Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Pengembangan kakao di Kabupaten Berau mulai diarahkan tidak hanya mengejar peningkatan produksi, tetapi juga memastikan kebun tetap mampu bertahan dalam jangka panjang.
Salah satu pendekatan yang mulai diperkuat adalah sistem agroforestri, yakni mengembangkan tanaman kakao berdampingan dengan tanaman lainnya dalam satu kawasan.
Langkah tersebut dilakukan melalui kolaborasi CAN Borneo bersama Dinas Perkebunan Kabupaten Berau dalam program “Empowering Farmer for Sustainable Cacao”. Pelatihan menyasar petani di sejumlah kampung, di antaranya Kampung Sido Bangen, Long Beliu/Long Gie dan Lesan Dayak.
Plt Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, M. Hendratno, mengatakan penguatan kapasitas petani menjadi bagian penting dalam membangun komoditas kakao yang memiliki nilai ekonomi sekaligus tetap memperhatikan kondisi lingkungan.
“Kakao ini memiliki peluang untuk terus dikembangkan di Berau. Namun, peningkatan produksi harus dibarengi dengan cara budidaya yang baik dan berkelanjutan. Karena itu, petani perlu mendapatkan pengetahuan yang benar, mulai dari pemeliharaan sampai bagaimana menjaga produktivitas kebun dalam jangka panjang,” ujar Hendratno.
Menurutnya, pendekatan agroforestri dapat menjadi salah satu pilihan karena pengelolaan kebun tidak hanya berorientasi pada satu jenis tanaman. Sistem tersebut juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan tumbuh yang lebih baik sekaligus memberikan peluang tambahan bagi petani.
Hendratno menilai pendampingan secara langsung di kebun menjadi hal yang tidak kalah penting. Sebab, pengetahuan yang diperoleh melalui pelatihan akan lebih mudah diterapkan apabila petani melihat dan mempraktikkannya secara langsung.
“Yang kita harapkan bukan hanya petani memahami teori, tetapi bisa menerapkannya di kebun masing-masing. Pendampingan seperti ini harus terus dilakukan agar keterampilan petani semakin kuat dan hasil kebunnya juga meningkat,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, Tim Teknis Dinas Perkebunan Berau memberikan materi mengenai budidaya kakao berbasis agroforestri. Peserta tidak hanya mendapatkan penjelasan teknis, tetapi juga diajak melihat penerapan metode tersebut secara langsung di lapangan.
Di Kampung Lesan Dayak, misalnya, sebanyak 15 petani mengikuti pelatihan dengan praktik lapangan yang dilaksanakan di kebun milik Lasiman. Sementara kegiatan yang melibatkan petani dari Kampung Sido Bangen dan Long Beliu/Long Gie diikuti sekitar 20 peserta.
Program ini juga melibatkan pemerintah kampung, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) dan petugas SIGAP. Keterlibatan banyak pihak dinilai penting agar pengembangan kakao tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi berlanjut dalam bentuk pendampingan dan penerapan di tingkat kebun.
Bagi Dinas Perkebunan Berau, pengembangan kakao menjadi peluang untuk memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan. Dengan pengelolaan yang tepat, komoditas tersebut diharapkan mampu memberikan tambahan pendapatan bagi petani sekaligus dikembangkan tanpa mengabaikan keberlanjutan lingkungan.
Kolaborasi dengan CAN Borneo pun diharapkan menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan petani mengenai praktik perkebunan yang lebih adaptif. Dengan begitu, petani kakao di Berau tidak hanya dituntut menghasilkan lebih banyak, tetapi juga mampu menjaga kualitas dan keberlangsungan kebunnya.
“Kita ingin petani semakin mandiri dan percaya diri mengelola kebunnya. Kalau kapasitas petani meningkat, produktivitas dan kualitas kakao juga punya peluang untuk ikut meningkat,” pungkas Hendratno. (Adv)



