51 Hotspot Terdeteksi di Kutim, 31 Personel TNI Disiagakan Bantu Tangani Karhutla

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Lahan terbakar di Sangatta Kutai Timur. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Lahan terbakar di Sangatta Kutai Timur. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

51 Hotspot Terdeteksi di Kutim, 31 Personel TNI Disiagakan Bantu Tangani Karhutla

P

Ditulis oleh

PusaranMedia.com
2 menit baca
Lahan terbakar di Sangatta Kutai Timur. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)
Lahan terbakar di Sangatta Kutai Timur. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Suka artikel ini? Bagikan ke teman Anda.

Diskusi

Komentar

Memuat komentar...

51 Hotspot Terdeteksi di Kutim, 31 Personel TNI Disiagakan Bantu Tangani Karhutla

Lahan terbakar di Sangatta Kutai Timur. (Foto: Siswandi/Pusaranmedia.com)

Reporter: Siswandi | Editor: Bambang Irawan 

SANGATTA – Sebanyak 51 titik panas atau hotspot terpantau di delapan kecamatan di Kutim.

Dua di antaranya masuk kategori tinggi dan menjadi perhatian karena berpotensi memicu Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Kondisi tersebut mendorong penambahan kekuatan personel di lapangan. Sebanyak 31 personel Yonif TP 879/Rangkok Cakti disiagakan untuk membantu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim dalam penanganan Karhutla.

Kepala BPBD Kutim, Sulastin mengatakan, puluhan personel tersebut akan ditempatkan di BPBD dan disiagakan selama 24 jam.

“Kalau yang 31 orang itu dari Yonif 879. Mereka akan membantu kita dalam penanganan Karhutla dan standby 24 jam di BPBD,” ujar Sulastin usai mengikuti audiensi bersama Mabes TNI dan Bupati Kutim.

Dari 51 hotspot yang terpantau, Kecamatan Bengalon menjadi salah satu wilayah dengan jumlah titik panas cukup banyak. Meski sebagian besar berada pada kategori sedang, dua titik tercatat dalam kategori tinggi.

“Hotspot ada 51 yang tersebar di delapan kecamatan. Banyak di Bengalon. Masih kelas menengah, hanya dua yang tinggi,” katanya.

Selain menyiapkan personel untuk respons di lapangan, upaya pencegahan juga dilakukan melalui sosialisasi. 

Sebanyak 12 personel dari Mabes TNI dan Sesko yang baru tiba di Kutim akan memberikan penyuluhan kepada masyarakat di wilayah yang memiliki potensi maupun riwayat Karhutla.

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 7 September 2026. Kecamatan Bengalon menjadi lokasi awal penyuluhan, sebelum dilanjutkan ke Muara Wahau dan Kongbeng.

“Untuk penyuluhan sudah kita buat jadwalnya. Awalnya di Bengalon, kemudian ke Muara Wahau dan Kongbeng,” jelas Sulastin.

Di sisi lain, BPBD masih melakukan koordinasi dengan sejumlah unsur untuk memperkuat penanganan apabila terjadi kebakaran. 

TNI AL turut memberikan dukungan berupa titik air yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan tim di lapangan.

Penempatan 31 personel tambahan nantinya akan disesuaikan dengan kondisi di masing-masing wilayah. 

BPBD masih mengkaji pola kolaborasi, termasuk kemungkinan menggabungkan personel tersebut dengan tim yang telah bergerak di Muara Wahau dan Kongbeng.

“Nanti akan kita atur, apakah tim digabung ke Wahau-Kongbeng atau bagaimana pola kolaborasinya,” ujar Sulastin.

Menurut Sulastin, penanganan Karhutla tidak hanya bergantung pada kecepatan petugas ketika api sudah muncul. 

Pencegahan melalui edukasi masyarakat tetap diperlukan, terutama di wilayah yang memiliki potensi kebakaran.

Sebagai informasi, dengan masih ditemukannya hotspot di sejumlah kecamatan, BPBD kini memperkuat dua sisi penanganan, yakni kesiapan personel untuk merespons kebakaran sekaligus meningkatkan upaya pencegahan di wilayah rawan.