Robenson Soroti Ketergantungan Produk Luar, Potensi Lokal Kaltara Jangan Disia-siakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem. (Foto: Istimewa)
Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Robenson Soroti Ketergantungan Produk Luar, Potensi Lokal Kaltara Jangan Disia-siakan

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem. (Foto: Istimewa)
Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem. (Foto: Istimewa)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Robenson Soroti Ketergantungan Produk Luar, Potensi Lokal Kaltara Jangan Disia-siakan

Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem. (Foto: Istimewa)

TANJUNG SELOR – Potensi pangan lokal di Kalimantan Utara dinilai masih sangat besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi. Pengembangan tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan penguatan ekonomi kreatif dan pembinaan pelaku usaha lokal.

Ketua Komisi II DPRD Kaltara, Pdt. Robenson Tadem, mengatakan banyak komoditas lokal yang sebenarnya dapat diolah menjadi produk konsumsi maupun oleh-oleh dengan nilai jual lebih tinggi.

Menurutnya, singkong, ubi jalar, keladi hingga madu merupakan sejumlah komoditas yang potensial dikembangkan. Pengolahan dan kemasan menjadi bagian penting agar produk tersebut mampu bersaing.

“Banyak potensi Kaltara, bagaimana singkong berubah menjadi apa, keladi menjadi apa. Daripada kita pesan dari luar, potensi lokal masih banyak,” kata Robenson, baru baru ini.

Ia mencontohkan kebutuhan kentang yang selama ini masih didatangkan dari daerah lain. Padahal, Kaltara memiliki ubi jalar yang menurutnya tidak kalah dari sisi rasa maupun kandungan gizi.

“Kalau ditanya saya sebagai ketua komisi, mana pilih kentang atau ubi jalar? Tetap saya pilih ubi jalar. Rasanya enak, gizinya juga,” ujarnya.

Robenson menilai tantangannya tinggal bagaimana komoditas tersebut diolah dan dikemas secara menarik. Karena itu, pemerintah melalui instansi terkait perlu memperkuat pemberdayaan dan pembinaan terhadap pelaku ekonomi kreatif.

Potensi serupa, kata dia, juga terdapat di wilayah perbatasan. Salah satunya madu yang tersedia cukup melimpah, tetapi belum seluruhnya dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

“Di daerah perbatasan madu tersedia luar biasa, melimpah. Kenapa tidak dimanfaatkan? Ini kearifan lokal,” katanya.

Menurut Robenson, pengembangan produk lokal juga dapat mengurangi biaya distribusi, terutama untuk kebutuhan masyarakat di wilayah perbatasan yang memiliki biaya angkutan cukup tinggi.

“Bawa satu kilogram lewat pesawat ada yang Rp27 ribu, ada yang Rp50 ribu. Kenapa tidak kita produksi di sana?” ucapnya.

Ia menilai pemerintah provinsi dan kabupaten perlu memiliki keterkaitan program agar potensi lokal tersebut tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi berkembang menjadi produk ekonomi kreatif yang memberi manfaat bagi masyarakat. (Adv)