Penasihat Khusus Presiden Jadi Khatib Jumat Perdana di Masjid Negara IKN, Ini Pesan Khutbahnya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Negara IKN, Jumat (28/8/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Negara IKN, Jumat (28/8/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Penasihat Khusus Presiden Jadi Khatib Jumat Perdana di Masjid Negara IKN, Ini Pesan Khutbahnya

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
5 menit baca
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Negara IKN, Jumat (28/8/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)
Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Negara IKN, Jumat (28/8/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Penasihat Khusus Presiden Jadi Khatib Jumat Perdana di Masjid Negara IKN, Ini Pesan Khutbahnya

Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Negara IKN, Jumat (28/8/2026). (Foto: Achmad Fadillah/Pusaranmedia.com)

Reporter: Achmad Fadillah | Editor: Bambang Irawan

BALIKPAPAN - Penasihat Khusus Presiden Bidang Haji, Prof Muhadjir Effendy, menjadi khatib Salat Jumat untuk pertama kalinya di Masjid Negara Ibu Kota Nusantara (IKN), Jumat (28/8/2026).

Dalam khutbahnya, Muhadjir menyampaikan pesan tentang pentingnya meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. 

Pesan tersebut juga dinilai sejalan dengan semangat pembangunan IKN, yakni tidak sekadar memindahkan pusat pemerintahan, tetapi juga membangun kehidupan baru yang berlandaskan nilai-nilai spiritual.

Mengawali khutbah, Muhadjir mengutip Surat At-Taubah ayat 111 dan 112 yang menjelaskan tentang hubungan atau transaksi antara Allah SWT dengan orang-orang beriman.

Dalam ayat tersebut, Allah menjanjikan surga bagi orang-orang beriman yang menyerahkan jiwa dan hartanya di jalan Allah.

Menurut Muhadjir, pesan utama dari ayat tersebut adalah agar umat Islam terus mengevaluasi tingkat ketakwaannya. 

Sebab, bertambahnya usia seharusnya diikuti dengan meningkatnya ketakwaan kepada Allah SWT.

"Seharusnya, semakin berkurang waktu kita di dunia ini, makin berkurang umur kita, semakin meningkat ketakwaan kita, sehingga sampai pada puncak ketakwaan itu sendiri," ujar Muhadjir.

Ia mengatakan, ketakwaan berarti melaksanakan dan mematuhi perintah Allah SWT serta menjauhi segala sesuatu yang dilarang.

Menurutnya, seruan mengenai ketakwaan selalu disampaikan dalam khotbah Jumat karena umat Islam perlu melakukan evaluasi secara rutin. Setiap pekan, seseorang perlu bertanya kepada dirinya apakah ketakwaannya mengalami peningkatan atau justru mengalami penurunan.

"Dengan puncak ketakwaan itulah yang menjadi bimbingan, menjadi tujuan, menjadi cita-cita kita semua lantaran menuju keridaan Allah SWT," katanya.

Muhadjir kemudian menjelaskan sejumlah golongan orang beriman yang disebut dalam Surat At-Taubah ayat 111 dan 112 sebagai mereka yang melakukan "transaksi" dengan Allah SWT.

Pertama adalah orang-orang yang berjuang di jalan Allah. Menurutnya, ayat tersebut pertama kali menyebut mereka yang berjuang dengan risiko terbunuh atau membunuh dalam peperangan.

Ia mencontohkan para pejuang Palestina yang mempertahankan wilayah dan tempat tinggal mereka.

"Kalau dia tidak membunuh, dia akan terbunuh. Dan ini adalah termasuk kategori orang-orang yang telah bertransaksi dengan Allah," tuturnya.

Namun, menurut Muhadjir, jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak hanya melalui perjuangan dalam peperangan. Allah memberikan ruang yang luas bagi orang-orang beriman untuk mendapatkan keridaan-Nya.

Kedua adalah orang-orang yang bertobat. Muhadjir menjelaskan, pertobatan tidak cukup hanya dengan berhenti melakukan dosa. Tobat harus diikuti dengan keimanan dan perbuatan baik.

Ia mengutip Surat Al-Furqan yang menjelaskan bahwa orang yang bertobat, beriman, dan mengerjakan amal saleh akan mendapatkan ampunan Allah SWT. Bahkan, keburukan yang pernah dilakukan dapat diganti dengan kebaikan.

"Jadi kalau hanya sekadar kapok saja tidak. Saya kapok, saya tidak mau mencuri lagi, tetapi tidak berbuat baik. Maka dia tidak termasuk tobat," ujarnya.

Menurutnya, orang yang pernah melakukan kesalahan harus berusaha menebusnya dengan memperbanyak perbuatan baik.

Ketiga adalah orang-orang yang mengabdikan hidupnya kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah.

Muhadjir menjelaskan, mereka adalah orang-orang yang menyerahkan kehidupannya untuk beribadah dan menjadikan pengabdian kepada Allah sebagai tujuan hidup.

"Orang-orang ini yang termasuk kategorinya adalah orang-orang yang betul-betul telah menyerahkan diri kepada Allah, tidak peduli dengan urusan dunia lagi, waktunya hanya diisi dengan ibadah kepada Allah," katanya.

Keempat adalah orang-orang yang senantiasa memuji dan mensyukuri nikmat Allah SWT.

Menurut Muhadjir, rasa syukur tidak cukup hanya diucapkan dengan "Alhamdulillah", tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

Salah satunya dengan menggunakan harta yang diberikan Allah untuk membantu sesama melalui zakat, infak, dan sedekah.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak bersikap pelit, tetapi juga tidak berlebihan dalam membelanjakan harta.

"Jadi pelit tidak boleh, boros juga tidak," katanya.

Muhadjir mengatakan, semakin banyak rezeki yang diterima seseorang, semakin besar pula tanggung jawab untuk berbagi kepada orang lain.

Ia mencontohkan seseorang yang mendapatkan harta dalam jumlah besar tidak seharusnya menghabiskan seluruhnya untuk kepentingan pribadi. Sebagian harta tersebut harus dikeluarkan untuk membantu sesama.

Kelima adalah orang-orang yang melakukan perjalanan untuk menyebarkan ajaran Islam dan menegakkan kalimat Allah SWT.

Muhadjir mencontohkan para penyebar Islam yang datang ke Indonesia dari berbagai wilayah, termasuk Arab, Yaman, dan Gujarat.

Menurutnya, para penyebar Islam tersebut tidak hanya berdagang, tetapi juga menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat. Dari proses tersebut, Islam kemudian berkembang di Indonesia.

"Indonesia ini jangan-jangan Islam berkembang di sini karena ini disebarkan oleh para penyebar ajaran Islam," katanya.

Keenam adalah orang-orang yang memperbanyak rukuk dan sujud, khususnya melalui salat wajib dan salat sunnah.

Muhadjir secara khusus menekankan pentingnya salat malam atau tahajud sebagai salah satu bentuk ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Menurutnya, salat sunnah menjadi penyempurna salat wajib. Ia menilai salat malam memiliki keutamaan tersendiri karena secara khusus disebutkan dalam Al-Qur'an.

"Karena itu saya selalu kalau bertanya kepada mahasiswa, siapa yang salat malamnya sudah menjadi spesialisasi, maka dia termasuk orang yang bertransaksi dengan Allah," tuturnya.

Ketujuh adalah orang-orang yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Muhadjir mengatakan, mengajak kepada kebaikan harus dimulai dari diri sendiri sebelum mengajak orang lain. 

Begitu pula dengan mencegah kemungkaran, harus dimulai dengan menjauhkan diri sendiri dari perbuatan yang dilarang Allah SWT.

"Yang pertama mengajak diri sendiri, baru mengajak orang lain untuk berbuat baik di jalan Allah," katanya.

Kedelapan adalah orang-orang yang menjaga dan menegakkan aturan Allah SWT.

Menurut Muhadjir, umat Islam harus berusaha menjaga batas-batas yang telah ditetapkan Allah serta menghindari perbuatan yang dilarang.

Ia mengingatkan agar seseorang ketika dihadapkan pada pilihan antara perbuatan yang baik dan buruk, memilih untuk menjauhi dosa dan beralih kepada hal-hal yang lebih baik.

Pada bagian kedua khotbah, Muhadjir kembali mengingatkan jemaah mengenai pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.

"Dari khotbah yang pertama tadi, saya ingin memberikan resume bahwa kita diminta oleh Allah supaya bisa merasa dekat dengan Allah," ujarnya.

Menurutnya, kedekatan dengan Allah dapat diwujudkan melalui berbagai jalan. Salah satunya adalah perjuangan di jalan Allah, sebagaimana dilakukan para pejuang yang mempertahankan wilayah dan kehidupannya.

Namun, bagi masyarakat yang tidak berada dalam situasi peperangan, masih terdapat jalan lain untuk mendekatkan diri kepada Allah, seperti bertobat, memperbanyak ibadah, bersyukur, menyebarkan kebaikan, memperbanyak salat sunnah, serta mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran.

Muhadjir mengatakan, kehidupan manusia harus diarahkan agar semakin dekat dengan Allah SWT. 

Menurutnya, berbagai ilmu pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki manusia juga semestinya digunakan untuk membawa kebaikan dan nilai-nilai agama dalam kehidupan.

Ia mengajak jemaah agar menjadi orang-orang yang membawa kebaikan dan menyebarkan nilai-nilai Islam di mana pun berada.

"Kalau tidak bisa melaksanakan delapan atau tujuh tadi, paling tidak satu atau dua yang kita pegang teguh, sehingga kita Insya Allah menjadi golongan yang dekat dengan Allah," katanya.

Menurut Muhadjir, seseorang tidak harus mampu menjalankan seluruh bentuk pengabdian tersebut sekaligus. Yang terpenting adalah memiliki amalan yang dipegang teguh dan dilakukan secara konsisten.

Ia berharap jemaah Masjid Negara IKN menjadi bagian dari orang-orang yang senantiasa merasa dekat dengan Allah SWT dan mendapatkan rahmat serta kebaikan dari-Nya.

"Yang dekat dan merasa dekat, Insya Allah akan mendapatkan hadiah dari Allah, imbalan dari Allah, imbalan kebaikan-kebaikan dari Allah SWT," pungkasnya.