14.795 Hotspot Terdeteksi di Kaltim, Terbanyak di Berau Disusul Kutim dan Kukar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Pemantauan real-time karhutla di Provinsi Kaltim. (Foto: Kementerian Kehutanan RI 31 Agustus 2026)
Pemantauan real-time karhutla di Provinsi Kaltim. (Foto: Kementerian Kehutanan RI 31 Agustus 2026)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

14.795 Hotspot Terdeteksi di Kaltim, Terbanyak di Berau Disusul Kutim dan Kukar

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
1 menit baca
Pemantauan real-time karhutla di Provinsi Kaltim. (Foto: Kementerian Kehutanan RI 31 Agustus 2026)
Pemantauan real-time karhutla di Provinsi Kaltim. (Foto: Kementerian Kehutanan RI 31 Agustus 2026)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

14.795 Hotspot Terdeteksi di Kaltim, Terbanyak di Berau Disusul Kutim dan Kukar

Pemantauan real-time karhutla di Provinsi Kaltim. (Foto: Kementerian Kehutanan RI 31 Agustus 2026)

Reporter: Herdiansyah l Editor: Bambang Irawan 

SAMARINDA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah puncak musim kemarau yang berlangsung pada Agustus 2026.

Penanganan dilakukan secara terpadu melalui penguatan pencegahan, pemantauan intensif serta respons cepat terhadap titik api yang terdeteksi di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi Gunawan, mengatakan berdasarkan pemantauan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim periode 1 hingga 26 Agustus 2026, tercatat sebanyak 14.795 hotspot yang tersebar di berbagai wilayah Kaltim.

Ia mengatakan, bahwa  Kabupaten Berau menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni mencapai 6.004 titik. Disusul Kutai Timur sebanyak 3.003 titik, Kutai Kartanegara 2.426 titik, dan Kabupaten Paser sebanyak 1.934 titik.

"Dari total tersebut, sebanyak 820 titik berada pada tingkat kepercayaan tinggi yang menjadi fokus pemadaman tim gabungan," kata Buyung.

Menurut Buyung, langkah penanganan tersebut diperkuat dengan sistem pemantauan secara real-time selama 24 jam. Pemantauan dilakukan dengan membangun sinergi bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kementerian Kehutanan.

Ia menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika api telah membesar. Kesiapsiagaan dibangun sebagai sebuah sistem yang mencakup seluruh tahapan, mulai dari pencegahan hingga penanganan di lapangan.

"Penanganan karhutla di Kaltim bukan hanya saat api membesar, melainkan menjadi ekosistem kesiapsiagaan dari hulu ke hilir," tegasnya.

BPBD Kaltim juga terus memperkuat dukungan kepada pemerintah kabupaten dan kota melalui penguatan logistik serta kesiapan Tim Reaksi Cepat (TRC).

"Kami mengingatkan seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki potensi karhutla tinggi selama musim kemarau," tutupnya.