Kabut Asap Selimuti Pulau Nunukan, Jarak Pandang Turun hingga 1,5 Kilometer

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Peta kemudahan terbakar dari BMKG. (Foto: BMKG Nunukan)
Peta kemudahan terbakar dari BMKG. (Foto: BMKG Nunukan)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kabut Asap Selimuti Pulau Nunukan, Jarak Pandang Turun hingga 1,5 Kilometer

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Peta kemudahan terbakar dari BMKG. (Foto: BMKG Nunukan)
Peta kemudahan terbakar dari BMKG. (Foto: BMKG Nunukan)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

Kabut Asap Selimuti Pulau Nunukan, Jarak Pandang Turun hingga 1,5 Kilometer

Peta kemudahan terbakar dari BMKG. (Foto: BMKG Nunukan)

Reporter: Diansyah | Editor: Bambang Irawan

NUNUKAN - Kondisi udara kabur akibat kabut asap kembali menyelimuti Pulau Nunukan sejak Minggu (30/8/2026). Fenomena tersebut dipengaruhi pergerakan asap dari sejumlah wilayah yang terbawa angin menuju Pulau Nunukan dan sekitarnya.

Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi BMKG Nunukan, Rayhan, mengatakan pihaknya terus memantau kondisi atmosfer dan kualitas udara berdasarkan data BMKG serta Kementerian Kehutanan.

Berdasarkan pemantauan satelit pada Minggu sekira pukul 01.00 hingga 19.00 WITA, terdeteksi 76 titik panas atau hotspot di Kabupaten Nunukan.

Jumlah tersebut mengalami penurunan cukup signifikan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 29 Agustus 2026, tercatat sebanyak 315 titik panas di Kabupaten Nunukan berdasarkan pemantauan pukul 01.00 hingga 22.00 WITA.

"Untuk Kabupaten Nunukan sendiri, terdapat satu titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang di wilayah Lumbis," kata Rayhan.

Sementara itu, kondisi berbeda terlihat di wilayah Kalimantan Timur. Berdasarkan pemantauan yang sama, terdeteksi sebanyak 590 titik panas di provinsi tersebut. Dari jumlah itu, 14 titik panas memiliki tingkat kepercayaan tinggi.

Menurut Rayhan, keberadaan titik panas di wilayah sekitar menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai, terutama ketika kondisi atmosfer dan arah angin mendukung pergerakan asap menuju wilayah Nunukan.

Data dinamika atmosfer BMKG pada 30 Agustus menunjukkan angin permukaan bertiup dari arah tenggara hingga barat daya dan bergerak menuju barat laut hingga timur laut dengan kecepatan sekitar 3 hingga 11 knot.

Pola angin tersebut memungkinkan sebaran asap dari wilayah sumber bergerak hingga ke Pulau Nunukan dan daerah sekitarnya.

"Pergerakan angin ini membawa sebaran asap mengarah hingga Pulau Nunukan dan sekitarnya, sehingga memicu kondisi udara kabur dan penurunan jarak pandang," jelasnya.

Jarak pandang di wilayah Nunukan tercatat berada pada kisaran 1,5 hingga 6 kilometer.

Kondisi tersebut menyebabkan udara terlihat berkabut dan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya pengguna jalan maupun masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan.

Selain arah angin, kondisi lahan juga menjadi perhatian. Berdasarkan peta tingkat kemudahan terbakar, kawasan pesisir dan sebagian besar dataran di Kalimantan Utara berada dalam kategori mudah hingga sangat mudah terbakar.

Kondisi tersebut dipengaruhi ketersediaan bahan yang mudah terbakar serta rendahnya kelembapan bahan di permukaan lahan. Situasi itu berpotensi mempercepat muncul dan meluasnya titik api apabila terjadi pemicu kebakaran.

Dari sisi kualitas udara, pemantauan konsentrasi partikulat halus PM2,5 di Kalimantan Utara secara umum berada pada level sedang hingga tidak sehat.

Untuk Kabupaten Nunukan, konsentrasi PM2,5 berada pada kisaran 15,6 hingga 55,4 mikrogram per meter kubik. Berdasarkan pemantauan tersebut, kondisi kualitas udara saat ini berada dalam kategori sedang.

BMKG Nunukan bersama tim satuan tugas gabungan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi di lapangan.

Rayhan mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di Pulau Nunukan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kondisi udara masih kabur akibat asap.

Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan mencukupi kebutuhan cairan, tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, serta menggunakan masker apabila harus beraktivitas atau bepergian ke luar rumah.

"Kami terus berupaya berkoordinasi dengan tim satuan tugas gabungan yang memantau kondisi di lapangan. Kami mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, tetap terhidrasi, tidak membakar sampah sembarangan, dan menggunakan masker jika harus bepergian," pungkasnya.