Reporter: Tri Agustini | Editor: Bambang Irawan
SAMARINDA - Kondisi kemarau dan munculnya asap dari kebakaran lahan mulai berdampak pada kesehatan masyarakat di Samarinda.
Dinas Kesehatan Kota Samarinda mencatat kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mengalami peningkatan sekitar 22 persen pada Agustus dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Samarinda, Ismid Kusasih, mengatakan ISPA memang menjadi salah satu penyakit yang selalu mendominasi kasus kesehatan. Namun, peningkatan pada Agustus dinilai perlu menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan kondisi lingkungan yang kering.
Menurutnya, kenaikan kasus tersebut juga bisa dipicu oleh asap dan debu akibat kebakaran lahan yang terjadi ketika sejumlah wilayah di Kalimantan, termasuk Samarinda.
“Yang 22 persen itu khusus Agustus kita pantau. Kita bandingkan dengan bulan Juni, ternyata terjadi peningkatan sekian persen, 22 persen. Artinya kemungkinan besar potensi ada hubungan dengan keadaan,” jelas Ismid.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kalimantan Timur, kasus ISPA di Samarinda sejak Januari hingga periode pendataan terakhir mencapai 48.230 kasus. Angka tersebut menempatkan Samarinda sebagai salah satu daerah dengan jumlah kasus ISPA tinggi kedua di Kalimantan Timur.
Namun, Ismid mengatakan tingginya angka kumulatif tersebut juga perlu dilihat berdasarkan jumlah penduduk. Samarinda merupakan salah satu kota dengan jumlah penduduk terbesar di Kalimantan Timur.
Ia menegaskan, ISPA tidak hanya muncul ketika terjadi kekeringan. Penyakit tersebut memang termasuk penyakit yang secara rutin mendominasi kasus kesehatan masyarakat.
“Jangan lupa ISPA itu ada atau tidak ada kekeringan, dia penyakit yang selalu mendominasi dari jumlah penyakit,” ujarnya.
Sementara itu, Ismid mengatakan meski kasus ISPA meningkat, kondisi saat ini belum menunjukkan peningkatan kasus berat yang membutuhkan penanganan rumah sakit. Sebagian besar kasus masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan klinik.
Deteksi dini dianggap penting agar ISPA tidak berkembang menjadi penyakit yang lebih berat dan membutuhkan perawatan lanjutan di rumah sakit.
Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan gejala ISPA dan segera memeriksakan diri apabila mengalami keluhan yang mengganggu saluran pernapasan.
Di sisi lain, pemerintah terus melakukan pemantauan kondisi kesehatan masyarakat seiring berlangsungnya kemarau dan meningkatnya potensi paparan asap serta debu akibat kebakaran lahan.
“Jadi semakin cepat kita deteksi, semakin cepat kita melakukan hal-hal untuk mencegah terjadinya potensi ke penyakit yang berat,” bebernya.
Di tengah kondisi tersebut, Wali Kota Samarinda, Andi Harun, meminta masyarakat meningkatkan perlindungan diri, terutama ketika beraktivitas di luar rumah.
Menurutnya, debu dan partikulat dari kondisi udara dapat mengganggu kesehatan, terutama partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk hingga ke saluran pernapasan.
“Jalan keluarnya adalah, untuk sampai pada masalah ini teratasi, ayo kita kembali pakai masker,” kata Andi Harun.
Ia menyebut penggunaan masker menjadi langkah preventif yang paling mudah dilakukan masyarakat selama kondisi udara belum kembali normal. Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan apabila mengalami gangguan pernapasan.
Selain ISPA, Andi Harun mengingatkan masyarakat terhadap penyakit lain yang berpotensi meningkat selama kemarau, termasuk diare dan penyakit kulit yang berkaitan dengan ketersediaan maupun kualitas air.
Karena itu, masyarakat diimbau menampung air secukupnya dan menggunakannya secara bijak, terutama di wilayah yang mulai terdampak berkurangnya pasokan air maupun intrusi air laut.
“Ditampung air secukupnya, tapi tidak usah berlebih-lebihan supaya masyarakat lain juga bisa kebagian,” ujarnya.
Andi Harun juga mengingatkan masyarakat bahwa paparan debu dan asap dapat menyebabkan iritasi mata, tenggorokan hingga gangguan saluran pernapasan.


