Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Musim Kemarau mulai mengancam ketersediaan air baku di Kota Samarinda. Intrusi air laut ke Sungai Mahakam membuat kadar klorida di sejumlah intake sempat mencapai ambang batas, sehingga produksi air harus dihentikan sementara demi menjaga kualitas air yang didistribusikan kepada masyarakat.
Wali Kota Samarinda, Andi Harun, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah menetapkan situasi darurat kekeringan dan kemarau hingga 7 September 2026.
Ia menyebut sejumlah wilayah seperti Palaran, Bantuas, Bukuan, dan Pulau Atas mulai terdampak intrusi air laut. Dalam beberapa hari terakhir, ia mengatakan terdapat intake yang sempat mengalami peningkatan kadar klorida hingga ambang batas produksi.
“Kalau air terintrusi air laut, dan kloridanya naik pada 250 ppm, maka intake produksi kita stop demi untuk menjaga kesehatan masyarakat,” kata Andi Harun.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah bersama Perumdam Tirta Kencana melakukan pemantauan kadar klorida secara berkala. Bahkan, pemeriksaan dilakukan setiap jam agar produksi air dapat segera kembali dijalankan ketika kadar klorida turun di bawah ambang batas.
“Pokoknya setiap jam kita tes lagi, supaya pada saat kloridanya turun mesinnya kita hidupkan lagi untuk produksi air,” ujarnya.
Menurut Andi Harun, kondisi kadar klorida dalam beberapa hari terakhir sempat membaik setelah hujan turun di wilayah hulu Kabupaten Kutai Kartanegara. Air hujan dari wilayah hulu yang mengalir ke arah Samarinda turut membantu menurunkan kadar klorida di Sungai Mahakam.
“Alhamdulillahnya, walaupun ada yang ditutup di pagi hari, sore bisa kita aktifkan lagi karena beberapa hari yang lalu di daerah hulu, Kukar, itu sekitar Kota Bangun sempat turun hujan,” bebernya.
Ia berharap hujan kembali turun dalam satu hingga dua hari ke depan sehingga kondisi air baku dapat semakin membaik.
Namun, ancaman kekeringan tidak hanya berdampak pada kualitas air baku. Berkurangnya sumber air juga mulai dirasakan pada sejumlah instalasi pengolahan air.
Sejak 23 Agustus, Perumdam Tirta Kencana telah mengimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak kemarau. Beberapa wilayah yang terdampak intrusi air laut antara lain IPA Palaran, Pulau Atas, Makroman, dan Bantuas.
Sementara itu, beberapa IPA lainnya yang mengalami penurunan debit air baku, yakni IPA Pampang, Gunung Lingai, Bengkuring, dan Bumi Sempaja.
Masyarakat pun diimbau untuk menampung air secukupnya serta menggunakan air secara bijak selama kondisi kemarau berlangsung.
Di tengah ancaman kekeringan, Andi Harun juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi longsor ketika hujan mulai turun. Menurutnya, kondisi tanah di Samarinda yang didominasi tanah lempung berpasir membuat tanah mudah mengering dalam kondisi kemarau panjang.
“Begitu datang hujan, itu bisa langsung mendorong dan berpotensi mengakibatkan longsor,” katanya.
Ia berharap hujan yang turun nantinya berlangsung secara bertahap agar tanah dapat menyerap air secara perlahan dan menjadi lebih stabil.
Sementara itu, berdasarkan prediksi BMKG, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga September dan berpotensi baru berakhir pada awal Oktober. Pemerintah pun meminta masyarakat tetap menghemat penggunaan air dan meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.


