Intrusi Air Laut Hentikan Operasional PDAM di Anggana dan Sangasanga, 7.500 Pelanggan Terdampak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Intrusi Air Laut Hentikan Operasional PDAM di Anggana dan Sangasanga, 7.500 Pelanggan Terdampak

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
4 menit baca
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)
Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Intrusi Air Laut Hentikan Operasional PDAM di Anggana dan Sangasanga, 7.500 Pelanggan Terdampak

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno (Foto: Aswin/pusaranmedia.com)

Reporter: Aswin | Editor: Bambang Irawan

TENGGARONG - Perumda Tirta Mahakam terpaksa menghentikan sementara operasional pelayanan air bersih di Kecamatan Anggana dan Sangasanga, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Keputusan tersebut diambil setelah kadar klorida pada air baku Sungai Mahakam mengalami peningkatan signifikan akibat intrusi air laut.

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam, Suparno, mengatakan kadar klorida di sumber air baku telah jauh melampaui batas yang diperbolehkan untuk operasional.

“Ambang batas kita untuk bisa dilakukan operasi itu 250. Kemarin kadarnya sampai 3.600, sehingga kami menghentikan operasi untuk dua kecamatan, yakni Anggana dan Sanga-Sanga,” ujar Suparno. Jumat (28/8/2026)

Penghentian operasional tersebut berdampak langsung terhadap sekitar 7.500 pelanggan. Dari jumlah tersebut, sekitar 3.800 pelanggan berada di Kecamatan Anggana, sementara sisanya merupakan pelanggan di Sangasanga.

Suparno menjelaskan, keputusan penghentian bukan lantaran adanya unsur kesengajaan dari pihak Perumda Tirta Mahakam. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk kehati-hatian untuk memastikan air yang disalurkan kepada masyarakat tetap memenuhi standar kualitas.

“Kami mohon kepada masyarakat untuk memahami. Penghentian ini tidak ada unsur sengaja dari Perumda Tirta Mahakam, tetapi semata-mata untuk menjaga kualitas air yang nantinya digunakan masyarakat pelanggan kami,” katanya.

Menurutnya, kondisi air yang terdampak intrusi air laut juga membuat rasa air berubah menjadi asin. Untuk sementara, masyarakat diimbau menggunakan air yang tersedia hanya untuk kebutuhan mandi, cuci, kakus (MCK), selama kualitasnya belum memenuhi standar untuk konsumsi.

Selain berdampak terhadap kualitas air, tingginya kadar klorida juga dikhawatirkan dapat merusak sejumlah peralatan operasional. Salah satunya pompa injeksi yang selama ini digunakan untuk mendukung proses pengolahan dan distribusi air.

“Air bakunya yang tadinya tawar kemudian menjadi asin. Ini juga akan mempengaruhi peralatan yang kita miliki, seperti pompa injeksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika operasional tetap dipaksakan dalam kondisi tersebut, terdapat pula kekhawatiran terhadap kesehatan masyarakat.

Di tengah kondisi tersebut, Perumda Tirta Mahakam terus melakukan pemantauan terhadap kualitas air Sungai Mahakam. Pengukuran dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi pasang dan surut air.

“Pasang surut ini kita pantau. Pada saat pasang berapa kadarnya, kemudian ketika air turun berapa. Di antara kondisi itu akan kita lakukan pemantauan,” terang Suparno.

Pihaknya berharap hujan segera turun, khususnya di wilayah hulu Sungai Mahakam. Debit air dari hulu diharapkan mampu menahan masuknya air laut ke wilayah sungai yang menjadi sumber air baku.

“Kami berharap mudah-mudahan dalam minggu ini terjadi hujan di wilayah hulu, sehingga intrusi air laut dapat tertahan oleh air yang berasal dari hulu,” ujarnya.

Sebagai langkah mitigasi, Perumda Tirta Mahakam juga berkoordinasi dengan Perumdam Tirta Kencana Samarinda untuk mendapatkan suplai air bersih dari wilayah Loa Janan.

Air tersebut nantinya diangkut menggunakan mobil tangki untuk memenuhi sebagian kebutuhan masyarakat, khususnya di Kecamatan Anggana.

“PDAM tentunya tidak berdiam diri. Kami sedang berupaya mengambil air dari Loa Janan, dari Samarinda, dengan bantuan PDAM Samarinda untuk memberikan suplai, terutama bagi kebutuhan masyarakat,” kata Suparno.

Ia mengakui suplai tersebut belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan pelanggan. Namun, langkah itu setidaknya diharapkan dapat mengurangi dampak penghentian distribusi air.

Masyarakat juga dipersilakan mengambil air di instalasi milik Perumda Tirta Mahakam di Anggana. Selain itu, distribusi menggunakan mobil tangki akan terus dilakukan dengan sumber air yang memenuhi persyaratan.

“Samarinda saat ini belum asin, sehingga kami meminta bantuan teman-teman PDAM Samarinda untuk mendapatkan sumber air yang kemudian kami bawa menggunakan mobil tangki ke Anggana,” jelasnya.

Suparno mengatakan wilayah pesisir Kukar menjadi daerah yang perlu mendapat perhatian lebih selama musim kemarau. Sejumlah kecamatan yang berada di kawasan pesisir antara lain Muara Jawa, Samboja, Muara Badak dan Anggana.

Kendati demikian, kondisi di Kecamatan Muara Jawa sejauh ini masih relatif aman karena sumber air bakunya berasal dari sumur dalam.

“Alhamdulillah untuk Muara Jawa saat ini belum terdampak karena sumber air bakunya menggunakan sumur-sumur dalam,” ungkapnya.

Namun, kondisi tersebut bukan berarti terbebas dari ancaman apabila kemarau berlangsung dalam waktu panjang. Penurunan kapasitas sumber air dalam tetap berpotensi terjadi akibat minimnya curah hujan.

“Kalau kemarau ini berkelanjutan, tidak menutup kemungkinan kapasitasnya juga akan menurun. Satu sumur biasanya kita ambil sekitar 20 liter per detik. Dengan tidak turunnya hujan, saya khawatir sumber air dalam itu juga akan terpengaruh,” jelas Suparno.

Menghadapi kondisi tersebut, Perumda Tirta Mahakam meminta masyarakat menggunakan air bersih secara bijak. Warga yang masih mendapatkan aliran air juga disarankan menampung air sebagai persediaan.

“Kami mengimbau masyarakat untuk menampung air bersih selama masih bisa mengalir. Kemudian yang kedua, menghemat. Artinya, bijaklah dalam menggunakan air bersih,” pungkasnya.

Suparno kembali menyampaikan permohonan maaf kepada pelanggan atas terganggunya pelayanan. Ia menegaskan kondisi tersebut merupakan dampak fenomena alam yang tidak hanya terjadi di Kukar, tetapi juga dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.