Kematian Ibu dan Bayi Masih Terjadi di Kutim, Akses Rujukan Jadi Salah Satu Kendala

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kematian Ibu dan Bayi Masih Terjadi di Kutim, Akses Rujukan Jadi Salah Satu Kendala

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kematian Ibu dan Bayi Masih Terjadi di Kutim, Akses Rujukan Jadi Salah Satu Kendala

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Timur, dr Yuwana Sri Kurniawati. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Persoalan akses menuju rumah sakit masih menjadi tantangan dalam penanganan ibu dan bayi di sejumlah wilayah terpencil Kabupaten Kutim.

Jarak, kondisi geografis hingga keterbatasan transportasi dapat memperlambat proses rujukan ketika ibu membutuhkan penanganan medis segera.

Kepala Dinas Kesehatan Kutim, dr Yuwana Sri Kurniawati, mengatakan angka kematian ibu dan bayi di Kutim telah mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. 

Namun, kasus kematian masih ditemukan sehingga kesehatan ibu dan anak tetap menjadi perhatian pemerintah daerah.

“Ya, kita akui memang masih ada walaupun sudah turun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ini menjadi perhatian kita semua bahwa memang kesehatan ibu dan anak sangat penting diperhatikan,” ujar Yuwana.

Menurutnya, persoalan kematian ibu dan bayi tidak disebabkan satu faktor. Salah satunya berkaitan dengan akses dan transportasi, terutama dalam proses pengiriman pasien dari desa atau wilayah terpencil menuju fasilitas kesehatan rujukan.

“Masalah kematian ibu dan bayi ini terkait banyak hal, termasuk masalah akses, transportasi, pengiriman rujukan dari daerah terpencil, terutama yang di desa-desa,” katanya.

Yuwana mencontohkan kondisi di Kecamatan Sangkulirang. Dalam kondisi tertentu, pasien yang membutuhkan penanganan di rumah sakit harus dievakuasi menggunakan transportasi air.

“Untuk dikirim ke rumah sakit itu kadang terkendala. Misalnya Sangkulirang harus lewat speed,” jelasnya.

Selain kendala rujukan, Dinkes Kutim masih menemukan kasus kematian ibu melahirkan yang berkaitan dengan kondisi medis tertentu, salah satunya perdarahan. Kondisi tersebut dinilai membutuhkan deteksi dan penanganan sedini mungkin.

Karena itu, Dinkes mendorong setiap ibu hamil melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin.

Pemeriksaan dianjurkan sedikitnya enam kali selama masa kehamilan untuk memantau kondisi ibu dan janin sekaligus mendeteksi potensi risiko lebih awal.

“Jadi kita selalu sosialisasikan bagaimana caranya supaya pemeriksaan kehamilan untuk ibu hamil itu minimal enam kali selama kehamilan,” ucapnya.

Bagi ibu hamil yang masuk kategori risiko tinggi, Dinkes juga menganjurkan agar tidak menunggu hingga mendekati persalinan untuk menuju fasilitas rujukan. 

Ibu hamil sebaiknya sudah berada di wilayah yang memiliki akses rumah sakit sebelum memasuki perkiraan waktu persalinan.

“Untuk ibu hamil yang berisiko tinggi, sebelum waktu perkiraan lahir kalau bisa dia sudah berada di tempat yang ada rumah sakit pusat rujukan. Misalnya ke Sangkulirang, ke Sangatta,” pungkasnya.