Reporter: Lutfi Aziz | Editor: Buniyamin
BONTANG – Pemerintah Kota Bontang meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyusul 15 kejadian yang tercatat sepanjang periode pemantauan, dengan total luas lahan terbakar mencapai sekitar 16 hektare.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menilai angka tersebut tidak bisa dianggap kecil. Pasalnya, Kota Bontang memiliki wilayah yang relatif terbatas, yakni hanya sekitar 16 ribu hektare.
“Kota Bontang ini kecil, hanya sekitar 16 ribu hektare. Jadi sebetulnya bahaya juga kalau terjadi kebakaran,” ujar Neni dalam sosialisasi pencegahan karhutla di Bontang, Selasa (1/9/2026).
Neni menyebut kawasan hutan yang paling luas terdampak kebakaran berada di Kelurahan Bontang Lestari. Selain itu, kejadian serupa juga ditemukan di sekitar Guntung dan Sidrap.
Dari laporan yang diterimanya, delapan kejadian karhutla terjadi di Kecamatan Bontang Barat dengan luas lahan terbakar sekitar 6,11 hektare. Sementara kejadian lainnya tersebar di wilayah Bontang Selatan dan Bontang Utara.
Menurut Neni, kondisi tersebut harus menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk memperkuat pencegahan. Terlebih, musim kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober atau November berdasarkan prakiraan BMKG.
“Jangan sampai kita hanya bergerak ketika kebakaran sudah terjadi. Kita harus mengedepankan pencegahan,” tegasnya.
Ia menekankan penanganan karhutla tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah. Perusahaan dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah munculnya titik api dan mengantisipasi penyebaran kebakaran.
Pemkot Bontang bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pun terus melakukan sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai bahaya karhutla.
Selain memperkuat pencegahan, Neni meminta setiap kejadian kebakaran diinvestigasi untuk mengetahui penyebabnya. Menurutnya, pemadaman saja tidak cukup apabila sumber dan faktor pemicu kebakaran tidak diketahui.
“Kita jangan hanya memadamkan saja. Diinvestigasi apakah memang ingin membuka lahan atau membakar. Perilaku seperti itu harus diubah,” katanya.
Neni juga meminta masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah secara terbuka. Kebiasaan tersebut selain menghasilkan asap yang berbahaya bagi kesehatan, juga berpotensi menjadi sumber api yang merembet ke lahan kering.
Ia bersyukur kebakaran yang terjadi di Bontang sejauh ini tidak berada di kawasan lahan gambut. Kondisi tersebut membuat proses penanganan kebakaran relatif lebih mudah.
Neni turut mengapresiasi BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, perusahaan, dan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan karhutla. Sinergi tersebut diharapkan terus diperkuat agar kebakaran tidak meluas selama musim kemarau.


