Reporter: Nur Hidayah | Editor: Bambang Irawan
TANJUNG REDEB – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Berau terus diperkuat dengan melibatkan masyarakat hingga tingkat kampung. Salah satunya melalui pembentukan Kelompok Tani Peduli Api (KTPA) di Kampung Labanan Jaya.
Pembentukan kelompok ini dinilai penting karena masyarakat, khususnya petani, merupakan pihak yang paling dekat dengan lahan dan dapat menjadi mata pertama dalam mendeteksi potensi kebakaran.
Melalui KTPA, petani tidak hanya diarahkan untuk ikut melakukan pencegahan, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan ketika muncul titik api. Mereka diharapkan mampu melakukan pemantauan lingkungan, melaporkan indikasi kebakaran serta mengambil langkah awal sebelum api meluas.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Berau, M. Hendratno, mengatakan keterlibatan petani menjadi salah satu kunci dalam memperkuat pencegahan Karhutla, terutama saat kondisi cuaca panas dan curah hujan menurun.
“Petani ini yang paling dekat dengan lahannya. Karena itu, kepedulian dan kesiapsiagaan mereka sangat penting untuk mencegah api sejak awal,” ujar Hendratno.
Ia menambahkan, keberadaan KTPA juga diharapkan dapat membangun kebiasaan baru dalam pengelolaan lahan. Masyarakat didorong untuk menghindari pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar yang berpotensi menimbulkan kebakaran tidak terkendali.
Menurutnya, pencegahan Karhutla tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah maupun aparat. Dibutuhkan kesadaran bersama dari masyarakat, pemerintah kampung dan seluruh pihak yang beraktivitas di sekitar kawasan perkebunan.
“Yang paling utama adalah bagaimana kita mencegah api itu muncul. Kalau masyarakat sudah peduli dan cepat melapor ketika ada tanda-tanda kebakaran, potensi meluasnya api bisa ditekan,” katanya.
Pembentukan KTPA Kampung Labanan Jaya sekaligus menjadi bagian dari penguatan sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga kawasan perkebunan serta lingkungan. Ke depan, kelompok tersebut diharapkan aktif melakukan pemantauan dan menjadi bagian dari sistem kewaspadaan Karhutla di tingkat kampung.
Dengan semakin banyaknya kelompok masyarakat yang terlibat, upaya pencegahan Karhutla di Berau diharapkan tidak hanya dilakukan ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi dimulai sejak sebelum munculnya titik api. (Adv)



