dilakukan di sini, Lion Group yang ada di Malaysia dan Thailand itu lari semua ke sini," katanya.
Karena itu, OIKN mendorong sinergi dengan Pertamina agar pengembangan ekosistem penerbangan dan energi di IKN dapat berjalan secara terintegrasi.
"Kami mencoba kerja sama dengan Lion Group bersama-sama dengan Bank Tanah dan Kementerian Perhubungan untuk pengelolaan Bandara Nusantara. Mudah-mudahan nanti kami bisa jajaki kerja sama juga dengan Pertamina," ujarnya.
Selain sektor penerbangan, Sudiro mengatakan pembangunan IKN juga terus diarahkan untuk membentuk ekosistem perkotaan yang lengkap.
Sejumlah fasilitas seperti perkantoran pemerintahan, rumah sakit, sekolah, perguruan tinggi, hotel, hingga kawasan hunian mulai tersedia.
OIKN juga tengah membangun kawasan dengan konsep Forest City, Smart City, dan Sponge City.
Dari total kawasan yang dikelola, pembangunan diarahkan agar tidak menghilangkan dominasi kawasan hijau.
"Forest City ini kita mencoba membangun kawasan yang bisa hidup bersama-sama dengan alam. Targetnya kawasan yang dibangun hanya sekitar 35 persen, sedangkan 65 persennya adalah kawasan hutan," jelasnya.
Untuk konsep Sponge City, OIKN menyiapkan sistem pengelolaan air dengan menampung aliran permukaan melalui bendungan dan embung sehingga air tidak langsung terbuang dan menyebabkan limpasan yang tidak terkendali.
Sementara konsep Smart City diarahkan agar IKN pada 2045 menjadi kota yang mengandalkan teknologi digital dalam berbagai aspek pelayanan dan aktivitas perkotaan.
Roi menambahkan, pembangunan IKN saat ini telah memasuki tahap kedua, yakni pembangunan fasilitas legislatif dan yudikatif pada periode 2025-2029.
Pemerintah menargetkan kelengkapan tiga cabang kekuasaan, yakni eksekutif, legislatif, dan yudikatif, dapat mendukung penetapan IKN sebagai ibu kota politik pada 2028.
Namun, menurut Roi, tantangan terbesar bukan sekadar membangun infrastruktur, melainkan memindahkan kehidupan masyarakat ke Nusantara.
"Yang menjadikan satu tantangan buat kami, membangun mudah, tapi pindah itu susah. Pindah itu tidak hanya memindahkan orang, tapi memindahkan bagaimana kehidupannya juga," katanya.
Karena itu, OIKN terus mendorong masuknya berbagai aktivitas ekonomi agar masyarakat yang nantinya tinggal di IKN memiliki kebutuhan hidup yang dapat dipenuhi di kawasan tersebut.
"Kami juga tawarkan kebutuhan tempat makan di sini. Kalau saat ini tempat makan masih sangat terbatas, itu juga tawaran-tawaran yang kita dorong," ujarnya.
Menurutnya, pertumbuhan kawasan pendidikan juga berpotensi mendorong sektor hunian, perhotelan, kuliner, dan jasa.
Ia mencontohkan keberadaan SMA Taruna Nusantara di IKN yang saat ini telah memiliki sekitar 230 siswa dan akan kembali menerima lebih dari 200 siswa baru.
"Kalau satu anaknya masuk di Taruna Nusantara, yang nengok itu bapaknya, ibunya, anaknya, neneknya. Mereka butuh tempat tinggal. Kebutuhannya banyak," pungkasnya.


